Ketakutan

1315 Kata
Aisyah prillyana safitri Seminggu sudah aku tak pernah berjumpa dengan ali setelah ucapan papa yang memberitahukanku jika aku sudah di khitbah oleh ali. Wanita mana yang tak bahagia jika dia akan menikah, sama halnya denganku. Aku sungguh bahagia saat papa berbicara seperti itu. Tapi aku juga merasa takut, takut jika ali tak akan bisa menerima aku yang dulu. Awal jumpa dengannya pun kita tak berbicara baik. Bagaimana bisa dia mau menikahiku. Saat itu juga perasaanku menjadi berubah drastis. Ali adalah lelaki idaman setiap wanita, dia tampan sholeh dan pekerja keras. Sedangkan aku, aku artis yang dengan masa lalu yang kelam. Bagaimana reaksi keluarganya yang aku tahu sangat taat sekali dengan agamanya. Hari ini kata ayla aku akan ke kantornya ali, majalah kemarin sudah terbit. Dan rencananya akan ada foto berikutnya dengan tema yang belum aku tahu. Mungkin hari ini aku bisa bertemu dengannya. Walaupun aku juga tak berharap banyak dengannya. "Sstt... loe deg-degan ya mau ketemu ama calon laki loe.!!! Yaaa ayla sudah kuberitahu saat setelah ali datang kerumah. Dia terkejut mengetahuinya. Tapi dia juga memberikanku selamat. "Gue gak mau berharap ay... loe tahu sejak itu dia gak pernah ngelihatin mukanya ke gue. "Yaelah,, kali ajah dia lagi sibuk. Atau luar kota mungkin. Aku mengedikan bahu tanda tak tahu. Kuajak ayla untuk cepat masuk keruangan meeting hari ini. Entah mengapa jantungku berdetak sangat cepat. "Bismillahirohmanirrohim.. ucapku saat hendak membuka pintu ruangan. Kuhelakan nafas lega saat kulihat hanya ada manager majalah tersebut dan rossa sekretarisnya ali. Kupandangi rossa dengan intens, dia cantik ramah dan berhijab juga. Sepertinya dia lebih pantas dengan ali daripada aku. Ceklek.... kami pun menoleh kearah pintu yang terbuka. Ya allah, dia ada disini. Sepertinya dia juga terkejut dengan kedatanganku. Tapi kenapa mukanya jadi berbeda saat melihatku. Hah... sepertinya benar dugaanku. Dia tak mungkin bersungguh-sungguh denganku. "Selamat siang. Bisa kita mulai sekarang meetingnya. Kita semua mengangguk. Tapi aku memandangnya dengan intens. Kenapa dia seakan tak mengenaliku. Pak roger sang manager pun menjelaskan jika tema untuk next project adalah foto keluarga, jadi beliau meminta aku dan ali untuk berfoto layaknya keluarga dan seorang anak kecil. Pak roger berkata banyak yang suka dengan fotoku dan ali. Ternyata banyak juga yang masih mendukungku. "Bagaimana menurut anda pak ali. Dengan sedikit gelagapan ali menjawab pertanyaan dari pak roger. Sebenarnya apa yang ada difikarannya saat ini. "Semua terserah dari pihak model wanitanya. Jika dia merasa keberatan maka tak perlu. Jawabnya yang membuatku menatapnya tajam. Bagaimana bisa dia menjawab seperti itu. "Saya setuju.. tidak masalah buat saya karena saya juga suka anak kecil. Tapi,,, Ali segera memotong ucapanku. Aku tahu pasti dia akan menolak jika model wanitanya adalah aku. "Tidak perlu takut nona prilly, saya akan mencarikan model lelaki yang pas untuk itu. Aku sangat terkejut, aku tak rela jika aku harus berfoto dengan lelaki lain selain dirinya. Apalagi tema majalah ini keluarga. Kenapa dalam sekejap dia bisa berubah. "Ehm.. maaf pak ali. Bukankah lebih baik jika pak ali saja yang menjadi modelnya. Karena ini meneruskan dari tema sebelumnya yang sudah tercetak. Ayla yang seakan tahu isi hatiku ikut menimpali. Tapi ali hanya menggelengkan kepalnya. Apakah tandanya dia menolak. "Saya bukanlah seorang model, jadi saya tak pantas untuk meneruskannya. Aku menatap wajahnya seakan meminta berbicara dengannya. Saat dia menoleh kearahku. "Kenapa harus mencari yang lain jika pak ali sudah pas dan mampu untuk bisa berfoto bersama saya. Sergahku dengan nada yang sedikit kesal. "Atau anda takut jika kekasih anda., atau mungkin istri anda akan marah dan cemburu. Lanjutku lagi. Dia tersenyum dan menggelengkan kepala. "Sepertinya calon istri saya tidak akan cemburu. Karena calon istri saya juga tak terlalu perduli dengan kehidupan saya. Whaatt... apa maksutnya tidak perduli. Seminggu aku menunggunya untuk datang kepadaku tapi apa. "Lalu bagaimana,,,?? Apakah ini akan dilanjut. Tanya ayla padanya. "Baiklah, rossa atur jadwal saya lagi untuk ini. Dan berikan kontrak kerja lagi kepada nona prilly. "Baik pak ali. Jawab rossa dengan wajah yang sangat cantik saat tersenyum. Hah,, kenapa aku jadi goyah begini. Belum berperang sudah menyerah. Aku berjalan kearah ali, aku ingin berbicara lebih lanjut dengannya. "Bisa saya berbicara berdua dengan pak ali sebentar. Dia terkejut karena aku sudah berada disampingnya. Dia mengangguk dan berdiri mengajakku untuk berbicara sedikit menjauh dari ruangan meeting tadi. "Apa kamu menyesal telah menghitbahku. Atau kamu mulai sadar jika memang aku bukanlah yang pas untuk kamu jadikan istri. Sesaat setelah kurasa kita sudah menjauh dari ruangan. Dia segera berbalik menatapku tajam. "Apa maksutmu prilly,,??. "Kamu datang kepada orang tuaku untuk menghitbahku. Tapi setelah itu tak ada pembicaraan lagi. Seakan-akan kamu melupakan kejadian itu. Apa kamu fikir aku ini permainan.?? tanyaku padanya, aku sungguh kecewa dengan sikapnya. Tapi sungguh aku sangat takut melihat sorot matanya. "Aku hanya memberikanmu waktu. Aku tak mau memaksakan kamu untuk menerimaku. Apa,,?? Memberikanku waktu. "Lalu kenapa kamu dengan gampangnya datang kepada papa. Sedangkan kamu sendiri tak yakin. Tanyaku tak terima. "Yang aku inginkan hanyalah bisa menikah denganmu, karena aku merasa hanya kamu yang bisa menjadi istriku. Sungguh membingunkan. Ingin menikahiku tapi malah mengindariku. "Apa kamu mencintaiku,,?? Tanyaku memancingnya. Dia mengangguk mantap."aku mencintaimu karena takdir allah yang menuntunku. Saat pertama kali bertemu dengan kamu,di masjid entah kenapa jantungku berdetak tak normal. Sedangkan terakhir aku seperti ini ketika aku masih kuliah dulu. Jawabnya dengan pandangan yang tak pernah lepas dariku. "Lalu apakah kamu yakin jika kamu mencintaiku. Dia kembali mengangguk mantap. "Tapi aku tahu, jika cinta itu tak bisa dipaksakan. Aku hanya terlalu percaya diri jika kamu akan menerimaku hingga tak menyadari perubahan wajahmu saat kamu tahu aku telah menghitbahmu. Maafkan aku prilly.. Aku menghembuskan nafas pelan. Dia tak tahu apa yang sebenarnya aku fikirkan. "Apa kamu siap menerima istri seorang artis, artis yang masa lalunya kelam. Aku hanya takut kamu akan pergi saat kamu tahu masa lalu aku. Raut wajahnya telah berubar, dia sedikit menegang mendengar jawabanku. "Aku akan tetap dengan pendirianku. Tak perduli siapa kamu yang dulu. Karena aku menikahimu bukan dari masa lalumu tapi untuk menjadi masa depanmu. Deg.... Aku mendongak melihatnya. Kulihat tak ada kebohongan dimatanya yang hitam lekat. Kemudian dia tersenyum dan mengajakku untuk kembali kedalam ruangan. Setelah berkutat dengan kontrak baru dan jadwal rencana foto shoot. Akhirnya aku dan ayla pun berpamitan untuk pulang kerumah. "Tunggu,, aku akan mengantar kamu pulang kerumah. Aku mengangkat sebelah alisku. Apa maksutnya dia mengantarkanku pulang. Bukankah aku bisa pulang dengan ayla. "Uhmm.. "Tidak ada bantahan. Ayla kamu bisa kan pulang sendiri. Prilly biar saya yang antar. Hah dasar lelaki seenaknya saja. "Baiklah pak ali. Kalo begitu saya pulang terlebih dahulu. Prilly gue balik dulu yaah besok pagi gue jemput. Seee you beib...!!! Aku mengangguk tersenyum membalas ucapannya. Tapi mataku sedikit melihat ada guratan kecewa pada rossa. Apa dia suka dengan ali. Sepertinya dia tak terima saat ali mengajakku pulang. "Prilly.. ayo kita pulang. Jangan sampai aku pegang tanganmu sekarang. Teriaknya padaku. "Iyaa sebentar. Rossa aku pulang duluan yahh..!! Sampai ketemu... Dia menganggukan kepalanya padaku tanpa bersuara. Dasar lelaki baru juga dikasih kepercayaan sudah seperti ini. Kusejajarkam langkahku dengannya. "Ali,, kenapa kita tak mengajak rossa untuk pulang bersama.?? Tanyaku padanya. "Dia bawa mobil sendiri. Lagian arah kita juga berbeda. Jawabnya acuh. "Oow... lalu kenapa kamu mau mengantarkanku pulang. Kan aku juga bawa mobil. Skak mat.. dia berhenti. Dia menoleh kepadaku. "Karena kamu calon istriku yang harus aku jaga dan aku lindungi. Jadi aku berhak mengantarkanmu pulang. Lagian aku tak pernah semobil dengan wanita bukan muhrimku. Subhanallah.. sungguhkah itu. Dia tak pernah semobil dengan wanita. Tanpa terasa wajahku memerah. Aku tersenyum kecil mendengar jawabannya. "Kenapa..??? "Hah..??? "Kenapa kamu tersenyum,,?? "Aahh tidak.. ayo kita harus cepat pulang. Kutinggalkan dia yang terkekeh geli mendengar jawabanku. Dia pun berjalan mengejarku. Dia membukakan pintu mobil untukku. Kubalas dengan senyuman. Saat aku sudah masuk kemobil dia pun berputar untuk masuk kedalam pintu sebelahnya. Dia memasangkan salbelt untukku. Masya allah, bagaimana bisa aku tak jatuh cinta dengannya. Jika dia sangat begitu manis. Astagfirullah,, sepertinya habis ini aku harus segera sholat. Otakku menjadi tak beres jika berdekatan dengannya. ????????? Next....... Jangan lupa vote......
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN