Adi PoV Adalah Nisa, wanita yang saat itu duduk di sisi kananku, berbalut kebaya putih menghiasi tubuhnya hari ini. Wanita yang tak hentinya merekahkan senyuman paska ijab qabul membasahi lisanku, juga saat jawaban sah keluar dari para lisan saksinya. Di ruangan itu, tampak semua bahagia, kecuali aku. Bagiku rumah kecil yang kujadikan tempat mengikrar janji suci saat itu seperti gedung angker yang tak ingin kusinggahi. Atmosfernya bagai Planet Mars yang juga tak ingin kusambangi. Tepat beberapa pekan lalu memang bisa dikatakan adalah mimpi burukku. Pernikahan tanpa cinta harus kulakukan secara terpaksa. Jangan tanya bagaimana bisa?! Jika wanita di sisiku berkolaborasi dengan nyonya besar, aku bisa apa? “Nikahi Nisa, Di.” Satu kalimat itu menjadi titah yang tak bisa dibantah apabil

