Kemelut Batin.

1002 Kata

Ayu Pov. Aku bermimpi, Umar sudah tumbuh besar. Parasnya rupawan, dengan gaya rambut yang dibentuk sedemikan rupa. Dia melambaikan tangan ke arahku. Di mimpiku, aku bisa melihat diriku sendiri. Sosok yang tak menua. Bahkan... Kami terlihat seperti Adik dan Kaka. Umar tersenyum simpul kepadaku, dengan pakaian serba putih dia mulai beranjak pergi meninggalkan tempat aku berdiri. "Mau kemana?" tanyaku. "Pergi." Singkat, sembari membawa tungkainya menjauh. "Kemana!?" Mengejar aku ikuti langkahya. Umar bungkam bersama senyum madu yang ia hadiahkan. Kami bukan bermain petak umpat, akan tetapi Umar pria itu sungguh hilang dari netraku. Aku mencari, berlari gila bagai Siti Hajar mencari tetes air untuk Ismail. Bedanya, aku berteriak juga memekik, Namun pemuda itu tetap bertahan dalam hilan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN