Bab 1. Hello, Baby!
"Bukannya itu Arga, Vy?"
Pertanyaan itu meluncur dari mulut seorang perempuan berambut sebahu yang duduk di meja bar bersama seorang perempuan lainnya. Dia bertanya dengan setengah berteriak, berusaha mengalahkan suara musik yang menggema di setiap sudut ruangan yang dipenuhi asap rokok dan aroma alkohol.
Perempuan itu menggerakkan dagunya, menunjuk ke arah seorang pria yang duduk di sofa berbentuk huruf U di pojok sana. Pria itu bersama seorang perempuan yang duduk di pangkuannya.
"Gue juga liat." Livya Anastasya, perempuan yang ditanya, menjawab malas. Dia hanya menatap sekilas ke arah yang ditunjuk sahabatnya, tak ingin matanya yang tak lagi polos semakin ternoda melihat pemandangan dewasa secara langsung.
Kayla Anindya melebarkan mata, mulutnya terbuka membentuk huruf O mendengar jawaban Ivy yang seolah tak peduli. "Cuma gitu doang?" tanyanya tak percaya setelah beberapa saat. "Lo juga liat, udah gitu aja?"
Ivy memutar bola mata malas. "Terus mau lo, gue kayak gimana? Teriak-teriak nggak jelas, gitu?" Kedua tangannya mengibas kacau. "Gue nggak peduli apa pun yang dia buat. Bodo amat gue, yang penting dia nggak ganggu gue," katanya mengedikkan bahu cuek.
"Astaga, Ivy!" Kayla memekik. "Lo beneran nggak peduli? Itu Arga, suami lo lagi m***m sama cewek lain. Lo beneran nggak peduli?"
Ivy tersenyum manis mengangukkan kepala.
"Stress!" Kayla mendengkus kasar.
Beberapa meter di depan mereka, Arga Permana, suami Ivy sedang bermesraan dengan perempuan yang entah siapa, dia tidak mengenalinya. Perempuan itu duduk di pangkuan Arga dengan posisi mengangkang. Kedua tangannya melingkari leher Arga dengan erat.
Yang membuat Kayla ingin muntah sekaligus ingin menghajarnya di saat bersamaan adalah bibir kedua makhluk itu yang bertaut, saling melumat dengan rakus seolah tidak ada hari esok.
Ivy tertawa tanpa beban. "Gue bukan cewek yang cemburuan, Kay. Apalagi buat Arga, jijik banget!" katanya bergidik tanpa sadar.
"Lo beneran nggak peduli sama dia?" tanya Kayla dengan rasa ingin tahu yang sudah tidak tertahankan.
Ivy dan Arga menikah satu setengah tahun yang lalu. Pesta pernikahan yang sangat-sangat meriah antara pangeran keluarga Permana dan si cantik putri tunggal keluarga Hendrawan. Pasangan yang sangat serasi di mata mereka yang melihatnya, dan sangat bahagia.
Namun, semua tidak selalu sama seperti yang terlihat di permukaan. Hanya kedua keluarga saja yang mengetahui bagaimana pernikahan tersebut. Pernikahan bisnis yang akan menguntungkan kedua keluarga.
Hanya untuk keluarga, tetapi tidak untuk Ivy sendiri. Pernikahannya dan Arga adalah kesekian kalinya dia dimanfaatkan keluarganya untuk kepentingan mereka.
Perusahaan keluarga Hendrawan yang dikelola papanya sedang mengalami krisis, nyaris berada di ambang kebangkrutan. Ivy yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di luar negeri dipaksa pulang untuk melangsungkan pernikahan bisnis yang sudah diatur Papa dan ibu tirinya.
Ivy tidak memiliki pilihan lain selain menurut setelah mengetahui siapa pria yang dijodohkan dengannya. Tidak ada cinta, yang ada hanya rasa hormat dan segan sebagai balas budi kepada ayah mertuanya.
Statusnya sebagai nyonya muda keluarga Permana juga hanya di atas kertas dan di depan publik saja. Selebihnya, tidak ada apa-apa antara dirinya dan Arga.
Benar-benar tidak terjadi apa-apa pun. Tidak ada sentuhan, maupun komunikasi. Jikapun Arga mengajaknya bicara, itu hanya untuk mempermalukannya saja, yang sayangnya tidak pernah berhasil.
Ingin menindasnya? Coba saja kalau bisa. Dia bukan patung yang hanya akan diam saja saat dirinya diperlakukan semena-mena.
"Nggak, tuh!" jawab Ivy mengedikkan bahu cuek. "Ngapain juga harus peduli sama orang yang peduli sama kita. Buang-buang waktu aja, iya, nggak, sih?" Dia mengibaskan tangan.
Kayla menarik napas panjang, membuangnya pelan-pelan melalui mulut. Dia sedang mengumpulkan kembali kesabarannya yang berceceran.
Sungguh, dia tidak mengerti jalan pikiran Ivy. Membiarkan suami bermesraan dengan wanita lain di depan umum dan tidak merasakan apa-apa, malah tidak peduli sama sekali. Apakah Ivy benar tidak mencintai Arga sama sekali? Lalu, jika tidak mencintai, kenapa harus menikah?
"Lo nggak cinta sama Arga, Vy?" tanya Kayla menatap Ivy dengan kata memicing penuh selidik.
"Nggak!" jawab Ivy tanpa beban, seolah memberi tahu Kayla hal yang biasa, bukan masalah hati, apalagi masalah rumat tangganya.
Mata Kayla melebar seketika. "Nggak cinta, tapi lo nikah sama dia?" tanyanya dengan nada suara naik beberapa oktaf. Bukan hanya mengimbangi suara musik yang semakin tak terkendali, tetapi juga karena terkejut.
Ivy mengangguk santai. "Nggak cinta sama sekali," akunya tersenyum manis. "Cuma orang bego yang cinta sama cowok berengsek kayak Arga!"
Ivy melirik sofa di mana Arga dan kekasihnya duduk. Tubuh perempuan bergerak, menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan di pangkuan Arga. Siapa pun yang melihat pasti tahu apa yang sedang kedua orang itu lakukan.
"Bego? Arga?" ulang Kayla tak yakin. Sepasang alisnya berkerut tajam.
Arga Permana merupakan salah seorang pria idaman di kalangan sosialita. Bukan hanya karena wajahnya yang tampan, Arga juga merupakan putra mahkota keluarga Permana, salah satu keluarga konglomerat di tanah air.
Banyak perempuan yang memperebutkannya. Mereka —para perempuan itu— bahkan dengan sukarela melemparkan tubuh mereka ke ranjang Arga.
Pernikahan Ivy dan Arga merupakan salah satu pernikahan termegah, pernikahan impian para perempuan. Beberapa kalangan bahkan menyebutnya sebagai royal wedding karena kemewahan dan kemeriahannya.
Sayang sekali, ternyata royal wedding versi keluarga sultan menyimpan rahasia yang sedikit menyedihkan. Pernikahan hanya untuk memperkuat bisnis dan kekuasaan, bukan karena saling mencintai.
"Lo serius, Vy?"
Ivy mengangguk yakin. "Terus, kalo nggak bego apa namanya coba? Mau-maunya sama Arga yang cuma cinta sama dirinya sendiri," katanya sambil mengibaskan rambut hitam sepunggungnya yang malam ini dibiarkan tergerai.
"Hah?" Mulut Kayla terbuka dengan tidak elitenya. Benarkah yang dikatakan Ivy, Arga mencintai dirinya sendiri?
Akan tetapi, kenyataan yang terlihat di depan mata mereka sepertinya sebaliknya. Arga terlihat sangat memanjakan perempuan yang duduk di pangkuannya. Tidak hanya mulut dan lidahnya yang aktif, kedua tangannya juga sama aktif menelusuri seluruh tubuh setengah telanjang perempuan itu.
Tak sadar Kayla bergidik, antara geli dan ngeri. Membayangkan dirinya berada di posisi perempuan itu, betapa malunya. Bermesraan di depan umum seperti ini, seolah tidak ada tempat lain lagi saja.
"Lo udah liat buktinya, Kay." Ivy terkekeh geli setelah menyesap cairan berwarna merah di gelas bertangkai tinggi miliknya. "Kalo emang Arga cinta sama tuh cewek, nggak mungkin dia ngeliatin barangnya di depan orang banyak kayak gitu!"
Mulut Ivy meruncing menunjuk Arga dan perempuan selingkuhannya. Setahunya, perempuan itu bernama Tania, sekretaris Arga yang sudah bersamanya selama lima tahun. Entah nama panjangnya Tania apa, dia tak pernah peduli. Sangat tidak penting, menurutnya.
Yang terpenting bagi Ivy, dia bisa lepas dari keluarganya yang penuh racun. Dia akan baik-baik saja selama menyandang status sebagai nyonya muda keluarga Permana, Papa tidak akan dapat menyentuhnya lagi seujung kuku pun.
Bukannya Ivy tidak ingin melawan. Dia diam dengan semua yang dilakukan Papa dan ibu tirinya kepadanya bukan berarti dia tidak berani kepada mereka, dia hanya tak ingin saja. Jika bisa melawan dengan cara yang halus, kenapa harus menggunakan cara kasar?
Ivy juga tidak bermaksud memanfaatkan kekuasaan kelurga Permana, menggunakan kekuasaan itu untuk menekan Papa. Dia hanya melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Papa kepadanya.
Ivy tersenyum mengejek melihat Arga yang sangat bersemangat menarikan tangannya di tubuh Tania. Matanya memicing, berusaha menanamkan penglihatan, lantas tertawa tanpa suara setelah yakin dengan apa yang dilihatnya.
Tangan Arga yang berada di dalam rok ketat Tania bergerak liar. Ivy yakin, jari-jari Arga pasti sedang keluar masuk di dalam Tania. Lihat saja perempuan itu yang menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan. Mulut Tania terbuka, matanya terpejam rapat, kepala mendongak.
Sebenarnya, Ivy sangat ingin merekam apa yang dilakukan Arga untuk barang bukti saat dia mengajukan gugatan perceraian mereka nanti. Sayangnya, dia sudah setengah mabuk sehingga kurang fokus.
Jadi, lebih baik menikmati film porno yang disajikan secara live beberapa meter di depannya saja. Paling-paling jika ada yang menyebarkan ke internet, dia akan diminta bantuan untuk mengonfirmasi bahwa itu hanya rekayasa lawan bisnis keluarga Permana.
Dengan imbalan tentu saja. Tidak akan dia mau berbohong secara cuma-cuma.
Oh, ayolah, semua di dunia ini tidak ada yang gratis. Bahkan, bernapas pun harus membayar jika membutuhkannya. Benar, bukan?
"Astaga, emang nggak ada malunya, tuh, orang dua!"
Ivy hanya terkekeh menanggapi gerutuan Kayla. Dia memilih menikmati pertunjukan dewasa di depannya, di mana suaminya tengah menggerayangi tubuh selingkuhannya.
Entah selingkuhan yang ke berapa. Setahu Ivy, Arga sudah memiliki kekasih di luar sana. Kekasih yang benar-benar dicintainya, bukan hanya untuk dijadikan mainan pelampiasan selangkangannya saja.
Tawa Ivy semakin keras melihat Kayla bergidik. Entah karena geli atau jijik, dia tidak tahu. Yang pasti, sahabatnya memperhatikan sungguh-sungguh pertunjukan Arga dan kekasih gelapnya.
"Vy, lo nggak ada niat buat rekam atau apa gitu biar jadi bukti ke mertua lo kalo anaknya b***t banget udah selingkuhan menantu mereka yang baik banget kayak ibu peri ini?" Kayla merangkul bahu Ivy, merebahkan kepala di bahu sahabatnya itu. Pandangannya sudah kurang fokus, Arga di sana kadang terlihat jadi dua orang.
Ivy menggeleng. "Nggak sekarang, Kay!" jawabnya malas. "Gue lagi nggak fokus, bisa-bisa ntar yang gue rekam orang lain bukan Arga."
Kayla terkekeh. "Lo pasti udah mabok, kan, lo, Vy," katanya merangkul bahu Ivy. Dengan sedikit kesusahan dia mengangkat gelasnya, mengetukkannya ke gelas Ivy sebelum kembali menenggak isi yang tersisa.
Kayla bergidik begitu cairan berwarna keemasan itu melewati tenggorokannya. Rasa panas berpadu dengan pahit dan manis menimbulkan sensasi rasa berbeda, rasa penuh tantangan yang hanya dia sendiri yang merasakannya.
Ivy menggeleng menjawab Kayla. Dia masih belum mabuk, kesadarannya masih ada meskipun tak lagi utuh —hanya tersisa separuh, masih dapat membaca pesan yang masuk ke ponselnya. Pesan dari nomor asing dan terdiri dari dua kata saja.
Hallo, Baby!