Tuan Adam tampak sudah bersiap untuk menyambut kedatangan istrinya di kamar. Ia berniat akan menggempur Sari habis-habisan sebelum keberangkatannya besok ke luar kota.
Namun, setelah menunggu beberapa lama. Sari tidak juga menunjukkan kehadirannya. Sehingga membuat Tuan Adam tidak sabar. Kemudian ia segera pergi ke kamar istrinya.
Dengan perlahan Tuan Adam membuka pintu kamar Sari dan melangkah masuk nyaris tanpa suara. Ia melihat istrinya yang sedang tertidur. Seketika ular kobra lelaki itu langsung bangun. Seperti melihat mangsa yang tidak berdaya.
Tuan Adam yang sudah tidak sabar segera memeluk istrinya. Seketika Sari pun terjaga dan sangat terkejut melihat Tuan Adam Sudah berada di atas tubuhnya.
"Tuan, kenapa ke sini?" tanya Sari ketika teringat seharusnya dia yang datang ke kamar suaminya.
"Kamu lama sekali," jawab Tuan Adam sambil mengelus pipi Sari dengan penuh gairah.
"Maaf saya ketiduran," ucap Sari, “Apakah Tuan menginginkannya di sini?” tanyanya kemudian.
“Iya,” jawab Tuan Adam lalu mendaratkan sebuah kecupan. Namun, tiba-tiba ia terdiam ketika merasakan bibir istrinya yang panas. "Kamu masih demam?" tanya Tuan Adam sambil menjauhkan wajahnya dari muka Sari.
"Tidak tahu Tuan, padahal saya sudah makan dan minum obat," jawab Sari dengan wajah yang masih terlihat pucat, "Tapi saya siap untuk melayani," ujar wanita itu yang hendak membuka piama suaminya.
Tuan Adam tampak menghela nafas panjang. Ia jadi ragu untuk menggauli Sari malam ini. Lalu pria itu pun berseru, "Tidak usah, kamu masih sakit!" cegah Tuan Adam sambil bangun dan merapikan piamanya kembali. Terlihat kekecewaan yang terpancar dari sorot matanya. "Tidurlah!" serunya kemudian.
"Baik Tuan," jawab Sari terlihat lega karena masih merasa lemas untuk melayani Tuan Adam yang sangat perkasa di atas ranjang. Wanita itu segera menyelimuti tubuhnya.
Tuan Adam terpaksa harus menahan hasratnya yang sudah menggebu. Pria itu tidak mungkin menggauli Sari yang masih sakit. Jika tetap dilakukan pasti dirinya tidak akan merasa puas, sungguh itu lebih menyiksa. Sepertinya ia harus bersabar, meskipun ular kobranya terus meronta.
"Sial," umpat Tuan Adam sambil menutup pintu kamar Sari.
***
Sudah beberapa hari ini Tuan Adam tidak pulang karena sedang menangani sebuah tender di Kalimantan. Selama itu pula, kesehatan Sari belum membaik. Dirinya kini jadi mudah lemas dan pusing. Maka dari pada itu, Sari sering menghabiskan waktunya di dalam kamar. Agar jika suaminya kembali, ia sudah pulih seperti sedia kala.
“Bagaimana Neng, masih pusing?” tanya Bi Euis setelah mengerok punggung Sari dengan uang logam dan minyak kayu putih.
“Masih Bi,” jawab Sari sambil merasakan kepalanya yang pening. “sepertinya obat sakit kepala tidak ampuh, Bi!” sambungnya kemudian.
Bi Euis tampak berpikir sejenak, lalu memberikan pendapatnya, "Neng sih, suka telat makan jadi masuk angin terus."
"Iya mungkin Bi, habis kurang nafsu," sahut Sari yang tidak selera makan belakangan ini.
"Ya harus dipaksakan! Nanti kalau Tuan pulang, Neng sudah sehat dan bisa bermesraan lagi," ledek Bi Euis sambil tersenyum.
Seketika Sari jadi tersipu malu dan berkata, "Ih.., Bibi bisa saja."
"Ayo Neng makan dulu! Ni Bibi masak sayur asem dan ayam goreng," seru Bi Euis sambil menyodorkan sepiring nasi ke hadapan Sari.
Akhirnya Sari memaksakan diri untuk makan. Entah mengapa tiba-tiba ia jadi lahap sekali. Bahkan minta tambah lagi sayur asemnya.
"Hemm.., enak banget Bi sayurnya. Boleh saya minta lagi?" tanya Sari sambil menyodorkan piring.
"Boleh Neng," sahut Bi Euis yang memberikan semangkuk lagi sayur asam. Lagi-lagi sayur itu pun habis terutama kuahnya.
[Aneh, kenapa Neng Sari doyan sekali sama sayur asem. Jangan-jangan ... mustahil,] gumam Bi Euis sambil menepis sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
"Ni Neng, obat pusingnya," ujar Bi Euis sambil memberikan sebutir obat sakit kepala.
"Tidak usah Bi, pusing kepala saya sudah mulai hilang," tolak Sari sambil berdiri ke arah jendela. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada pohon mangga yang sedang berbuah lebat. Seketika air liur Sari hendak menetes, "Bi, saya mau itu," pintanya sambil menunjuk.
Bi Euis segera memandang ke luar dan bertanya, "Neng mau rujak mangga mengkal?" Sari segera mengangguk tanpa ragu.
"Ya sudah sebentar Bibi suruh Kang Asep petikkan," ujar Bi Euis sambil berlalu.
Beberapa saat kemudian, Bi Euis sudah kembali dengan membawa sepiring mangga yang sudah dipotong-potong dan semangkuk kecil sambal rujak.
"Ni Neng, tapi mangganya belum manis ya."
"Terima kasih Bi," ucap Sari dengan mata yang berbinar, "Segar," ucap wanita itu ketika baru mencoba sepotong.
"Bibi, mau?" tanya Sari yang lupa menawarkan rujak mangga.
"Tidak, buat Neng saja!" tolak Bi Euis sambil merasa ngilu karena tahu mangga itu sangat asam jika belum matang.
Dalam sekejap rujak mangga itu pun habis oleh Sari sendiri. Sambil menyeka peluh di pelipisnya wanita itu pun berkata, “Enak banget Bi, segar. Pusing kepala Sari langsung hilang.”
Degh!
Jantung Bi Euis tiba-tiba berdetak sangat cepat mendengar hal itu.
[Sari seperti wanita yang sedang hamil. Tapi itu tidak mungkin karena aku tidak pernah telat menyuntiknya,] gumam Bi Euis di dalam hati.
“Apakah Neng sudah datang bulan?” tanya Bi Euis memastikan.
“Semenjak disuntik Bi Euis, haid saya jadi sedikit kadang tidak datang bulan sama sekali,” jawab Sari ketika selesai makan rujak.
Bi Euis tampak terdiam, memang selama ini ia menyuntikan KB tiga bulan kepada Sari.
"Tuan kapan pulang ya, Bi?" tanya Sari yang tiba-tiba teringat dengan suaminya.
“Memang ketika tuan pergi tidak bilang kapan mau pulangnya?” Bi Euis balik bertanya.
Sambil menggeleng Sari pun menjawab, “Tidak, Tuan cuma bilang akan pulang secepatnya.”
"Ya sudah Neng tunggu saja, kalau begitu bibi mau cuci piring dulu ya!" pamit Bi Euis sambil merapikan piring bekas rujak.
"Bi, tolong bilang sama Kang Asep untuk ambilkan buah mangga lagi ya!" seru Sari yang dijawab anggukan oleh wanita paruh baya itu.
Bi Euis segera pergi meninggalkan Sari, lalu menuju tempat penyimpanan obat dan mencari sesuatu di dalam kotak itu. Tidak lama kemudian wanita paruh baya itu mengambil sebuah benda pipih seperti pulpen. Setelah itu ia kembali lagi menemui Sari.
“Neng, besok pagi ketika bangun tidur, tolong air ….” Bi Euis kemudian menjelaskan cara menggunakan alat itu.
“Baiklah Bi,” sahut sari sambil mengangguk tanda mengerti.
*
Azan subuh berkumandang, Sari segera terbangun dari tidurnya. Ia segera mengerjakan apa yang telah disuruh oleh Bi Euis. Setelah itu, dirinya bergegas mengambil air wudhu dan menunaikan salat subuh. Kemudian Sari keluar untuk mencari udara segar.
“Neng, bangun sudah siang!” seru Bi Euis sambil menyibak gorden dan membuka jendela kamar. “Bibi bawakan roti bakar dan wedang jahe, ayo sarapan dulu!” seru Bi Euis kembali.
Hening tidak ada sahutan, Bi Euis mengira jika Sari ada di kamar mandi. Ia segera mendorong pintu toilet yang tida terkunci. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada benda yang kemarin yang ia berikan kepada Sari. Wanita itu segera mengambilnya.
Bi Euis tampak tercengang ketika benda itu berada di tangannya. Kepanikan dan rasa takut terpancar dari sorot matanya. Bi Euis terlihat mulai cemas. Memang secara logika itu mustahil terjadi, tetapi jika Allah sudah berkehendak. Maka tidak ada yang tidak mungkin.
"Tidak mungkin ...," ucap Bi Euis dengan tidak percaya. Wanita paruh baya itu bergegas mencari Sari.
BERSAMBUNG