Seperti sebelumnya, Tuan Adam pulang tiba-tiba. Ia sudah membawa sebuah kejutan besar untuk Sari. Pasti untuk mendapatkan pelayanan yang memuaskan tentunya.
Ketika hendak ke kamar istrinya, Tuan Adam melihat Sari sedang berada di taman. Ia kemudian melangkah pelan, menghampiri wanita itu dari arah belakang.
"Sedang apa?" tanya Tuan Adam sambil memeluk Sari sehingga wanita itu hampir melonjak kaget.
“Tuan sudah pulang?” tanya Sari dengan terkejut.
“Pekerjaanku sudah selesai dan aku sangat merindukanmu,” jawab Tuan Adam dengan senyum yang menggoda. Lelaki itu kemudian mencoba mencium istrinya.
Sari segera mengelak seraya berseru, “Jangan Tuan! Tidak enak nanti dilihat Bi Euis dan penjaga.”
“Biarkan saja! Aku tidak peduli,” ujar Tuan Adam sambil terus mendekatkan wajahnya.
Sari perlahan melangkah mundur. Lalu berlari kecil untuk menghindari Tuan Adam yang berusaha untuk menggapainya.
“Auw..,” teriak Sari begitu Tuan Adam berhasil meraih tubuhnya.
Sari segera berbalik dan mengalungkan tangannya di leher lelaki itu. Kemudian ia bertanya, “Apakah Tuan menginginkannya sekarang?”
“Iya,” jawab Tuan adam sambil memperhatikan bibir Sari.
“Nanti malam saja ya!” saran Sari sambil menatap suaminya dengan mesra.
“Aku mau sekarang,” tegas lelaki itu tetap pada keinginannya.
Setelah berpikir sejenak Sari kemudian berkata, “Baiklah, tapi ada syarat yang harus Tuan penuhi dulu!”
“Katakan! Kamu mau uang atau perhiasan?” tanya Tuan Adam memberikan Sari pilihan.
Sari kemudian menggeleng dan menjawab, “Bukan itu semua.” Ia segera memasang wajah sedih.
Tuan Adam segera menarik dagu Sari dan berseru, “Katakanlah kamu mau apa?”
“Tapi Tuan harus janji akan mengabulkannya!” jawab Sari sambil menatap penuh harap.
“Baiklah asal tidak melanggar prinsipku,” ujar Tuan Adam kemudian.
“Tuan harus bersikap lembut ketika menyentuhku nanti!" ujar Sari memberitahu syaratnya.
Tuan Adam tampak menggeleng dan berkata, "Aku tidak bisa, kamu tahu kan alasannya. Kenapa baru sekarang keberatan, apa kamu sudah tidak mau melayaniku lagi?" tanya lelaki itu sambil menaikkan satu alisnya.
Sambil memasang wajah sedih, Sari kembali menjawab, "Bukan begitu Tuan, tetapi saya habis sakit dan belum kuat melayani Tuan yang ...." Sari segera menggigit bibirnya karena malu untuk mengatakan hal itu.
Tuan Adam tampak tertawa kecil dan berjanji, "Baiklah, demi dirimu akan kucoba." Lelaki itu kemudian mengelus pipi Sari yang lembut dan mendekatkan kepalanya.
"Maaf, saya tidak tahu jika Tuan sudah pulang," ucap Bi Euis ketika melihat adegan itu.
Tuan Adam segera menarik wajahnya dan berkata, "Tidak apa-apa Bi, tolong antarkan sarapan buat kami ke kamarku!" serunya kemudian.
"Baik Tuan," jawab Bi Euis sambil mengangguk. Ia hanya dapat menghela nafas panjang sambil memandangi Sari yang bergelayut manja kepada Tuan Adam.
Ketika sampai di kamar, Tuan Adam segera mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya yaitu sebuah kotak berwarna merah. Ia kemudian membukanya dengan perlahan dan mengambil sebuah kalung liontin bermata zamrud hijau.
"Ini untukmu," ujar Tuan Adam sambil memakaikan kalung itu ke leher istrinya.
"Indah sekali, terima kasih Tuan," ucap Sari sambil menyibak rambutnya. Kalung itu terlihat indah melingkar di leher Sari. Kemudian ia memeluk suaminya dengan erat.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Tuan Adam sambil membalas pelukan istrinya.
"Iya, aku sangat mencintaimu Tuan," jawab Sari sambil mengungkapkan perasaannya yang tulus.
Tuan Adam hanya terdiam karena sudah sering mendengar puluhan wanita mengatakan hal itu kepadanya. Jadi kata cinta itu baginya adalah hal yang sudah biasa.
Tidak lama kemudian Bi Euis datang mengantarkan sarapan. Wanita itu segera pergi setelah melirik sekilas melihat nyonya dan tuannya yang sedang bercengkerama mesra.
Bi Euis terlihat gelisah, menunggu Sari keluar dari kamar Tuan Adam. Namun, sampai waktu makan siang tiba, Sari tak kunjung juga meninggalkan tempat itu.
Tuan Adam segera menarik dagu Sari dan mencumbu bibir itu dengan rakus. Kedua insan itu saling memberikan dan menerima hak serta kewajiban masing-masing. Sehingga membuat hasrat kedua pasangan suami istri itu kian menggebu. Tuan Adam semakin berpacu dengan waktu. Tubuh kekarnya tampak bercucuran keringat. Sementara itu Sari lebih banyak diam menikmati setiap sentuhan yang suaminya lakukan.
"Cepatlah sembuh, aku ingin yang lebih dari ini!" seru Tuan Adam ketika mereka baru saja memadu kasih.
"Iya Tuan," jawab Sari sambil memeluk suaminya. Entah mengapa wanita itu merasa nyaman berada dalam dekapan Tuan Adam.
Tiba-tiba ponsel Tuan Adam berdering. Mulanya lelaki itu terlihat acuh, tetapi panggilan masuk itu kembali berbunyi dan terus terulang lagi. Dengan kesal pria itu segera memakai celana dan meraih handphonenya yang tergeletak di atas meja.
"Halo," ucap Tuan Adam sambil menjauh dari Sari. Kemudian ia terlibat percakapan serius dengan seseorang. "Tidak!" teriak pria itu dengan amarah yang menggebu. Dengan kesal lelaki itu segera melempar ponselnya ke sembarang tempat.
Sari yang mendengar itu sampai kaget dan takut. Ia segera memakai bajunya kembali. Lalu memberanikan diri untuk mendekat seraya bertanya, "Tuan ada apa?"
"Kamu tidak perlu tahu," jawab Tuan Adam sambil mengepalkan tangannya. Lalu ia menoleh ke arah Sari dan menatapnya dengan tajam. "Ikut aku!" ajak lelaki itu sambil menarik tangan istrinya dan menuntun kembali ke atas ranjang.
"Pelan-pelan Tuan," pinta Sari ketika Tuan Adam menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.
"Diam! Sekarang layani aku seperti biasanya!" seru Tuan Adam sambil menggauli istrinya kembali dengan kasar.
"Cukup Tuan sakit!" pekik Sari yang tidak siap untuk melayani lagi.
Sari tidak mengerti kenapa Tuan Adam tiba-tiba berubah jadi kasar lagi. Padahal baru saja ia merasakan kelembutan kasih sayang lelaki itu.
"Tahan! Aku akan pergi jauh," seru Tuan Adam sambil meneruskan aksinya.
Sari hanya bisa pasrah dan sudah tidak kuat lagi. Pandangannya mulai berputar dan ketika Tuan Adam sudah puas, wanita itu tidak sadarkan diri di atas tempat tidur.
"Tidurlah! karena aku akan membutuhkan tubuhmu sampai keberangkatanku esok hari!" seru Tuan Adam sambil tersenyum puas.
Hening tidak ada sahutan, sehingga Tuan Adam merasa heran. Tidak mungkin Sari langsung tidur dalam sekejap. Seketika lelaki itu pun menyadari jika Sari telah pingsan.
"Bangun! Sari!" panggil Tuan Adam sambil mengguncangkan bahu istrinya, tetapi wanita itu tidak bergeming sedikit pun. Tuan Adam segera mencari ponselnya dan menghubungi Bi Euis.
[Bi, cepat panggil dokter sekarang juga!] seru lelaki itu dengan serius.
[Baik Tuan,] jawab Bi Euis terdengar cemas.
Bi Euis segera memanggil seorang dokter. Perasaannya tiba-tiba jadi tidak enak, ia yakin pasti telah terjadi sesuatu terhadap Sari.
BERSAMBUNG