Ketika malam tiba, Sari segera datang ke kamar Tuan Adam seperti biasanya. Ia terlihat gemetar membayangkan jika suaminya akan menggauli dengan kasar lagi. Sesampai di depan ranjang, wanita itu tampak tertegun karena tidak mendapati suaminya berada. Netranya mulai menelisik sekeliling kamar.
“Aku di sini, kemarilah!” seru Tuan Adam dari atas balkon.
Sari segera menuju balkon dan menghampiri Tuan Adam yang sedang menatap ke langit. Di mana tampak purnama bersinar terang, berpadu dengan taburan bintang. Menjadikan malam ini begitu indah dipandang mata. Sampai beberapa saat, Tuan Adam masih tidak bergeming menatap rembulan, entah apa yang didapatkan lelaki itu.
Sementara itu bagi Sari, keindahan sesungguhnya adalah yang tampak di hadapannya. Sungguh hatinya berdecap kagum melihat makhluk ciptaan Allah yang satu ini. Begitu sempurna secara pisik dan tiada cela. Wanita itu seolah tidak berkedip sedikit pun menatap Tuan Adam, sambil membiarkan getar-getar cinta yang mulai tumbuh di hatinya.
“Jangan menatapku seperti itu! Nanti kamu akan terluka,” seru Adam seolah tahu perasaan Sari kepada dirinya.
“Apakah salah jika seorang istri mencintai suaminya?” tanya Sari tanpa takut.
Mendengar pertanyaan itu Tuan Adam menoleh dan berkata, “Terserah, tetapi kamu harus siap sakit hati.”
“Lalu kenapa Tuan tidak larang saja agar aku tidak jatuh cinta?” Sari kembali bertanya.
“Apa kamu sanggup?” Tuan Adam balik bertanya yang membuat Sari terdiam.
Terasa sakit ketika benih cinta yang mulai bersemayam harus dicabut karena tidak ada harapan untuk tumbuh. Setelah menghempaskan nafas panjang dan membuang jauh pandangannya, Sari pun berkata, “Kalau begitu nikmatilah tubuhku sepuasnya dan cepat kembalikan aku kepada ....” Ia menghentikan kata-katanya ketika bibir Tuan Adam telah membungkam mulutnya.
Sampai Sari seolah kehabisan nafas, baru Tuan Adam melepaskan bibir istrinya seraya berseru, “Jangan berani mengaturku!”
Sari tampak sedikit menjauh sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
“Kemarilah,” panggil Tuan Adam yang sudah berada di sofa, ”Duduk!” seru lelaki itu sambil menepuk pahanya.
Dengan perlahan Sari menghampiri Tuan Adam dan duduk di pangkuan suaminya. Lelaki itu kemudian menarik punggung istrinya hingga merebah di dadanya yang bidang.
Seketika jantung Sari pun berdetak sangat cepat, merasakan debaran yang semakin kuat. Membayangkan jika Tuan Adam menginginkannya sekarang. Namun, dugaannya salah karena beberapa saat kemudian Tuan Adam hanya membelai dan memainkan rambut istrinya sambil menikmati keindahan malam.
Sari berpikir ternyata lelaki itu mempunyai jiwa yang lembut di balik keganasannya saat di atas ranjang.
[Andai saja kamu memperlakukan aku seperti ini di setiap malam,] batin Sari sambil merasakan sentuhan tangan Tuan Adam yang halus.
Untuk sesaat suasana pun tampak hening. Hanya terdengar angin malam berembus dengan dingin.
"Kenapa Tuan suka menatap bulan?" tanya Sari memecah kesunyian.
“Ada ketenangan di sana!” jawab Tuan Adam, "kamu juga suka, kenapa?” Ia balik bertanya.
"Iya, karena sinarnya begitu lembut seperti pelukan ibu," jawab Sari sambil membayangkan wajah ambunya yang sangat dirindukan.
Mendengar itu, Seketika Tuan Adam berhenti membelai istrinya. Sari segera mengangkat kepala dan menatap Tuan Adam yang bergeming. Ada pancaran kesedihan, kemarahan dan kerinduan dari sorot mata lelaki itu.
"Maaf Tuan, kalau saya salah bicara," ucap Sari yang merasa suaminya tersinggung.
Tidak ada sahutan, Tuan Adam terdiam seribu bahasa. Perlahan Sari membenamkan kepalanya kembali ke d**a lelaki itu. Tercium wangi parfum yang membuatnya nyaman.
Untuk beberapa saat suasana pun kembali hening. Hingga suara Tuan Adam berseru, "Bangunlah!"
Sepi tidak terdengar sahutan, bahkan kepala Sari tidak bergerak sama sekali dari d**a Tuan Adam.
“Sari,” panggil Tuan Adam sambil menegakkan kepala istrinya dengan perlahan. Mungkin karena lelah, Sari ternyata tertidur dengan pulas.
Tuan Adam kemudian merebah tubuh istrinya di tangan. Lelaki itu mengamati wajah Sari ketika terlelap seraya memuji, “Cantik dan menggairahkan.” Tangan satunya kemudian mengelus pipi Sari yang mulus.
Perlahan Tuan Adam memajukan kepalanya dan mendekati bibir Sari. Lalu sebuah kecupan membuat wanita itu terjaga.
"Maaf Tuan, saya ketiduran," ucap Sari sambil hendak bangun, tetapi Tuan Adam mencegahnya.
"Diamlah!" seru Tuan Adam yang membuat Sari bergeming. Pria itu segera menggendong tubuh istrinya dan membawa masuk ke kamar. Ia tersenyum melihat rona wajah Sari yang malu.
Sari kemudian melingkarkan tangannya di leher Tuan Adam. Ia tampak tersipu ketika padangan mereka bertemu. Sungguh begitu indah saat Sari sekilas meliriknya. Wanita itu merasa seperti Tuan Putri yang sedang di manja oleh Pangeran.
Dengan perlahan Tuan Adam merebahkan tubuh Sari di atas kasur. Lalu menatap wanita itu dengan saksama. Sebenarnya ia tidak mau menyentuh istrinya malam ini karena belum fit. Namun, ketika tangan Sari yang lembut mengelus wajahnya. Lelaki itu tidak dapat menahan gairahnya yang sudah terpancing. Tuan Adam kemudian mengecup kening Sari. Lalu turun ke bibir mungil itu dan memagutnya dengan lembut.
"Tuan," panggil Sari ketika bibir lelaki itu mulai menelusuri lehernya yang jenjang.
"Hemm ...," sahut Tuan Adam yang terus menyentuh tubuh istrinya dengan perlahan. Sehingga membuat Sari membiarkan dirinya hanyut dalam permainan itu.
Sari tampak memejamkan mata, merasakan semuanya. Baru kali ini ia merasakan sebuah kenikmatan yang luar biasa. Kemudian mereka bersatu dalam temaram lampu kamar. Hingga Tuan Adam merasa terpuaskan.
“Bisakah Tuan selembut ini setiap menyentuhku?” tanya Sari yang berada dalam pelukan Tuan Adam sehabis mereka satu kali memadu kasih.
“Aku tidak puas seperti ini,” jawab Tuan Adam sambil mengelus rambut Sari.
[Semoga kau sakit lagi, dengan begitu aku bisa merawat dan mendapatkan sentuhanmu dengan lembut,] gumam Sari di dalam hati. “Saya mengantuk sekali, bolehkah kembali ke kamar?” tanya Sari yang sudah tidak kuat untuk membuka matanya.
“Tidurlah! Malam ini kamu tetap di kamarku saja!” Seru Tuan Adam sambil memeluk tubuh istrinya dengan erat.
Sari tersenyum mendengar hal itu. Ia merasa begitu nyaman dalam dekapan suaminya dan membiarkan rasa itu muncul kembali. Sari tidak peduli mau terbalas atau tidak perasaannya kepada Tuan Adam.
Tentu Sari tahu mencintai suami sendiri bukanlah sebuah perbuatan dosa. Baginya cinta adalah sebuah anugerah, meskipun ia tahu akan sakit hati jika suatu saat Tuan Adam tidak menginginkannya lagi.
[Akan kubuat kau mencintaiku,]tekad Sari sebelum ia terlelap dalam pelukan Tuan Adam. Terbuai dalam mimpi yang bertaburkan cinta.
Tuan Adam tampak tersenyum melihat Sari yang sudah tertidur pulas. Entah sampai kapan dirinya akan memiliki wanita itu. Selama ia belum bosan maka Sari akan tetap menjadi istrinya, tentu untuk memuaskan nafsu semata.
Namun, tubuh Sari sudah menjadi candu buat Tuan Adam. Ia ingin selalu merasakannya setiap saat. Seolah tidak ada bosannya, lagi dan ingin lagi. Lelaki itu mencoba untuk memejamkan matanya, tetapi gagal. Apalagi ketika ia merasakan ular kobranya kembali tegak.
"Sial," umpat Tuan Adam dengan nafas yang mulai memburu.
Tuan Adam terlihat resah, apakah dia harus menggauli istrinya lagi yang tengah tertidur pulas. Itu tidak akan terjadi karena dia tidak suka tanpa perlawanan sedikit pun.
BERSAMBUNG