Bab. 8 Kewajiban

1165 Kata
Malam mulai beranjak, terdengar semilir angin yang bergesek dengan dedaunan. Berpadu bersama alunan kidung jangkrik yang mengalun seperti sebuah simfoni alam. Sementara itu di dalam kamar Tuan Adam, Sari sedang menemani suaminya yang masih demam. “Panas sekali,” ujar Sari sambil menempelkan tangannya ke pipi Tuan Adam. Kemudian ia mengambil handuk kecil dan menaruh di dahi suaminya. Tuan Adam tidak bergeming sedikit pun, matanya tampak terpejam sambil menahan panas yang teramat sangat. “Bagaimana kondisi Tuan, Neng?” tanya Bi Euis sambil melihat Tuan Adam yang terbaring lemah. “Masih panas Bi, padahal tadi Tuan sudah minum parasetamol,” jawab Sari dengan pelan karena takut suaminya terganggu. Bi Euis terdiam dan merasa heran karena selama bekerja dengan Tuan Adam, belum pernah majikannya itu sakit seperti ini. Kemudian Bi Euis pun berkata, “Kita tunggu sampai besok, kalau kondisi Tuan Adam tidak juga membaik. Baru bibi akan panggil dokter untuk memeriksanya.” Sari tampak mengangguk menyetujui saran dari Bi Euis. Tidak lama kemudian Sari melihat wanita paruh baya itu tampak menguap. Lalu ia pun berseru, “Bibi kalau sudah mengantuk tidur saja! Biar saya yang menjaga Tuan." “Ya sudah kalau begitu bibi tidur ya, Neng,” pamit Bi Euis undur diri. Kemudian Sari mengambil handuk kecil dari dahi Tuan Adam dan membasuhnya lagi dengan air. Lalu memerasnya dan meletekkan kembali di tempat semula. Sari kemudian perlahan memegang pipi Tuan Adam, entah mengapa ada desiran aneh yang muncul di hatinya. Sejenak ia melupakan rasa sakit yang pernah didapatkan dari pria itu. Sari segera menarik tangannya dan langsung menepis perasaan yang mulai dirasakan. [Aku tidak boleh punya perasaan kepada Tuan,] gumam Sari di dalam hati. Akhirnya tanpa disadari, wanita itu tertidur pulas di sisi Tuan Adam. Malam terus bergulir waktu subuh sebentar lagi akan tiba. Tuan Adam tampak terjaga dan menyadari ada sesuatu di dahinya. Dengan perlahan ia meraih benda itu dan melihat sebuah handuk kecil yang basah. Lelaki itu terkejut ketika menyadari ada hembus nafas di sisi kanannya. Setelah mengamati dengan saksama, ia kemudian tahu jika itu adalah Sari istrinya. Tuan Adam yang merasa sudah lebih baik, segera turun dari ranjang. Kemudian ia mengangkat tubuh Sari ke atas pembaringan. Lalu perlahan mengelus kepala dan mencium rambut wanita itu dengan lembut. “Kau sungguh berbeda dari mantan istriku yang lainnya,” ujar Tuan Adam sambil mengamati wanita itu sesaat. Tuan Adam kemudian menyelimuti tubuh Sari dan pergi meninggalkannya. Selama ini belum ada wanita yang tidur di atas ranjang Tuan Adam kecuali ketika mereka sedang memadu kasih. Seperti biasa Bi Euis sudah bangun dari subuh. Setelah melaksanakan salat dua rakaat, ia segera menuju ke dapur untuk melaksanakan aktivitas seperti biasa. Pasti yang pertama kali dikerjakan adalah memasak air untuk membuat wedang jahe. Minuman itu seperti sudah menjadi menu pokok di setiap pagi. Apalagi kalau ada yang sedang sakit, Bi Euis bisa beberapa kali bikin dalam sehari. “Bi, wedang jahenya sudah jadi?” tanya Tuan Adam yang tiba-tiba datang ke dapur. Sontak Bi Euis terkejut melihat kedatangan Tuan Adam dan langsung menjawab, “Sudah, Tuan mau saya buatkan?” “Boleh,” jawab Tuan Adam sambil menarik sebuah bangku dari meja makan. “Bagaimana kondisi Tuan?” tanya Bi Euis sambil meletakan segelas wedang jahe di hadapan Tuan Adam. “Saya merasa lebih baik Bi, cuma sedikit masih lemas saja, “ jawab Tuan Adam yang membuat Bi Euis terlihat lega. “Alhamdulillah.., kalau begitu saya tidak perlu memanggil dokter,” ujar Bi Euis yang dibalas anggukan oleh Tuan Adam. Setelah menyeruput wedang jahenya, Tuan Adam berseru, “Oh ya Bi, buatkan saya bubur dan sop seperti kemarin ya!” “Ma-maaf Tuan, kemarin yang masak Nyonya,” sahut Bi Euis sambil tertunduk takut jika Tuan Adam marah karena telah membiarkan istrinya masuk ke dapur. “Apa, Sari yang masak?” tanya Tuan Adam tidak percaya. “Jangan marahi Bi Euis Tuan, saya yang sudah memaksa untuk membantu, Bibi,” pinta Sari yang tiba-tiba datang. Tuan Adam berdiri dan menatap Sari dengan tajam lalu bertanya, “Kenapa kamu lakukan itu?” “Sa-saya hanya melaksanakan kewajiban,” jawab Sari dengan gugup sambil tertunduk tidak berani membalas tatapan suaminya. Tuan Adam tampak menghela nafas panjang dan berkata, “Baiklah kalau begitu cepat buatkan lagi untukku!” kemudian lelaki itu pergi meninggalkan Sari dan Bi Euis. Sambil mengangguk Sari kemudian menyanggupi, “Baik Tuan.” * Setelah sarapan kondisi Tuan Adam semakin membaik, bahkan sudah sibuk di depan laptopnya mengejar pekerjaan yang sempat tertunda kemarin. Akhirnya saat menjelang zuhur pria itu sudah menyelesaikan semuanya dengan rapi. Tidak lama kemudian Sari dan Bi Euis pun datang sambil membawakan menu makan siang untuk Tuan Adam dan menatanya di sebuah meja yang sudah tersedia. “Makan siang sudah siap Tuan,” ujar Sari memberitahu. Tuan Adam segera menutup laptopnya dan menatap Sari dengan saksama lalu bertanya, “Kamu sudah makan?” “Sudah,” jawab Sari sambil tertunduk merasakan perutnya yang lapar, ”Permisi Tuan,” pamitnya sambil berlalu. Tuan Adam segera meraih tangan Sari dan berseru, “Temani aku makan!” “Ta-tapi Tuan—“ “Jangan menolak!” seru Tuan Adam memotong perkataan istrinya. Sari segera mengikuti suaminya untuk menuju ke sebuah meja makan buat dua orang. Tanpa diperintah ia segera mengambil piring, lalu mengisinya dengan lauk pauk. Setelah itu, Sari memberikannya kepada Tuan Adam. Lelaki itu menerima dengan seulas senyum kecil yang membuat wajahnya begitu rupawan. Sungguh hati Sari bergetar ketika melihatnya, ia kemudian memperhatikan cara Tuan Adam makan tanpa suara. Wanita itu tampak terpesona sampai tidak menyadari suara perutnya yang keroncongan. “Ambil lagi!” pinta Tuan Adam sambil menyodorkan piring yang membuat Sari terperangah. Sari segera mengambil nasi dan lauk kembali lalu memberikan piring itu kepada Tuan Adam seraya berkata, “ini Tuan.” “Makanlah! Aku mau salat,” seru Tuan Adam sambil berdiri dan berlalu. Seketika Sari menyadari jika nasi itu untuknya. Setelah suaminya pergi, ia ingin pun segera menyantap makan siangnya dengan lahap. Tidak lama kemudian Tuan Adam sudah kembali lagi dan menghampiri Sari yang tengah menunggunya. “Maaf Tuan, apakah saya sudah boleh pergi?” tanya Sari ketika melihat suaminya datang. “Tunggu!" seru Tuan Adam sambil duduk di depan Sari, "ini untukmu yang sudah merawatku.” Kemudian pria itu menyodorkan sebandel uang senilai lima juta ke hadapan istrinya. "Tidak Tuan, sudah kewajiban saya merawat suami yang sedang sakit," ujar Sari sambil menolak uang itu dari hadapannya. "Ambillah! Anggap saja itu uang nafkah lebih dariku!" seru Tuan Adam yang tidak mau pemberiannya ditolak. "Saya ikhlas Tuan," sergah Sari kembali. "Ingat peraturan yang sudah kubuat! Jangan membantah!" tegas Tuan Adam yang membuat Sari segera mengambil uang itu. "Terima kasih Tuan," ucap Sari sambil tertunduk. "Kamu boleh pergi! Oh ya, nanti malam datanglah seperti biasa!" seru Tuan Adam dengan serius. "Baik Tuan, permisi," jawab Sari sambil pamit untuk pergi. Tuan Adam memandangi Sari sampai hilang di balik pintu. Sungguh ia merasa heran baru kali ini ada seorang wanita yang menolak dikasih uang. Tapi Tuan Adam tidak mau punya hutang budi, meskipun kepada istrinya sendiri. BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN