Bab. 7 Awal Sebuah Rasa

1173 Kata
Mentari baru saja terbit di ufuk timur, sinarnya yang hangat bagaikan kerinduan yang diharapkan oleh semua makhluk hidup. Pohon-pohon cemara tampak berdiri kokoh. Seolah siap menyambut kedatangan Sang Surya. Sari tampak menyaksikan semua itu dari balik jendela kamarnya. Ia pun berandai jika punya sayap seperti burung. Pasti dirinya bisa pergi dari tempat ini dan tidak akan kembali lagi. Seketika semilir angin segar menerpa wajah cantik wanita itu. Membuyarkan angannya yang tidak mungkin terwujud. Tiba-tiba perut Sari terasa lapar. Ia segera keluar dari kamar tanpa menunggu Bi Euis datang mengantarkan sarapan. Sari melihat Bi Euis sedang memasak, gadis itu bergegas menghampiri untuk membantu seperti biasa. “Bi Euis masak apa?” tanya Sari sambil melihat wanita itu yang sepertinya kurang sehat. “Masak bubur untuk Tuan yang sedang tidak enak badan,” jawab Bi Euis. “Apa? Tuan sakit?” tanya Sari dengan terkejut karena semalam Tuan Adam tampak sehat-sehat saja saat bersama dengannya. “Sepertinya begitu,” jawab Bi Euis sambil mengaduk bubur di panci. Tiba-tiba wanita itu merasa kepalanya pusing dan berputar. Melihat Bi Euis yang gontai Sari segera memegang wanita itu seraya bertanya, “Bi Euis kenapa?” “Tidak apa-apa, Neng, Biasa masuk angin,” jawab Bi Euis yang terlihat mulai pucat. "Maafkan saya, pasti gara-gara semalam menemani Sari, Bibi jadi masuk angin," ucap Sari yang merasa tidak enak hati. "Tidak juga Neng, sudah dari kemarin bibi merasa tidak enak badan," sergah Bi Euis kemudian, "Apakah tubuh Neng masih sakit?" tanyanya dengan penuh perhatian. "Sedikit," jawab Sari sambil membawa Bi Euis untuk duduk dan berseru, “ Bibi istirahat saja! Biar saya yang melanjutkan bikin buburnya.” "Neng, bisa masak bubur?" tanya Bi Euis sambil memijit kepalanya. Sari pun mengangguk dan menjawab, "Bisa." Sari segera meracik bubur itu sampai matang dan siap untuk dimakan, kemudian ia membagi ke dalam dua buah mangkuk. “Bibi sarapan dulu ya, habis itu minum obat!” seru Sari sambil meletakkan semangkuk bubur di hadapan Bi Euis. Bi Euis menjadi haru karena belum pernah diperhatikan seperti ini oleh istri Tuan Adam sebelumnya. Sambil menahan kepalanya yang masih berputar wanita itu pun mengucapkan, “Terima kasih ya Neng, bibi jadi merepotkan saja.” “Tidak apa-apa,” jawab Sari sambil tersenyum, “Oh ya, Bibi punya obat untuk demam?” tanyanya kemudian. Sambil mengangguk Bi Euis menjawab, “Ada.” Sari kemudian membuat segelas s**u untuk mengganjal perutnya. Setelah itu ia bertanya apa saja yang akan dibawa untuk Tuan Adam, "Selain bubur apa yang harus saya antarkan untuk Tuan Bi?" "Segelas air putih hangat, dan air jahe panas Neng," jawab Bi Euis memberitahu. Sari segera mempersiapkan semuanya. Kemudian ia pun berpesan, “Kalau Bibi masih pusing istirahat saja di kamar! Sari mau mengantar bubur ini dulu untuk Tuan.” Bi Euis tampak mengangguk sambil memandangi Sari yang berlalu dari hadapannya. Ketika sampai di depan kamar Tuan Adam, Sari tampak menghela nafas panjang. Seolah sedang mengumpulkan keberanian sebelum masuk karena tidak tahu Tuan Adam marah atau tidak melihat dirinya yang datang. "Bismillah ...," ucap Sari sambil melangkahkan kakinya. Sesampai di dalam Sari melihat Tuan Adam sedang berbaring di atas ranjang dengan wajah yang pucat. “Selamat pagi Tuan,” ucap Sari tersenyum manis. Tuan Adam menatap Sari dengan heran dan bertanya, “Kenapa kamu yang datang?” “Bi Euis sakit Tuan,” jawab Sari yang mulai memberanikan diri. Tuan Adam lalu menarik tubuhnya dan bersandar pada kepala ranjang lalu ia pun berseru, “Berikan bubur itu!” Sari segera menghampiri Tuan Adam dan duduk di sampingnya kemudian ia bertanya dengan lembut, “ Boleh saya suapi?” Mata indah Sari menatap netra Tuan Adam yang sayu untuk menunggu jawaban. “Kenapa?” tanya Tuan Adam dengan suara yang lemah. “Karena saya adalah seorang istri dan berkewajiban untuk merawat suaminya yang sedang sakit,” jawab Sari sambil tertunduk. Tuan Adam tersenyum mendengar jawaban itu, tentu di saat Sari tidak melihatnya. Lalu ia pun berkata, “Silakan!” Setelah dapat izin Sari segera menyuapi bubur itu dengan perlahan dan sabar. Seketika pandangan mereka pun bertemu, tetapi Sari tidak berani menatapnya lebih lama. Entah mengapa Adam merasa lemas sekali. Padahal semalam ia merasa sangat kuat dan perkasa saat menggempur Sari sampai beberapa kali. Namun, ketika akan salat subuh tubuhnya terasa lemas seolah tak bertulang. "Cukup!" seru Tuan Adam ketika bubur itu baru habis separuh. Sari kemudian menaruh mangkuk itu dan mengambil air putih. Setelah makan bubur dan minum beberapa teguk Tuan Adam merasa mengantuk. Kemudian ia pun berseru, "Kamu boleh pergi!" "Baik Tuan," jawab Sari sambil undur diri. Sari kemudian keluar dari kamar Tuan Adam dengan lega. Ia segera kembali ke dapur untuk menengok keadaan Bi Euis. Namun, ia melihat perempuan paruh baya itu sedang menunggunya. "Bibi kenapa tidak di kamar?" tanya Sari begitu sampai di hadapan Bi Euis. "Kenapa Neng lama di kamar Tuan, apakah kena marah?" Bi Euis balik bertanya sambil memegang kedua tangan Sari dengan cemas. Sambil menggeleng Sari pun menjawab, "Tuan tidak marah Bi, tadi aku lama karena menyuapinya dulu." Bi Euis tampak terkejut mendengar jawaban Sari karena setahunya selama bekerja di vila ini, belum pernah ada perempuan yang bisa melakukan itu. Lalu ia kembali bertanya, "Memang Tuan sakit parah?" "Tadi saya lihat wajah tuan sangat pucat dan lemas," jawab Sari, "Memangnya kenapa Bi?" Ia kemudian balik bertanya. "Selama ini Tuan jarang sakit, paling cuma flu dan demam," jawab Bi Euis menjelaskan. * Mentari kian meninggi ketika Sari dan Bi Euis masih sibuk di dapur untuk menyiapkan makan siang. Sari melarang Bi Euis untuk banyak bergerak agar wanita itu cepat sehat kembali. "Untuk hari ini, biar Sari saja Bi yang memasak!" seru Sari ketika Bi Euis ingin membantunya. Bi Euis tidak bisa memaksa kehendak Sari. Di dalam hatinya ia merasa kagum dengan sosok Nyonya yang satu ini. Wanita itu berharap agar nasib Sari lebih baik dari para mantan istri Tuan Adam yang terdahulu. Tidak lama kemudian tercium bau aroma sop ayam yang harum. Selain cantik, baik, pintar masak lagi. Sungguh beruntung sekali jika Tuan Adam menyadari telah memiliki wanita itu. "Wah lezat sekali sop ini, Neng. Seperti masakan restoran," puji Bi Euis ketika diminta mencicipi. "Ah, masa sih Bi?" tanya Sari sambil tersipu. "Iya benar, bisa nambah terus yang makan sop ini," ujar Bi Euis yang membuat Sari semakin tersanjung. "Kalau begitu Bibi makan yang banyak!" seru Sari sambil tersenyum senang. Sambil mengangguk Bi Euis pun berkata, "Kita makan bareng ya, Neng!" "Nanti ya Bi, setelah Sari antarkan makan siang buat Tuan," sahut Sari yang dijawab anggukan oleh Bi Euis. Sari kembali datang ke kamar Tuan Adam. Ia melihat suaminya jauh lebih baik, meskipun masih terlihat sedikit pucat. Wanita itu kemudian hendak menyuapi suaminya kembali, tetapi Tuan Adam segera memegang tangan Sari. Seketika Sari merasakan ada debaran aneh yang belum pernah dirasakan. Begitu lembut dan pasti mulai menjalar melalui urat nadinya. "Saya bisa sendiri, kamu boleh pergi!" seru Tuan Adam sambil membuang pandangan ketika tatapan mereka bertemu. "Baik Tuan," sahut Sari sambil menarik tangannya kembali. Sari kemudian meletakkan makan siang Tuan Adam di sampingnya. Lalu ia berlalu keluar dari kamar itu. Setelah sejenak menatapnya kembali. BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN