Detik itu pula Felora merasa jadi pusat dunia, semua orang memandangnya penuh tanya, kelas mendadak riuh dengan rasa kaget. Semua orang mempertanyakan, heran dan sangsi.
William, dosen dingin yang tidak pernah tersentuh gosip memiliki kekasih, tiba-tiba mendeklarasikan dirinya sebagai kekasih Felora. Siapa yang tidak akan terkejut? Felora pun, sangat terkejut mendengarnya.
Felora hanya bisa mematung di tempat, mencerna semua yang ia dengar, dengan memandang William yang kini beranjak pergi meninggalkan kelas.
BRAK!
“Sial!”
Itu suara Reno, dia menendang kursi sebelum meninggalkan kelas.
Tidak mau semakin jadi bahan gunjingan, Felora bangkit. Namun satu detik kemudian tangannya ditahan.
“Fey. lo utang cerita.” Itu Dewa, sahabat Felora yang lain.
“Entar Wa, gue harus nemuin Pak William dulu.”
“Gak ada. Cerita sama gue sekarang!” tegas Dewa, sahabatnya yang satu ini memang sangat protective.
“To the point. Lo tahu kesabaran gue gak sebanyak itu!”
Bibir Felora mengatup. Menghela napas sesaat.
“Reno minta gue jadi pacarnya lagi. Dia gak percaya kalau lo pacar gue Wa soalnya Reno bilang lo ada gebetan di Kedokteran.”
“Dan lo percaya?” Dewa menggelengkan kepalanya sesaat, sorot mata kecewa terpancar di bola matanya. “Dia Ratu, ponakan gue yang pernah gue ceritain.”
Felora menunduk, merasa bersalah. “Lagipula Fey, kapan sih gue ada rahasia dari lo? Bisa-bisanya lo lebih percaya Reno daripada gue?”
“Maaf.”
“Udahlah, udah terlanjur juga.” Dewa menghela napas panjang. “Sekarang gue tanya, apa hubungan lo sama Pak William?”
“Gue juga gak tau Wa.”
“Terus kenapa Pak William ngaku kalau dia pacar lo?”
Felora menggeleng lagi. “Gue juga gak tau Wa. Gue juga kaget. Makanya gue mau nemuin Pak William buat lurusin semuanya.”
Dewa memejamkan matanya. “Gue ikut.”
“Gak usah.”
Tatapan keduanya bertemu. Dewa kembali menatapnya penuh kekesalahn.
“Wa....”
“Oke. Kelarin semuanya, lo balik jadi pacar gue lagi. Biar gue yang ngomong sama Reno.”
“Wa, gapapa gak usah.”
Dewa menggeleng ringan. “Gapapa.”
“Gue gak akan biarin Reno ganggu lo lagi dan... selain itu gue gak mau lo terlibat sama Pak William lebih jauh. Paham?”
***
Saat William kembali ke ruang pribadinya, ponselnya bergetar—panggilan dari ibunya. Ia sudah tahu isinya. Namun jika tidak diangkat, masalahnya akan bertambah besar.
“Kamu biarkan Karina makan siang sendirian lagi? Mama sudah bilang, temani dia! Jangan jadikan kelas sebagai alasan, kamu punya asisten, kan?”
William tetap diam.
“Sampai kapan kamu begini? Kalian akan menikah! Karina bilang kalian pernah pacaran diam-diam. Harusnya mudah buat dekat lagi!"
Sejenak hening.
“Mama gak mau tahu. Temui Karina dan minta maaf sekarang juga!”
Tut!
William menghela napas panjang, bersandar ke kursi. Matanya terpejam, dadanya naik turun mengatur napas. Ia terlalu lelah untuk berdebat—jawaban apa pun tak akan meredakan amarah ibunya.
Satu detik kemudian William membuka mata, ia buka laci, menekan kombinasi angka, lalu menarik pintu besi di dalamnya. Kotak transparan berisi cincin tunggal tersimpan rapi. William menatapnya lama. Seharusnya ada dua cincin di sana, tetapi pasangan cincin itu tidak pernah ia ketahui keberadaannya.
Hal itu juga yang selalu membuatnya penasaran. Kemana hilangnya cincin itu? Sebab William merasa kehidupan cintanya berakhir saat cincin itu hilang.
Tok tok!
“Masuk.”
Felora muncul di ambang pintu.
Tanpa sadar William memindai Felora, hingga pandangan William turun ke jari manis gadis itu. Sama seperti setiap pertemuan mereka, matanya selalu terpaku di sana. Menatap cincin yang serupa dengan miliknya.
Tatapannya beralih ke wajah Felora yang buru-buru menghindari kontak mata. William perhatikan gerakan penuh salah tingkah Felora. Ia tahu gadis ini bukan tipe yang ceroboh dalam berkata-kata, apalagi melakukan kebohongan seperti itu. Karena itulah William penasaran, permainan apa yang sedang gadis ini mainkan?
***
Keberanian yang Felora miliki seketika terhempas saat tatapan dingin William menyambutnya. Kepala Felora tertunduk, matanya bergerak liar, menghindari tatapan William. Hingga tatapannya jatuh pada papan yang tergeletak di atas meja.
Prof. Dr. William Aditama Jayanegara, S.Mb., M.B.A. || Rektor
Tamparan tak kasat mata tiba-tiba Felora dapatkan. Dalam hati merutuki kecerobohannya lagi. Bagaimana mungkin ia bisa mengakui pria di depannya ini sebagai kekasih?
“Kemari.”
Felora terperanjat. Matanya terbelalak. “Ke—kemana Pak?”
“Kemari. Lihat jurnal yang akan saya terbitkan.”
“Ah—baik.” Felora mendekat ke arah meja William. “Bisa saya lihat Pak?”
“Kemari.”
“Huh?”
“Berdiri di samping saya.”
Felora menggigit bibir, ragu.
“Biasanya juga seperti itukan?”
Ya... memang, tapi kali ini rasanya sangat berbeda. jantung Felora tidak berhenti berdegup kencang. Kedua tangannya pun bergetar, gugup. Sungguh Felora sangat takut dengan hal-hal yang akan ia hadapi.
Pria yang selama ini selalu membuat dadanya berdesir nyaman, kali ini membuatnya takut. Intimidasi yang pria itu berikan benar-benar buruk, dia seolah ingin menghabisinya.
Felora mendekat. Begitu berdiri di samping William, saat itulah Felora menyadari kalau layar komputer milik William mati, detik itu juga sebuat tarikan tak terduga membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan, dan sebelum bisa menghindar, ia sudah terjatuh ke pangkuan William.
Mata Felora terbelalak, begitu menoleh hidung mereka bersentuhan. Napas Felora tertahan, sekujur tubuhnya meremang hebat. Ketika Felora akan bangkit, sepasang tangan menguncinya untuk tetap duduk diatas paha kokoh pria itu.
“Pak....”
“Kenapa? Kita pacarankan?”
Deg!
Felora terkesiap, jantungnya semakin meloncat-loncat tidak terkendali. Hidung mereka kembali bersentuhan, napas hangat berbaur, menjalar hingga membuat wajah Felora terasa panas.
“Pak.”
“Sekali lagi kamu bergerak, kamu akan membuat sesuatu di bawah sana bangun.”
Felora mematung. Saat Felora bertemu mata William, dunia seakan berhenti. Obsidian itu adalah lautan dalam yang seolah siap menenggelamkannya kapanpun.
“Cantik.”
“Huh?” wajah Felora semakin memanas. Apa katanya?
“Ternyata saya punya pacar yang cantik.”
Apa William sarkas?
“Pak. Maaf.”
Suara Felora tercekat, ditatapnya William penuh penyesalan.
“Maaf.” Felora menggigit bibirnya sesaat, menunduk malu. “Maaf karena saya sudah mengaku-ngaku sebagai pacar anda pada Reno. Maafkan saya.”
“Saya benar-benar menyes—.” Ucapan Felora terhenti saat William mengetatkan pelukannya.
“P—Pak.”
Saat William semakin mendekat, Felora buru-buru menahan tubuh William dengan kedua tangannya. Kepalanya menoleh ke kiri sebelum jarak diantara mereka semakin menipis.
“Jangan coba-coba tarik ucapanmu itu Felora.”
Huh?
Felora menoleh, ketiga kalinya hidung mereka bersentuhan. Tatapannya kembali terkunci.
“Mulai sekarang kita sepasang kekasih.”
Maaf Dewa, sepertinya masalah ini tidak akan selesai dengan mudah.