Sebuah Kebohongan, Sebuah Kejutan
“Aku gak bisa Reno, sudah aku bilang aku punya pacar.”
“Mana? Terakhir kali kamu bilang Dewa itu pacar kamu tapi nyatanya dia cuma temen. Aku tahu ya, Dewa itu punya gebetan di Fakultas Kedokteran. Kamu udah gak bisa bohong lagi sama aku.”
Perempuan berwajah manis itu meneguk ludah gugup, matanya bergerak liar—mencari alasan yang tepat untuk menolak pria di depannya lagi. Ya... lagi, terhitung tujuh kali pria itu sudah menyatakan perasaan dan tujuh kali pula Felora menolak. Selain karena tidak suka, Reno juga arrogant, kasar.
“Ya, aku akui Dewa emang bukan pacar aku. Tapi aku beneran punya pacar Reno.”
“Aku tahu kamu bohong Fel.”
“Enggak. Ini... cincin ini buktinya aku gak bohong. Hubunganku dengan pacarku sudah sangat serius. Jadi tolong jangan maksa.” Felora menunjukkan sebuah cincin di jari manis tangan kanannya.
“Semua orang bisa pakai cincin dijari manisnya.” Reno mendesak maju, Felora mundur. “Aku gak akan pernah percaya sampai kamu bilang siapa pacarmu itu.”
“Kamu tahukan? Kalau sampai kamu berbohong lagi, kali ini aku akan melakukan apapun agar kamu bisa jadi pacarku.”
Lagi, Felora meneguk ludah kasar. Isi kepalanya mendadak kosong, tidak ada satu pun nama yang muncul di kepalanya, bahkan tidak ada lagi alasan tersisa untuk menghindari pria itu. Matanya berpaling saat pria itu semakin mendekat dan mendesaknya ke dinding. Saat itu pula seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan kaca mata bertengger dihidung dan tatanan rambut yang menunjukkan dahinya penuh percaya diri, berjalan keluar dari dalam mobil menuju gedung rektorat.
“Siapa Fel?”
“William. Pak William.”
“Huh?”
Felora menahan napas sesaat, kemudian menatap Reno lagi.
“Tidak mungkin.”
“Aku mahasiswa terbaik di kampus ini, aku juga selalu ditunjuk untuk membantunya melakukan penelitian. Apanya yang tidak mungkin? Jadi tolong, setelah ini jangan menggangguku lagi Reno.”
Setelah menyebut nama William, entah mengapa keberaniannya muncul begitu saja. Felora juga tidak mengerti, darimana keberanian itu datang. Padahal selama ini Felora tidak pernah berani melawan Reno. Sebab orangtua Reno adalah orang yang paling berpengaruh di kampus, donatur terbesar dan setiap kali ada yang berurusan dengan Reno akan dihabisi meskipun tidak bersalah.
Felora tidak mau kalau sampai harus kehilangan kampus impiannya, makanya selama ini Felora sangat berusaha menolak Reno dengan cara yang halus. Felora selalu mendapatkan cara cerdas untuk menolak pria menyebalkan itu. Namun kali ini yang ia lakukan sepertinya sedikit gila.
“APA?! Lo bilang lo pacaran sama Pak William? FEY gila lo! Darimana asalnya keberanian lo itu? Lo gak inget Pak William tuh dinginnya kayak apa? Kutub utara aja kalah dingin sama beliau, dan lo dengan berani ngaku-ngaku jadi pacar dia? Lo gak kepikiran apa, gimana kalau sampai Pak William tahu? Lo bisa di DO karena perbuatan tidak menyenangkan dan pencemaran nama baik.”
“Gue gak kepikiran sejauh itu Ca. Demi Tuhan, waktu itu pikiran gue kosong dan pas banget Pak William lewat. Yaudah.”
“Ya gak harus lo bilang William yang lo sebutin itu Pak William juga kali Fey. Lo tuh.... argh! Lo tuh cari mati. Lo bilang gak mau bermasalah sama Reno si anak donatur kampus. Tapi sekarang lo malah nyeret nama anak pemilik kampus. Gila lo! Gak waras.”
Risa, sahabat Felora mengerang frustasi mendengar setiap kalimat yang Felora ucapkan. Ia benar-benar kesal dengan semua kecerobohan yang Felora lakukan.
“Yaudah sih mau gimana lagi? Udah kejadian juga.”
“Terserah deh. Gue gak ikut-ikutan ya kalo lo kena masalah gara-gara ini. Lo harus inget, lo masih ada kelas yang sama bareng Reno di kelas Pak William. Kalau sampai Reno berani nanya langsung, mati deh lo. Lo pasti dipermalukan abis-abisan.”
“Risa bisa gak sih lo jangan nakut-nakutin?”
“Lah ini kelakuan lo juga.”
“Risa please... pokoknya lo harus bantuin gue.”
Risa mendengus, pada akhirnya memeluk Felora disertai menghela napas panjang. Rasa ibanya pada Felora lebih besar daripada kesal yang sedang ia rasakan.
“Lo hampir gak pernah melakukan kesalahan dan kecerobohan apapun Fey. Sekalinya bikin kecerobohan bikin jantung gue hampir loncat.” Ujarnya pelan. “Lo tenang aja, gue bantuin kok.”
***
Tidak tenang selalu Felora rasakan setiap kali berpapasan dengan William, rasa bersalah dalam hatinya muncul namun untuk mengucap maaf pun tidak bisa ia lakukan—ya coba saja pikirkan, apa reaksi William saat ia tiba-tiba meminta maaf tanpa konteks yang jelas? William mungkin akan kebingungan dan menganggapnya orang aneh.
Sampai hari Kamis datang, hari itu William masuk tanpa diwaliki asisten dan Reno pun yang biasanya bolos, hadir di kelas. Ketegangan dalam hati Felora muncul, dalam hati Felora terus berdo’a semoga saja Reno tidak cukup berani untuk bertanya pada William tentang status mereka. William bukan Dewa yang akan melindunginya. William mungkin akan memberinya tatapan tajam, lalu berkata jujur dan berakhir ia dipermalukan seperti yang Risa katakan.
Sepanjang perkuliahan Felora berusaha untuk tetap fokus meski dengan jantung yang berdebar kencang, beberapa kali Felora pun mengajukan pertanyaan untuk mendistraksi isi kepalanya, di sisi lain Reno pun cukup tenang di bangku paling belakang. Sampai William mulai merapihkan meja saat perkuliahan selesai, Reno bersuara hingga membuat jantung Felora meloncat dari tempatnya.
“Pak William. Ada yang ingin saya tanyakan.”
Napas Felora tercekat.
“Silahkan.”
“Anda pacaran dengan Felora?”
Deg!
Dunia di sekeliling Felora mendadak sunyi. Ia tak tahu bagaimana reaksi orang-orang, ia pun tidak ingin tahu bagaimana dengan reaksi William. Dalam hati Felora merutuki dirinya sendiri. Seharusnya Felora tahu kalau Reno itu orang tidak tahu malu dan tidak punya rasa takut. Bertanya seperti itu bukan hal yang sulit untuk dia lakukan.
Beberapa waktu belum ada jawaban dari William. Felora memberanikan diri mengangkat wajah, menatap William yang ternyata tengah menatapnya dengan intens, menatapnya dingin, datar dan juga tajam. Napas Felora tertahan di tenggorokan. Selesai sudah semua impiannya untuk lulus di kampus ini. William pasti marah dan akan mengeluarkannya.
“Benar.”
“Huh?”
Felora menatap William. Apa katanya?
“Kami pacaran.”