Tiga Puluh Tujuh

1528 Kata

Pagi ini suasana kebahagiaan serta keramaian di kediaman Devan telah kembali. Suasana yang rasanya sudah lama hilang. Jarak yang sempat memisahkan keluarga mereka pun kini tak hanya putus, namun telah musnah. “Mamih, dimana kaos kaki Dicka?” Teriak Dicka. “Sayang, dasiku yang berwarna coklat dimana ya?” Teriak Devan tak mau kalah. Siska yang sedang menyiapkan sarapan tak menanggapi teriakan mereka. Hingga akhirnya Dicka dan Devan pun keluar dari kamar dan menghampiri Siska. “Mamih!!!”              “Sayang!!!” Teriak Devan dan Dicka bersamaan. “Papih, Dicka dulu.” “Papih dulu. Papih yang tua duluan.” “Dicka dulu. Dicka yang masih kecil. Orang tua harus mengalah.” “Papih dulu.” “Dicka dulu.” “STOOPPPPP!!!!” Siska yang sedari tadi hanya diam pun akhirnya berteriak karena tak tah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN