Kami berjalan menyusuri desa terlarang ini. Jika bukan karena solidaritas sesama kawan, nggak bakal deh mau. Desa ini cukup luas. Beberapa rumah penduduk masih berdiri tegak, walau sudah dipenuhi sarang laba laba dan debu di mana mana. bahkan banyak yang sudah rusak. Itu sudah jelas karena lama tidak ditempati dan pernah terjadi insiden mengerikan di desa ini. Ada beberapa bercak darah yang kutemukan di dinding setiap rumah di sini. Wah, menyeramkan sekali jika sampai aku membayangkan apa yang terjadi dulu di sini. Pembantaian massal dilakukan oleh seorang pria yang punya gangguan jiwa pasti. Mana ada orang waras bisa setega itu membantai 1 desa. "Kita nyarinya gimana nih? Berpencar aja? Biar cepat ketemu," saran wicak. "Tunggu." Faizal tiba-tiba muncul menyusul kami. "Lhaa ... Ki

