Sepanjang perjalanan menuju ke rumahnya, Yuni hanya menangis dan terus menangis sejak pergi meninggalkan Daniel seorang diri di Pantai Eurwangni.
Bahkan supir taksi pun tak berani berbicara dengan Yuni karena takut mengganggunya, hanya mampu memberi tissu dan kantung plastik untuk membuang bekas tissu nya lalu sesekali melihat Yuni yang menangis pilu.
Sesampainya di depan rumahnya, Yuni langsung menyerahkan uangnya tanpa meminta kembaliannya sebagai ganti tissu yang sudah Yuni habiskan tadi.
Tak lupa Yuni pun berterima kasih pada supir taksi tersebut karna sudah mengantarnya pulang dengan selamat dan memberikan tissu padanya lalu dibalas dengan ucapan terima kasih kembali oleh supir taksi karena Yuni tak mengambil kembaliannya.
Yuni pun masuk ke dalam rumahnya dengan terburu-buru menuju kamar tidurnya.
Sesampainya di kamar tidur, Yuni pun menghempaskan badannya ke tempat tidur lalu menangis dan terus menangis.
"Apakah keputusanku tepat dengan tidak menerima Daniel? Bagaimana jika Daniel benar-benar menikah dengan orang lain? Apakah aku tidak akan menyesali keputusanku ini nantinya?
Namun jika aku menerima Daniel, bagaimana dengan Kento nanti?
Ohhh Tuhan, tolong buatlah agar aku bisa melupakan Daniel, orang yang kucintai dalam diamku lalu mencintai Kento, orang yang selalu mencintaiku dan selalu ada untukku" Batin Yuni pilu yang tak berhenti menangis.
Tak lama ponsel Yuni pun berbunyi, tertera nama Kento di layar ponsel Yuni.
Yuni pun segera berlari ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan kembali ke tempat tidurnya lalu mengambil air di sampingnya untuk membasahi tenggorokannya yang kering akibat menangis selama 2 jam.
Yuni akhirnya menjawab panggilan ketiga Kento dengan nada ceria seakan tidak terjadi apapun padanya hari ini.
"Malam Yun. Lagi sibuk ya? Kenapa telponku gak dijawab tadi?"
"Malam Ken. Enggak sibuk kok, tadi habis dari kamar mandi"
"Ohh gitu, aku pikir kamu lagi diluar Yun. Udah makan malam Yun?"
"Iyaa Ken, aku dirumah, bukan diluar Ken. Belum makan nasi tadi cuma makan roti aja. Kamu udah makan Ken?
"Kenapa gak makan nasi Yun? Mau aku beliin makanan lalu kuantar ke rumah Yun? Aku udah makan tadi sama keluarga pasien Yun"
"Enggak selera makan nasi Ken, udah kenyang makan roti aja. Gak usah Ken, lagian kamu kan baru sampai rumah, masa mau keluar lagi Ken."
"Gak boleh gitu Yun. Di RS makan gak teratur karena sibuk, masa dirumah juga gitu Yun. Kamu mau makan apa Yun? Biar aku belikan sekarang Yun."
"Enggak pa-pa Ken. Nanti kalau lapar, aku buat nasi goreng. Emangnya kamu gak capek Ken baru pulang udah mau pergi lagi?"
"Yaudah deh kalau gitu. Tapi beneran kalau lapar nanti buat nasi goreng Yun, jangan ditahan lapernya. Kalau untukmu, aku gak pernah capek Yun. Seperti yang selama ini kulakukan, aku akan selalu ada untukmu Yun, kapanpun dan dimanapun aku berada"
"Hmmmm keluar gombalan maut Dr. Yamazaki."
"Enggak Yun, aku gak gombal. Aku serius Yun. Tawaranku untuk mengantarkanmu makan tadi hanya alasan Yun. Sebenernya aku sangat merindukanmu."
"Elehhhhh baru beberapa jam gak jumpa karena tadi aku pulang sore masa udah kangen aja Ken"
"Itulah perbedaanku denganmu Yun. Karena aku sangat mencintaimu dan kamu tidak mencintaiku. Bahkan saat aku sedang melihatmu, aku masih merindukanmu, apalagi jika aku tidak melihatmu Yun."
"Maaf ya Ken karena aku belum bisa membalas perasaanmu dan mungkin selama ini aku hanya menyakiti hatimu Ken."
"Enggak Yun, Jangan minta maaf padaku. Ini bukan salahmu kalau aku sangat mencintaimu dan bukan salahmu juga kalau kamu belum bisa membalas perasaanku Yun. Karena aku tau kalau cinta gak bisa dipaksakan. Karena itulah aku sedang berjuang sekarang Yun, berjuang keras untuk mendapatkan hatimu. Walaupun aku gak tau sampai kapan aku akan berjuang tapi aku tau kalau kamu adalah wanita yang sangat pantas untukku perjuangkan.
Hanya dengan perhatian-perhatian kecilmu sudah bisa membuatku merasa sangat bahagia Yun. Apalagi jika aku bisa mendapatkan cintamu maka aku akan menjadi orang paling bahagia di dunia Yun.
Jadi seperti aku yang gak pernah lelah berusaha mendapatkan hatimu, aku harap kamu juga bisa terus berusaha untuk mencintaiku Yun."
"Terima kasih Ken karena sudah mengerti perasaanku, terus berjuang keras untukku dan tidak menyerah padaku Ken. Aku merasa sangat beruntung bisa dicintai olehmu dan akan terus berusaha keras untuk bisa membalas perasaanmu Ken."
"Mendengar hal itu darimu sudah bisa membuatku bahagia Yun jadi jangan pernah merasa bersalah lagi padaku Yun karena aku tidak suka hal itu."
"Iya Ken, aku tidak akan merasa bersalah lagi padamu. Bukankah kamu lelah Ken? Ingin pergi mandi?"
"Enggak Yun, aku masih ingin mendengar suaramu karena rasa rinduku belum hilang Yun. Aku akan mandi sebelum tidur nanti."
"Hmmm ok kalau gitu aku akan berbicara terus sampai rasa rindumu hilang. Atau kamu ingin kita video call? Mungkin saja rasa rindumu akan lebih cepat hilang Ken?"
"Hahaha Enggak usah Yun. Kalau aku melihat wajahmu sekarang, bukannya hilang rasa rinduku, malah akan semakin bertambah lalu membuatku menggunakan jurus teleportasiku dan menggedor pintu rumahmu nanti Yun"
"Hehehe, Benarkah Ken? Hmmm kalau gitu aku gak boleh video call denganmu Ken karena aku takut kamu akan menggunakan kekuatanmu dan menerobos rumahku nanti."
"Hahaha keputusan yang bijak Yun"
"Hihihi aku kan memang wanita yang bijak Ken"
"Hehehe kamu bukan hanya bijak Yun, kamu juga baik hati, ramah, lembut, pintar, cantik dan juga manis. Karena itulah aku sangat mencintaimu Yun."
"Hahaha keluar lagi deh gombalan maut Dr. Kento Yamazaki yang paling pintar ngegombal"
"Enggak Yun, aku gak ngegombal. Itu emang kenyataannya. Lagian juga aku hanya bersikap seperti ini padamu Yun, tidak pada wanita lain"
"Ahhhh benarkah Dr. Yamazaki? Berarti aku adalah wanita yang beruntung bisa mendapatkan cinta Dr. Yamazaki, disaat banyak wanita diluar sana mengharapkan cintanya? Bukankah Dr. Yamazaki juga selalu perhatian pada banyak wanita diluar sana? Bahkan ada beberapa mantan pasien Dr. Yamazaki yang melamar Anda bukan?."
"Hahaha jangan menggodaku Yun. Aku serius sekarang ini. Aku tidak pernah menganggap mereka sebagai wanita Yun, hanya kamu wanita untukku. Bukankah kamu tau itu Yun? Aku melihat mereka sebagai pasienku dan itu adalah kewajibanku untuk memberi mereka perhatian lebih agar menceritakan masalah mereka, mendengarkan masalah mereka dan membantu mereka menjadi lebih baik lagi karena itu adalah pekerjaanku Yun."
"Hehehe Iya Ken, aku tau itu kok. Aku hanya bercanda Ken, jangan terlalu serius."
"Hahaha aku pikir kamu cemburu Yun. Aku merasa sangat senang mendengarnya."
"Enggak kok. Siapa juga yang cemburu Ken. Wekkkk."
"Hahaha cemburu pun gak pa-pa Yun. Aku malah merasa sangat senang karena selama ini hanya aku yang selalu cemburu melihatmu bersama pria lain yang berusaha mendekatimu Yun."
"Hihihi nanti saat aku merasa cemburu, aku akan mengatakannya padamu ya Ken."
"Hahaha semoga itu terjadi dalam waktu dekat ini ya Yun."
"Hehehe Iya Ken. Aku sudah ngantuk Ken, apa rasa rindumu sudah hilang Ken?"
"Kalau aku bilang rasa rinduku belum hilang Yun? Apa kamu gak akan mematikan telpon ini Yun?"
"Iya Ken, kalau rasa rindumu belum hilang, aku gak akan matiin sampai rasa rindumu hilang bahkan jika aku tertidur nanti Ken."
"Hehehe Enggak Yun. Aku sudah merasa bahagia mendengar perkataanmu Yun. Pergilah tidur. Sudah larut malam juga dan kamu harus mengecek jadwal operasi serta keadaan pasien sebelum tidur bukan?"
"Hihihi Iya Ken. Kalau gitu aku tidur dulu ya Ken. Kamu juga pergi mandi lalu tidur Ken."
"Iya Yun, Besok jam berapa pergi ke RS biar aku jemput Yun."
"Pukul 10 Ken karena aku ada operasi pukul 11 jadi sebelum ke ruang operasi aku ingin mengecek beberapa pasien dulu."
"Oke kalau gitu aku jemput pukul 9 lewat ya supaya kita bisa sarapan dulu di kantin."
"Iya Ken, aku tunggu pukul 9 lewat ya."
"Sipp Yun. Good night dear. Have a nice dream. I always love you so much."
"Good night Ken. Have a nice dream. I know you always love me so much."
Yuni pun memutuskan panggilan telpon Kento dan mengecek keadaan pasiennya yang akan dioperasi besok.
Keadaan Yuni pun sudah kembali ceria seperti sebelum kejadian pantai Eurwangni dengan Daniel tadi yang membuatnya terus dan terus menangis tanpa henti.
Setidaknya saat bersama Kento, Yuni merasa nyaman dan bahagia karena Kento selalu memperlakukan Yuni sebagai wanita yang sangat istimewa dengan perhatian dan kasih sayangnya.
Kento tidak pernah malu memuji Yuni dan mengungkapkan cintanya pada Yuni meskipun Yuni tidak pernah membalasnya.
Kento pun selalu ada untuk Yuni saat Yuni sedang sedih, terpuruk atau membutuhkan tempat untuk bersandar.
Hal yang wajar bagi seorang Dokter jika tiba-tiba keadaan pasiennya memburuk atau bahkan meninggal namun Yuni selalu merasa sedih saat itu terjadi dan Kento selalu ada untuk menenangkannya dan menghiburnya.
Terkadang Yuni pun tidak mengerti mengapa seorang Dr. Kento Yamazaki bisa sangat mencintainya seperti itu.
Bahkan Yuni pun sering bertanya mengapa dan bagaimana bisa Kento mencintainya sepeti itu.
Kento pun selalu menjawab kalau di acara makan malam penyambutan kedatangan Kento membuat Kento jatuh cinta untuk pertama kalinya pada Yuni. Dan saat Kento mengenal Yuni lebih dalam membuat perasaan cinta itu semakin lama semakin membesar. Yuni pun tidak ingat sebenarnya apa yang terjadi hari itu sehingga membuat Kento jatuh cinta padanya.
Karena itulah meskipun Yuni tidak bisa membalas perasaannya namun Yuni sebisa mungkin menjaga perasaan Kento agar tidak sakit hati atau cemburu dengannya.
Yahh, sudah setahun lebih Kento mengejar cinta Yuni, tapi baru 6 bulan yang lalu Yuni memutuskan untuk menerima Kento.
Maksud dari menerima Kento bukanlah membalas perasaannya karena Yuni tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa hanya Daniel yang ada dihatinya dari dulu hingga sekarang.
Namun Yuni menerima Kento dengan cara mencoba membuka hatinya untuk bisa membalas rasa cinta Kento yang begitu besar padanya.
Yuni tidak dekat dengan pria manapun untuk menjaga perasaan Kento, dan mencoba untuk tidak melakukan hal-hal yang akan membuat Kento sakit hati atau cemburu.
Saat Kento memberi perhatian padanya, Yuni membalas dengan perhatian juga.Yuni pun juga memberitahu Kento kesehariannya begitu juga dengan Kento.
Yuni dan Kento pun melakukan hal-hal yang dilakukan oleh sepasang kekasih seperti makan malam romantis, jalan-jalan akhir pekan, mendaki gunung, nonton bioskop, pergi ke pantai dan saling mengenalkan pada keluarga masing-masing walaupun ada unsur ketidak sengajaan dan hanya mengenalkan sebagai teman dekat.
Bahkan sudah bisa dikatakan kalau Kento dan Yuni adalah sepasang kekasih. Hanya saja Yuni yang belum bisa membalas perasaan Kento dengan mengatakan kalau Yuni juga mencintai Kento.
Jadi Yuni sudah memutuskan untuk melupakan kejadian hari ini seolah tidak terjadi apapun. Dan fokus pada Kento yang selama ini selalu membuat Yuni menjadi prioritasnya