"Kalian benar-benar keterlaluan! Apakah karena aku belum resmi menjadi istri Kafka, maka kalian tidak mau mendengarkan perintahku?!" Suara Mala Nasram terdengar keras dari arah ruang tamu. Bukan hanya terdengar marah, tetapi juga tersedu-sedu, seperti baru saja dipukuli oleh seseorang. Yana yang masih dalam pelukan Kafka, merasa tidak nyaman melihat sosok wanita itu di tengah ruangan. Mala memeluk perutnya yang mulai membesar, air matanya jatuh seperti mutiara putus. Benar-benar pemandangan yang menyedihkan, membuat siapa pun ingin segera memeluk dan menenangkannya. Dia tampak seperti bunga yang rapuh di tengah jalan, siap diinjak oleh orang-orang, atau dilindas oleh kendaraan yang lewat kapan saja. Penampilan Mala yang menangis seperti itu jelas menjadi kelemahan di hati para pria.

