Yana hanya bisa terdiam dengan wajah semakin muram. Kafka kemudian memberikan perintah kepada para pelayan untuk segera mempersiapkan segala sesuatu demi menyambut hari raya besok. Ketika langkah kaki mereka hendak menuju lantai dua, Yana tiba-tiba menghentikannya. "Kita mau ke mana?" tanyanya dengan nada dingin, tapi juga penuh kebingungan. "Kamu tidak ingin kembali ke kamar kita?" Kafka balik bertanya dengan ekspresi datar. Mendengar perkataan itu, para pelayan di mansion menegang. Beberapa dari mereka tampak gelisah, ada yang menundukkan kepala, dan ada pula yang mulai terlihat panik. Yana melepaskan pelukan pria itu dari punggungnya, lalu berkata dengan nada selembut mungkin, "Bukan hanya ingin menempatkan istri sah dan simpanan di atap yang sama, tapi juga ingin memberi kami kama

