**
"Jangan bercanda, Kakaku tidak berkencan."
Suara itu masih memenuhi kepala Naetra, menggerakakkan gelasnya perlahan sebelum menghirup aroma memabukkan yang setidaknya saat ini mampu membuat Naetra mengalihkan pikirannya dari gadis yang tak pernah ia perhitungkan mampu membuatnya nyaris kehilangan kendali.
Apa yang sebenarnya kau lakukan Naetra?
Apa kau benar benar sudah gila?
Menghancurkan dinding kokoh yang selama ini mengelilinginya lalu menarik gadis asing yang mulai mengganggu kepalanya.
Naetra rasa ini sepadan.
Bagaimana ia menghabiskan hidupnya menyendiri, bersembunyi dari dunia dan berusaha tidak membuat keributan sekecil apapun.
Ia bahkan selalu menghindari hubungan yang terlalu jauh dengan wanita manapun yang selama ini berlomba lomba mencuri perhatiannya.
Liandra membuatnya berbeda.
Gadis itu sebuah pengecualian.
Semua yang ada pada dirinya terus berputar dikepala Naetra yang selama ini dipenuhi tentang Kakaknya.
Bagaimana gadis itu selalu mengganggu dengan tingkah cerobohnya.
Bagaimana sepasang mata gepalanya menatap Naetra dengan bingung.
Bagaimana bibir menggodanya bergerak pelan mengerangkan namanya.
Brengsek.
Naetra mengeraskan rahangnya, meneguk anggurnya dengan rakus saat ia kembali kehilangan kendali.
Liandra.
Gadis itu.
Dia seperti Anggur.
Warnanya mampu menarik siapun untuk mendekat padanya.
Aroma memabukkan yang akan memenuhi kepala hingga membuatmu menjadi gila.
Sekali meneguknya akan membuatmu kembali tergoda untuk tegukan berikutnya.
Pesonanya tidak akan melepaskanmu dengan mudah.
Lalu dengan bodohnya, Naetra datang dan meneguknya tanpa perthitungan.
Bagaimana bisa gadis ceroboh sepertinya memiliki pengaruh sebesar ini padanya?
Benar benar.
Kau sepertinya mengambil langkah yang terlalu jauh Naetra.
**
Pagi itu sama seperti biasanya, langkah yang diseret dan rengekan menyebalkan. Berguling disisi ranjang Liandra yang tidur memunggunginya.
"Liandra, aku lapar."
Suara seraknya memenuhi telinga Liandra yang hanya menggeliat dengan gumaman tidak jelas.
Athar yang menyadari Kakaknya yang terdiam sejak pria sialan tampan itu meninggalkan Apartement mereka berguling saling memunggungi dengan Liandra, membuka matanya menyadari ia sepertinya melakukan sesuatu yang membuat Liandra kesal.
"Kalian benar benar berkencan?"
Tak ada sahutan, Athar merapatkan selimutnya tidak peduli tubuhnya akan dengan mudah terjatuh menghantam lantai karna ranjang Liandra yang terlalu kecil untuk mereka berdua.
"Apa aku datang diwaktu yang tidak tepat? Ah, Tapi aku lapar."
Liandra membuka matanya, mendengus kesal lalu bergegas bangkit dan melemparkan tatapan tajamnya.
"Ini bukan pagi yang indah, Tuan Muda."
Athar kembali berguling menghadap Liandra dan menatapnya dengan mata sama mengantuknya.
"Jangan berkencan jika itu akan membuatmu merasa bersalah, aku tidak mau kau menambah masalah dalam kepalamu."
Liandra mengibaskan rambutnya, menendang Athar hingga berguling dengan suara bedubum keras dilantai.
"Liandra!"
"Jangan coba menceramahiku sebelum kau menyelesaikan kuliahmu!"
Liandra melempar bantalnya kearah Athar yang masih meringis diatas lantai.
"Tapi aku lapar."
"Kepalamu benar benar hanya berisi seputar makanan?"
"Bagaimana lagi, aku lapar."
Liandra berkacak pinggang, menatap Athar yang memeluk bantal yang ia lemparkan dengan lilitan selimut bergambar anak ayam ditubuh tegapnya.
"Entah bagaimana kau akan hidup tanpa Kakakmu ini."
"Oh, aku hanya perlu mencari istri."
"Brengsek."
Athar berguling cepat menghindar, nyaris mendapat hantaman botol parfum yang jelas akan meninggalkan luka memar di wajah tampannya.
"Aku akan menuntutmu!"
"Coba saja!"
Gadis itu melenggang meninggalkan Athar yang kembali bergelung, menatap sepasang kaki Liandra yang bergerak kesana kemari dari dalam kamar.
Apa mencari sesuatu?
"Liandra, aku lapar."
"Aku mencari ponselku."
Athar nyaris memutar bola matanya malas, merapatkan selimutnya dan kembali memejamkan matanya.
"Athar!?"
"Sepertinya, kau melupakannya lagi di loker bersama dompetmu."
Gumam Athar, mengernyitkan keningnya saat mendengar suara keributan dari ruang tengah.
"Benarkah? Ah, yah! Aku melupakannya."
Liandra benar benar.
"Bisakah kau membuat makanan dan berhenti menghancurkan apapun? Minggu ini aku tidak punya waktu merapihkan apartement."
"Aku harus menelpon."
Athar membuka kembali matanya, menatap sepasang kaki yang dibalut panda berbulu menggemaskan semakin mendekat kearahnya.
"Aku benar benar lapar."
Gadis itu mengambil jepitan untuk menahan gulungan rambutnya dinakas, benar benar mengabaikan Athar yang kini merengek memeluk kakinya agar segera dibuatkan sesuatu.
"Athar! Lepaskan aku!"
"Aku lapar."
"Jika kau tidak melepasku, aku benar benar tidak akan membuat apapun!"
"Oke."
Athar kembali memeluk bantalnya seraya memejamkan mata, membuat Liandra lagi lagi hanya mampu menggelengkan kepala melihat pria bertubuh jangkung itu akan berubah menjadi monster kelaparan jika bersamanya.
"Ah, yah."
Liandra menahan langkahnya lalu menatap Athar yang membuka sepasang mata segelap matanya dan berbisik pelan hingga membuat Liandra tertegun.
"Kai menghubungiku."
**
Rehyan bersidekap didepan d**a, menatap Liandra yang tertunduk didepannya sama sekali tidak berani bahkan sekedar manatapnya.
Tahu dengan jelas ini bukan sepenuhnya kesalahan gadis itu, Reyhan menekan pelipisnya seraya menghela nafas dengan tenang.
Merasa kehilangan akalnya.
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu, Liandra."
Gadis itu semakin menunduk, memainkan jemarinya dengan cemas dan perlahan membalas tatapan Reyhan dengan sepasang mata indah yang akan mampu membuat siapapun luluh dengan mudah.
"Ini hanya sebentar, aku bahkan akan mengambil jam tambahan."
"Liandra."
"Atau. Chef bisa memotong upahku, aku juga bisa membantu Jean membersihkan dapur setiap malam."
Reyhan menghela nafasnya dengan resah, berkacak pinggang kembali menatap Lindra yang benar benar terlihat begitu merasa bersalah.
"Kau-"
Reyhan membelalakkan matanya saat gadis itu tanpa ragu berlutut dengan kedua tangan yang menyatu didepan d**a, memohon kepanya.
"Hei-Liandra."
Reyhan dengan cepat menarik lengan gadis itu agar bergegas bangkit, namun gadis masih saja tetap meras kepala dan berlutut.
"Jangan seperti ini, Liandra."
"Aku mohon-"
"Liandra!"
Teriakan itu membuat mereka menoleh dan menemuka sepasang pria yang menatap mereka dengan nyalang, melangkah lebar dan menyentak Liandra agar gadis itu bergegas bangkit.
"Naetra-"
"Apa yang kau lakukan!?"
Liandra terdiam saat pria itu beteriak keras dengan rahang yang mengeras, menatapnya dengan sepasang mata kelabu yang terlihat begitu mengerikan.
"A-aku, Naetra-"
"Apa kau selalu menyelesaikan masalahmu dengan berlutut?"
Liandra terdiam, kehilangan kata katanya. Tidak membantah ataupun membenarkan hingga Naetra kini beralih menatap Reyhan dengan tatapan dingin yang bahkan tidak sekalipun pria itu temui.
"Aku rasa kau tahu, apa yang akan terjadi saat kau membuat Liandra melakukan hal yang sama."
Disisnya penuh peringatan, Reyhan hanya mampu mengangguk pelan pelan dan tersenyum tipis.
"Maafkan aku."
"Tapi ini salahku!"
Liandra menarik lengannya dari genggaman Naetra, menoleh menatap Reyhan yang menggeleng pelan dengan rasa bersalah.
"Tidak apa apa, Liandra."
"Tapi-"
"Ikut aku."
Suara yang terdengar dingin menusuk itu membuat Liandra memilih menurut saat telapak tangan lebar itu melingkupi jemarinya.
**