**
Apartement itu tidak terlalu luas bahkan terkesan sempit, tertata dengan sangat tidak rapih melihat bagaimana berantakan ruangan tengah dengan layar datar yang menempel pada dinding putih dan kaset kaset yang bertebaran disekitar sofa. Meja yang dipenuhi beberapa bungkusan roti dan kotak penanganan yang terbuka diatasnya.
"Selamat datang."
Nada datar itu membuat Naetra menoleh kearah Liandra yang menatapnya kesal, jauh lebih baik dari tatapan salah tingkah ataupun kebingungan yang seringkali gadis itu tunjukkan padanya.
"Sudah kukatakan, disini sangat berantakan."
"Kau tinggal bersama adikmu?"
Naetra mengabaikan Liandra, mengambil tempat di sofa dan mengambil kepingan kaset pertandingan bola basket.
"Bagaimana kau tahu?"
Naetra mengedikkan dagunya pada pigura kelulusan Athar saat sekolah menangahnya diatas rak yang seharusnya menjadi tempat adiknya mengumpulkan kepingan kaset.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan?"
Liandra menghela nafasnya gusar, melangkah menuju dapurnya setidaknya membuat minuman yang akan mendinginkan kepalanya.
Katakan.
Bagaimana bisa mengganggu menjadi alasan seseorang manjadikanmu teman kencan?
Apa itu tren baru yang tidak Liandra ketahui saat ini?
Jangan bercanda!
Liandra bahkan sudah berumur 27 tahun!
Yah, 27 tahun tanpa pernah berkencan.
Menghabiskan malam malamnya untuk tetap terjaga bersama pria yang sangat berarti untuknya.
Suara hentakan kecil membuat Liandra mengerjap, membawa nampan dan meletakkannya di atas meja yang seharusnya seorang Naetra masih duduk manis disana.
"Naetra?"
Bisik Liandra, melangkah menuju kamarnya yang terbuka. Menemukan Pria itu duduk ditepi ranjang yang terlalu kecil untuk ukuran tubuh jangkung dan berototnya, sepasang netra kelabunya tampak terpaku pada gambar yang memenuhi dinding kamarnya.
"Apa yang kau lihat?"
Liandra mendekat membuat pria itu mengalihkan perhatiannya sejenak pada Liandra
"Aku hanya melihatmu dan-"
"Athar?"
"Namanya Athar? "
Liandra hanya mengangguk, nyaris memekik saat Naetra menariknya kepangkuannya. Bersandar pada dadang bidangnya yang hangat, tepat menghadap dinding dimana puluhan gambar itu menggantung dengan indah.
"Apa yang kau lakukan?"
Liandra menahan nafasnya saat Naetra meletakkan dagunya bertumpu pada bahunya, benar benar kehilangan akal sehatnya saat pria yang selalu bersikap tenang itu tersenyum dari pantulan cermin didalam kamarnya.
"Berapa lama kau tidak berkencan, huh?"
Brengsek.
Liandra menggeliat kesal yang sialnya membuat lengan lengan kokoh itu membelit perutnya semakin erat, pria itu bahkan tidak mengalihkan perhatiannya dari gambar pada dinding.
"Apa kau sesenang itu?"
Naetra tidak menjawab mendengar nada sinis Liandra, ia bahkan tidak pernah mengira jika si gadis pengganggu ini mampu membuatnya sejauh ini.
Apa Naetra harus mengucapkan terimakasih karna mampu menghiburnya dan mecegahnya menjadi gila karna menghabiskan waktunya sepuluh tahun terakhir ini hanya memikirkan Kakaknya?
"Kenapa hanya foto kalian?"
Tubuh Liandra melemas, membuat Naetra menoleh menatap gadis itu yang termenung beberapa saat sebelum menyunggingkan senyum miris.
"Karna memang hanya ada kami."
"Orangtua kalian?"
"Mereka ada ditempat yang indah."
Naetra tak ingin bertanya lebih jauh, mengeratkan pelukannya pada gadis yang sialnya mampu membuat siapapun menyukainya hanya dalam waktu singkat.
Ah, jadi apa yang sebenarnya Naetra lakukan selama ini?
Mengintimidasi Liandra?
Sepertinya itu balasan yang setimpal bagaimana gadis itu mempengaruhi kepala Naetra.
"Apa kau akan memelukku sepanjang hari?"
Naetra mengangkat sudut bibirnya saat gadis itu mulai kembali menggeliat, memutar tubuh gadis itu hingga berhadapan dengannya.
"Lalu kau ingin melakukan apa?"
Lianda mengerjap sekali, aroma lemon memabukkan itu benar benar menghilangkan akal sehatnya.
"Apa-"
"Masih berpikir aku Gay?"
Liandra memerah, memukul d**a bidang pria yang kini tertawa kecil hingga membuatnya semakin sialan tampan.
Brengsek.
Bagaimana bisa pria ini berubah hanya dalam waktu satu malam?
Apa sesuatu merasuki tubuhnya?
"Apa kau tahu jika kau benar benar menarik, Liandra?"
"Bukankah aku sangat mengganggu?"
Liandra menjerit terkejut saat lengan kokoh itu membantingnya keatas ranjang, memegang kedua lengannya dalam satu genggaman diatas kepalanya.
"Apa-"
Liandra menelan ludahnya susah payah saat jemari itu bergerak lembut menyentuh bibirnya, mengusapnya perlahan dengan tatapan yang benar benar membuatnya menggeliat terbakar.
"Kau mengganggu sejak kita pertama kali bertemu, apa kau percaya jika itu sebuah kebetulan?"
Liandra terengah saat hembusan nafas itu membelai wajahnya, suara berat kasar yang terdengar kasar, aroma lemon memabukkan dan debaran yang menggila di rongga dadanya membuat ia bahkan lupa cara bernafas.
"Yang aku tahu, kebetulan itu hanya omong kosong."
Liandra mengerang tertahankan saat bibir panas itu membungkam mulutnya, mengisapnya kasar bergantian tanpa ampun. Melepaskan cengkramannya dilengan Liandra dan bergerak turun mengusap sisi tubuhnya, membiarkan jemari Liandra menelusup diatara rambut rambut halusnya.
"Naetra."
Liandra mengerang, memejamkan matanya saat ciuman liar itu beralih kerahangnya meninggalkan jejak jejak panas menggilakan, jemari jemari panjang yang menysuri setiap kancing kemejanya membuat Liandra semakin terangah. Mencengkram kuat lengan kokoh yang melilit tubuh Liandra dalam kukungan tubuh jangkungnya.
Brengsek.
Naetra terlalu panas untuk dilewatkan.
Liandra menjerit tertahankan saat hisapan keras dilehernya membuatnya mendongak dengan tubuh yang melengkung, diam diam mengumpat merasa pertahanan dirinya benar benar luluh lantak hanya dalam sekali sentuhan.
Sialan.
Pria ini.
Liandra benar benar tidak berkutik saat telapak tangan panas itu mengusap perut datarnya, membakarnya tanpa ampun.
"Liandra!?"
Teriakan itu membuat Liandra terkesikap dengan nafas yang terengah hebat, mendorong bahu Naetra yang menggeram rendah tampak mengeraskan rahangnya, menatapnya dengan tatapan tajam berkabut.
"Liandra!?"
"Kau ada di apartemen bukan!?"
"Buatkan aku makanan! Aku lapar!"
"Ya tuhan, Aku benar benar lapar."
Liandra mendorong d**a bidang Naetra yang tampak tidak senang melepaskannya, beringsut turun dan mengancing kemejanya dengan terburu buru.
"Liandra!?"
"Apa!?"
Liandra menjerit kesal seraya melempar barang barang disekitarnya kearah Athar sedang bermalas malsan di sofa.
"Aku lapar, apa kau tidak bisa mendengar perutku yang sangat berisik?"
Athar melompat dari sofa saat Liandra kini melemparkan kaset bahkan konsol game kearahnya.
"Apa yang kau lakukan di sin!? Bukankah kau ada kelas pagi ini!?"
"Kelasku dibatalkan."
"Jangan coba coba membohongiku!"
Athar kembali menghindar, melompat saat Liandra kali ini melepar botol pengharum ruangan kearahnya.
"Percayalah! Aku sangat lapar. "
"Persetan!"
Lindra melompat kearah Athar, menubruk tubuh tegapnya hingga menimbulkan suara bedebum keras menghantam lantai.
"Liandra!"
Athar menjerit kesakitan saat Liandra menarik rambutnya seolah olah akan mencabutnya dari sana.
Gadis ini gila!
"Apa kepalamu hanya seputar makanan!?"
"Bagaimana lagi! Aku lapar!"
Teriak Athar berusaha menjauhkan tangan Liandra tanpa menyentuh perbannya, benar benar menahan dirinya tidak membanting tubuh Kakaknya meskipun kulitnya akan ikut terangkat bersama rambutnya.
Oh ya tuhan!
Seseorang selamatkan Athar!
"Itu sakit, Liandra!"
"Rasakan!"
"Kau gila!?"
Deheman keras itu mengakhiri pergulatan mereka, Liandra bergegas bangkit dan melenggang tanpa rasa bersalah kearah dapur. Meninggalkan Athar yang terdiam dengan alis terangkat menatap pria tampan yang bersadar di ambang pintu kamar Kakaknya.
Si-apa?
**