**
Liandra tersenyum kearah Reyhan yang bersidekap menatapnya tidak percaya, menggelengkan kepala pelan lalu mengibaskan tangannya pada Liandra.
"Kau tidak perlu menjelaskan apapun, aku sudah tahu bagaimana cerobohnya kau."
"Terimakasih, Chef!"
"Hei, aku belum memaafkanmu. Sekali lagi kau membuat masalah aku benar benar akan memecatmu."
Liandra hanya meringis saat Reyhan kembali menggelengkan kepalanya, mungkin menyerah akan tingkah Liandra yang tak pernah ada habisnya.
"Sekali lagi terimakasih!"
"Sudahlah, kembali kedepan dan sambut tamu hari ini."
Ujarnya meninggalkan Liandra yang bergegas menuju pintu Restoran dimana salah seorang rekan lainnya ditugaskan menyambut tamu hari ini.
"Sebaiknya kau tidak membuat masalah."
Liandra hanya mengedikkan bahunya mendengar bisikan itu, tersenyum saat salah seorang tamu yang diambil alih oleh rekannya menuju lantai dua.
Perhatiannya lalu teralihkan oleh sebuah mobil hitam metalik yang baru saja melintasi pelataran Restoran, mobil yang sangat tidak asing lagi di matanya.
Memesan tempat lagi?
"Nona?"
"Ada yang bisa kami bantu?"
Liandra tersenyum sopan, seorang wanita dengan setelan kantornya tampak terburu buru.
"Aku sudah memesan tempat di lantai dua, atas nama Tuan Wiyatama."
"Tuan Wiyatama?"
Liandra menoleh, tersenyum lebar saat menemukan Jeanna yang melangkah menghampiri mereka dengan senyuman sopan yang tak pernah lepas dari wajahnya.
"Iya, Pagi ini hingga jam makan siang nanti. Apa semuanya sudah siap? "
"Tentu. Lewat sini, Nyonya."
Setelah Jeanna mengambil alih Liandra kembali ketempatnya, sepagi ini Restoran seringkali hanya dikunjungi oleh orang orang sibuk yang melupakan sarapannya atau mereka yang memesan tempat untuk melakukan pertemuan penting dilantai dua.
"Liandra."
Suara berat kasar itu membuat Liandra terperanjat, tanpa menoleh mencari tahu ia melangkah cepat berusaha menjauh. Memekik tertahankan saat telapan tangan lebar itu menyentuh lengannya dan memaksanya berbalik.
"Aku-"
Liandra kehilangan kata katanya saat sepasang mata kelabu itu menyambutnya, bibir sialan panas yang begitu menggoda dan aroma lemon yang memabukkan jelas bukan kombinasi yang bagus untuk kesehatan Liandra.
"Ada apa dengamu?"
"Aku?"
"Kenapa kau menghindar?"
Liandra menggeliat saat merasakan tatapan itu mulai menghujam punggungnya, sayangnya telapak tangan yang mulai membakar kulitnya tidak ingin bekerja sama.
"Bisa lepaskan aku?"
"Kenapa kau bekerja saat tanganmu masih terluka?"
"Tuan Na-"
"Naetra, bukankah sudah kukatakan untuk memanggilku Naetra?"
Liandra membeku, berhenti melakukan kegiatannya melepaskan diri dari pria yang kini menatapnya dengan tajam lebih tepatnya bibirnya.
Brengsek.
Apa dia mengingat ciuman semalam?
"Apa yang kau inginkan dariku?"
"Kencan."
Liandra mengerjapkan matanya, bibirnya terbuka lalu kembali mengatup merasa ia benar benar kehilangan kata katanya.
Kencan?
Tapi tapi.
"Berkencan denganku."
Bisiknya dengan suara rendah menyesatkan hingga Liandra tanpa sadar menelan ludahnya, bagaimana sepasang mata kelabu itu menatap bibirnya membuat Liandra benar benar ingin menggila.
Sialan, ia bahkan merona seperti remaja!
"Tapi kenapa?"
"Hei! Naetra!"
Teriakan itu membuat mereka menoleh kearah pria yang sedang berkacak pinggang dengan remasan serbet ditangannya.
"Apa yang kau lakukan di pintu Restoran?"
"Aku akan meminjam Liandra hari ini. "
"Hei, Naetra!"
Liandra bahkan tidak sempat membuka mulutnya saat Naetra menariknya meninggalkan Restoran, mendesaknya duduk dikursi penumpang sebuah mobil berwarna biru gelap dipelataran.
Dan pergi begitu saja.
Brengsek!
Apa yang sebenarnya terjadi baru saja!?
**
"Apa kau Gila!?
Naetra nyaris menginjak pedal gasnya saat teriakan itu memenuhi kepalanya, menatap sekilas pada gadis yang menatapanya tidak percaya dikursi penumpang mobilnya.
Satu satunya gadis yang pernah duduk di sana tentu saja
"Anggap saja aku memang gila."
"Tapi tapi."
Naetra menghentikan mobilnya dipinggir jalan lalu menoleh kearah gadis yang kali ini menatapnya bingung, bibir merahnya tampak terbuka lalu kembali mengatup seolah sedang menggoda Naetra.
"Tapi apa?"
"Aku-"
Gadis itu kembali kebingungan, membuat Naetra nyaris tidak mampu mengendalikan dirinya untuk tidak tersenyum hanya karna tingkahnya yang berubah dalam hitungan detik.
"Kenapa aku?"
Naetra menghela nafasnya dengan tenang, mejentikkan jemarinya dikening Liandra hingga gadis itu mengaduh pelan.
"Kau terlalu mengganggu."
Gadis ceroboh yang benar benar mengganggu seorang Naetra.
"Jawaban macam apa itu?"
Liandra mengusap keningnya masih dengan tatapan bingung yang membuat Naetra menggelengkan kepalanya pelan.
"Kita akan tetap berkencan sampai kau tidak menggangu."
Liandra menggeser tubuhnya, duduk menghadapa Naetra dengan tatapan seriusnya.
"Apa kau selalu berkencan dengan semua gadis yang mengganggumu?"
"Sejauh ini hanya kau yang menggangguku."
Liandra mengerjap, kembali kehilangan kata katanya.
"Aku akan berhenti mengganggumu, jadi aku mohon hentikan-"
Naetra menahan jemari gadis itu yang akan menyatu kembali memohon padanya, tidak lagi.
"Jangan memohon."
"Aku sungguh akan berhenti mengganggumu, jadi hentikan ini."
Bisik Liandra menarik jemarinya dari genggaman telapak tangan lebar Naetra.
"Dimana Rumahmu?"
Eh?
"Aku tidak punya rumah."
Naetra menatap Liandra dengan alis terangkat yang menjawabnya bingung.
"Lalu dimana kau tinggal?"
"Apartement?"
Naetra nyaris tertawa mendengar jawaban Liandra yang lagi lagi terdengar seperti pertanyaan, ia kembali bertanya tanya apa yang sebenarnya memenuhi kepala cantik gadis ini.
"Baiklah, kita ke apartemenmu."
A-pa?
"Apartemenku!?"
Naetra berdecak kesal saat Liandra menjerit tertahankan, mendekatkan tubuhnya hingga gadis itu menahan nafasnya dengan tubuh membeku.
"Apa kau sangat senang berteriak?"
Naetra mengangkat jemarinya, mengusap dengan lembut bibir yang begitu menggoda memenuhi mulutnya.
"Asal kau tahu, aku bisa membuatmu berteriak sepanjang malam."
Bisik Naetra dengan suara rendah yang membuat gadis itu mulai terengah, terbakar dengan sentuhan Naetra dibibirnya dan tatapan yang seolah mengulitinya hidup hidup.
"Bernafas, Liandra."
Liandra mengerjap sekali, mendorong d**a bidang pria itu dan merapat kearah pintu mobil.
"Kau gila."
Naetra tersenyum melihat gadis itu membuang tatapannya keluar jendela, menolak menatapnya yang tersenyum melupakan segala kegilaan Kakak nya karna tingkahnya yang entah bagaimana diluar batas kewajaran manusia biasa.
Perempuan ini.
Apa dia sudah lama tidak berkencan?
Naetra menggelengkan kepalanya tidak percaya seraya kembali menyalakan mobilnya melanjutkan tujuannya, tanpa tahu jika gadis yang sedang duduk disampingnya diam diam meremas ujung roknya saat debaran dirongga dadanya berakhir menghianatinya.
Pada kenyataannya.
Liandra bahkan tidak pernah berkencan.
**
*