Part 7

975 Kata
** Liandra menarik nafasnya dalam dalam, berusaha mengendalikan dirinya untuk tidak membunuh adik tersayangnya yang hanya duduk santai dengan sekotak kue dalam pelukannya. "Dari mana saja kau, huh?" "Aku? Bermain basket, mengikuti kelas dan duduk disini menyaksikan pertandingan basket." Liandra berkacak pinggang sebelah tangan, melempar ponsel kearah Athar yang dengan sigap menerimanya. "Jangan berbohong padaku!" "Aku tidak-kau terluka?" Athar bergegas bangkit, menarik lengan Liandra yang masih menggunakan perban. "Jangan mengalihkan pembicaraan." Liandra memutar bola matanya malas saat adiknya itu hanya melenggang mengambil kotak penanganan. "Kenapa tidak mengganti perban? Kau cerdas merawat orang lain tapi sangat bodoh menjaga diri sendiri. Hidupmu tidak akan berubah jika kau masih saja ceroboh." Liandra mengangkat alisnya, menjatuhkan satu pukulan keras ditengkuk pria itu hingga mengaduh. "Itu sakit kau tahu?!" "Kau pikir kemana aku mencarimu sepanjang malam? Jangan coba coba mendekati tempat terkutuk itu atau aku akan membakar bola basketmu!" Liandra bersadar pada sofa, meluruskan kakinya di atas meja dan membiarkan Athar mengganti perbannya dengan gerutuan. Ah, b******k. Liandra memejamkan matanya, nafasnya terengah masih merasa kesal dengan Athar yang membuatnya bertemu dengan pria sialan beraroma lemon yang menciumnya waktu lalu. Tenang Liandra. Salahkan dirimu yang bahkan nyaris tidak pernah berkencan tujuh tahun terakhir ini! Apa delapan? Atau Sepuluh? Atau bahkan tidak pernah. Liandra menghela nafasnya, menatap Athar yang menyelesaikan pekerjaannya dengan baik lalu membalas tatapannya. "Athar?" "Apa? Kenapa menatapku seperti itu?" Liandra mengulurkan tangannya, Athar yang melihat itu terdiam, menghela nafasnya dengan tenang sebelum menyambut uluran tangan itu dan bergelung dalam pelukan hangat Kakaknya. Mereka terdiam beberapa saat, menikmati belaian lembut jemari lentik Liandra yang bermain dirambut hitam milik Athar yang memejamkan matanya. "Ada apa?" Athar membuka suara, merasakan pelukan kakaknya semakin erat menandakan gadis itu mencemaskan sesuatu. "Apa memburuk?" "Tidak ada yang baik akhir akhir ini." Athar membuka matanya, mendongak menatap sepasang mata segelap malam yang hanya menatap ruang hampa. "Kau lelah? Kau bisa berhenti bekerja." "Itu hanya akan membuatku memikirkan lebih banyak hal." Athar beringsut dan meraih kakaknya kali ini dalam dekapannya, memeluknya erat tubuh mungil yang menanggung beban terlalu banyak dalam hidup mereka. "Tidurlah." "Pukul berapa sekarang?" Athar tidak menjawab menatap wajah yang terlihat lelah itu mulai memejamkan matanya, seringkali berharap kakaknya lebih baik melewati tidur yang sangat panjang. Bukan terbangun hanya untuk melewati kerasnya dunia yang tak pernah sekalipun berpihak pada mereka. Hanya ingin melihat Kakaknya tersenyum bahagia tanpa memikirkan banyak hal. Bahagia sesederhana itu bukan? ** Naetra terbangun dengan kepala berdenyut menyakitkan, mengerang kasar saat denyut itu semakin menjadi hingga membuatnya kesulitan bergerak. Memejamkan mata sejenak, sebelum menatap sekelilingnya yang seolah ikut berputar memberi jawaban sebanyak apa minuman yang ia tenggak semalam. Kilasan saat bibir lembut itu memenuhi kepalanya membuat Naetra tersentak, kembali mengerang dengan kesal dan bergegas bangkit menuju kamar mandinya berniat menjernihkan kepalanya yang semakin kacau karna Liandra. Brengsek. Apa yang kau lakukan, Naetra? Setelah membersihkan tubuhnya Naetra bergegas keluar dengan lilitan handuk yang menggantung di pinggang rampingnya. Mengabaikan tetesan air dari rambutnya yang mengalir menyusuri lekuk tubuh tegapnya. Suara bel yang mengganggu membuat Naetra berdecak kesal, melangkah lebar menuju pintu dan menemukan pria berwajah datar yang bersetelan rapih berdiri kaku di depan Penthouse nya. "Petra?" Naetra mengangkat alisnya, menatap pria yang nyaris menghabiskan seluruh hidupnya bersama Kakaknya. "Boleh aku masuk?" Menghela nafas dengan tenang, Naetra membuka pintunya dengan lebar. Tahu jika ini akan menjadi perbincangan yang sangat panjang. "Bagaimana kabarmu?" Naetra menuangkan teh herbal kedalam cangkir setelah berpakaian, mendorongnya perlahan kearah Petra yang menatapnya lekat lekat. "Baik, bagaimana denganmu? Apa kau sudah menikah?" Netra bersandar pada sofa nyaman abu abunya, berhadapan dengan pria yang tersenyum kecil mendengar ucapannya. "Tidak ada yang akan menikah jika bersama Kakakmu." Sahutnya lamat lamat, kembali tersenyum kecil saat Naetra menaikkan alisnya. "Aku tahu, kau datang bukan hanya untuk berbasa basi denganku. Ada apa? Ingin menyeretku pulang?" "Aku dengar kau Pianis handal di eropa." Naetra membuang tatapannya, seharusnya tahu jika Petra sama handalnya bermain dengan Kakaknya. "Berhentilah, katakan padaku apa yang kau inginkan." Pria itu menghela nafasnya, menyatukan kedua tangannya dan menatap dengan Naetra dengan serius. "Pulanglah." Naetra mengangkat sudut bibirnya, benar benar sudah menduga apa yang pria ini inginkan dari Naetra. "Kau sama sekali tidak berhak." "Aku hanya memberimu peringatan." "Aku tidak peduli. " Petra tersenyum, Naetra masih sama keras kepalanya. Apa ia harus mengatakan segalanya agar anak ini menyerah dan menurut pada Kakaknya? "Kalau begitu datanglah dan lihat bagaimana perusahaan Kakakmu bekerja." "Aku benar benar tidak ingin tahu tentang perusahaan dan apapun itu yang menyangkut keluargaku, bisakah kalian membiarkanku hidup dengan tenang?" Tenang? Naetra tertawa sinis dalam diam, pada kenyataannya tak sekalipun ia merasa tenang diantara malam malam dingin penuh kesunyian yang seolah akan melahapnya hidup hidup. "Hanya ingin kau tahu, kau memiliki saham terbesar kedua setelah Kakakmu." Naetra membanting cangkirnya dengan keras kelantai hingga menimbulkan suara yang memekakkan telinga, mengepalkan jemarinya dengan kuat dan menatap nyalang Petra yang masih terlihat tenang akan reaksi Netra. "Katakan padaku, bagaimana bisa kerja keras Kakakku menjadi milikku?" "Bukankah kau tahu jawaban dari pertanyaanmu, Tuan Naetra?" Naetra mengeraskan rahangnya, bergegas bangkit tanpa melepaskan tatapan tajamnya dari Petra. "Aku tidak akan mengacaukan apapun, tidak kedudukan Kakakku di perusahaan ataupun di mata orangtuaku." "Kau adalah pewaris yang sah, kau sudah seharusnya ada disana." "Sayangnya, aku tidak peduli." Nada itu terlalu dingin hingga membuat Petra bergegas bangkit, tahu waktu yang tepat meninggalkan pria yang sebentar lagi akan menggila karna Kakaknya yang selalu saja penuh tanda tanya. "Jaga dirimu." Ujarnya meninggalkan Naetra yang masih terdiam dengan tangan yang terkepal kuat, tak habis pikir dengan apa yang sebenarnya Kakaknya itu pikirkan hingga berbuat sejauh ini. Kenapa? Bukankah Kakaknya sendiri yang berlutut meminta Naetra untuk tidak melakukan apapun yang menyakitinya? Kenapa tidak membiarkan Naetra hanya berdiam diri dan menjauh dari dunia? Kedatangannya keperusahaan bahkan sudah mampu menghancurkan segalanya, lalu bagaimana bisa dia menyerahkan hasil kerja kerasnya semudah itu pada Naetra? Naetra sama sekali tidak membutuhkan pengakuan akan keberadaannya. Karna sekali lagi. Naetra tidak akan mengacaukan apapun. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN