Part 6

1090 Kata
Gelas ke tiga. Romeo menghela nafasnya saat pria yang seperti biasa terlihat panas itu kembali menenggak cairan dengan aroma menyengat di gelas kristallnya, pria itu mungkin terlihat tenang di mata gadis gadis kelaparan yang sejak tadi mengerang menginginkan setidaknya satu tatapan dari sepasang mata kelabu yang sejak tadi hanya menatap jejeran botol minuman di hadapan mereka. Ketukan pelan jemari panjangnya di pantry bar jelas menunjukkan susuatu sedang mengganggu teman baiknya itu, sejauh Romeo mengenal Naetra hanya Kakak tertampan pria itu yang mampu membuatnya seperti imj. "Kau bertemu, Kakakmu?" "Ya." Sahutnya dengan santai, menuangkan minuman ke gelas Romeo lalu kembali mengisi gelasnya yang kembali kosong. "Kalian bertengkar?" "Seperti biasa." Romeo berdecak kesal mendengar nada tak peduli Naetra, menenggak gelasnya hingga tandas sebelum merebut botol minuman dari Naetra dan kembali mengisinya sendiri. "Bukankah sudah kukatakan? " "Apa?" "Untuk berhenti bersikap seolah kau bukan apa apa." Netra mengangkat sudut bibirnya, menatap cairan keemasan dalam gelasnya sebelum kembali menenggaknya dengan rakus. "Aku memang bukan apa apa." Romeo menghentak gelas kosongnya dengan kesal, mengusap sudut bibirnya dan menoleh kearah Naetra yang kembali mengisi gelasnya dan memainkan jemari panjangnya dipinggiran gelas kristall. "Berhenti keras kepala, Kakakmu bahkan dengan senang hati memberikan segalanya padamu. Kau satu satunya putra biologis dari kedua orang tuamu, kau bahkan berhak merebut segalanya." "Kau membuatku mengantuk." Romeo nyaris memutar bola matanya malas saat Netra menghentikan kegiatannya dan kembali menengguk entah gelas keberapa malam ini. "Aku bukan memintamu menjadi serakah, tapi itu setimpal bagaimana mereka mengasingkanmu sejak kita di sekolah menengah hanya karna kau bersenang senang. " "Aku tahu." "Aku bahkan nyaris gila melihat bagaimana orang tuamu lebih mencemaskan Kakakmu saat kalian kecelekaan di mobil yang sama." "Kakaku bekerja sangat keras." "Orang tuamu bahkan tidak tahu bagaimana jeniusnya kau hanya karna kau menyukai piano." "Romeo?" "Apa? Malam ini tolong jangan katakan kau tidak punya cukup alasan, karna aku akan dengan senang hati mengingatkanmu yang nyaris sekarat karna berandal di gang rumahku dan mereka hanya tahu menyalahkanmu." "Aku nyaris membuat seseorang berlutut hari ini." Romeo menggelengkan kepalanya, mulai mabuk hingga mengurungkan niatnya kembali mengisi gelasnya "Ayolah, semua orang jelas akan berlutut padamu." "Aku tidak sepantas itu hingga membuat mereka berlutut padaku." "Mereka? Kakakmu? Dan siapa?" Romeo memutar kursinya, mengerutkan keningnya saat Naetra hanya menatap kosong gelas kristallnya, kembali mengetukkan jemarinya dengan irama teratur. "Seseorang." Romeo terdiam, lagi lagi sejauh ini hanya Kakak tertampan Naetra yang mampu membuat pria itu melakukan hal diluar kebiasaannya. Romeo cukup mengenali Netra yang membenci orang orang yang berharga untuknya berlutut karnanya setelah apa yang Kakaknya lakukan sepuluh tahun lalu. Berlutut dihadapan Naetra dan memohon agar pria itu berhenti membuat masalah dan melukai dirinya. Meskipun akhirnya Naetra berhenti membuat masalah, pria itu memilih pergi dan benar benar menghilang. "Apa aku terlihat seperti Gay?" "Apa?" Romeo menatap Naetra tidak percaya, pria itu terlihat mengerutkan keningnya kesal hingga membuatnya Romeo tertawa. "Dude, kau sama sekali tidak terlihat seperti Gay. Lihat, bagaimana semua wanita di ruangan ini menunggumu memilih karna tahu kau akan sepanas apa di ranjang." Naetra menoleh sekilas dan menemukan gadis gadis yang melemparkan tatapan menggoda kearahnya. Sayangnya, Naetra sama sekali tidak tertarik dengan wanita dari tempat seperti ini. Menghela nafas jengah saat gadis ceroboh penuh masalah itu kembali memenuhi kepalanya, tatapannya dan bagaimana gadus itu nyaris berlutut karna hal sepele yang bisa diselesaikan dengan permintaan maaf. Brengsek. Apa semua orang selalu berlutut hanya untuk menyelesaikan masalah? Naetra menenggak dengan rakus minumannya, menghentaknya kasar dengan nafas yang terengah. "Naetra! Hei, sudah cukup!" Romeo menjauhkan botol minuman dari jangkauan Naetra, nyaris mendapatkan satu kepalan kuat dirahangnya jika saja ia tidak segera melompat "Aku akan membunuhmu." "Kau benar benar mabuk, pulanglah dengan sopirku malam ini." Naetra mengusap kepalanya dengan kasara dan bergegas bangkit meninggalkan Romeo yang hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat teman baiknya yang selalu dipenuhi teka teki itu. Dan keras kepala tentunya. ** ** Angin dingin menyambut Liandra saat ia membanting pintu taksi dengan keras, menggumamkan ribuan sumpah serapah dan melangkah lebar memasuki gedung dimana bocah nakal itu mungkin masih bermain disana. Brengsek! Ada apa sebenarnya dengan semua Pria di muka bumi ini? Liandra melewati penjaga di depan pintu yang kembali mengatupkan bibirnya, mengurungkan niatnya membuka suara sekedar menyapa gadis cantik yang meremas ponsel ditangannya dengan kuat. Dentuman keras dan riuh sesak para manusia menyambutnya, tubuh yang hanya terbalut celana denim lusuh dan mantel hangat Lindra mulai membelah lautan manusia yang saling berdesakan diruangan tamaram dengan aroma yang membuat kekesalannya semakan memuncak. "Liandra!" "Hei, Liandra!" Gadis itu mengumpat, menoleh hingga tanpa sengaja membentur punggung keras yang membuatnya memekik pelan. Brengsek! Liandra mengangkat wajahnya, bersiap melayangkan ribuan sumpah serapah yang berakhir dujung lidahnya saat sepasang mata tajam itu menyambutnya dengan dingin. Oh, ya tuhan! Liandra mengatupkan bibirnya yang terbuka, menelan salivanya susah payah. Tanpa sadar mundur selangkah lalu seseorang menabrak punggungnya dengan keras hingga tubuhnya terhuyung, jatuh dalam dekapan d**a bidang dan lengan lengan kokoh yang menahan bahunya. Deja vu? Kebetulan macam apa ini? "Liandra?" Lemon. Aroma Lemon ini, Liandra jelas sedang tidak bermimpi atau bertemu dengan pria lain. Oh, tidak! Liandra menahan nafasnya, mengangkat wajahnya perlahan membalas mata kelabu yang sedang berkilat memgerikan kearahnya. "Apa yang sedang kau lakukan?" "Aku-" Liandra kehilangan kata kata, berusaha melepaskan diri dari telapak tangan yang terasa panas dilengannya dan melarikan diri dari tempat terkutuk ini. "Apa yang kau lakukan ditempat seperti ini?" Liandra mengulum bibirnya yang terasa kering, begitu resah karna harus bertemu dengan pria yang jelas dengan mudah membuat para wanita di tempat ini membuka kakinya hanya untuknya. "Aku? Minum?" Bodoh! Jawaban macam apa itu? Lindra kembali diam diam mengutuk, berharap agar ia tidak pertemu pria yang berpontensi membuatnya di pecat. Atau setidaknya melepaskan cengkramannya yang semakin terasa panas dikulit Liandra. "Aku sudah memintamu untuk tidak melakukan apapun hari ini, bukan?" "A-aku, Aku-" Liandra kehilangan kata katanya, menahan nafasnya dengan bibir terbuka saat pria itu menunduk mendekat tepat disisi wajahnya. "Apa kau tidak mengerti situasi ini, Liandra?" Berbisik dengan suara rendah yang membuat Liandra tanpa sadar mencengkram kemeja yang membalut dengan sempurna tubuh jangkung yang begitu kokoh itu. Brengsek. Pria ini mabuk Dan sialan panas. "Tuan Naetra, aku-" "Naetra, Panggil aku Naetra." "Tapi aku-" Telapak tangan itu beranjak dari lengan Liandra, menyentuh sisi wajahnya dan menjatuhkan satu ciuman kasar yang membuat Liandra tekesikap. Merasakan bibir panas itu bergerak liar sementara lengan kokohnya mendekap Liandra hingga ia nyaris lupa cara bernafas. Brengsek. Liandra terbakar. Dengan sekuat tenaga Liandra mendorong d**a bidang pria yang kini menyerah dan menatapnya bingung dengan nafas yang terengah. "Aku-" Tubuh itu terhuyung, nyaris menimpa tubuh Liandra sebelum seseorang membopongnya dan melemparkan senyuman manis kearahnya. "Maaf, dia mabuk." Dan tertidur. Oh, Persetan. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN