Part 5

1183 Kata
** Debuman pintu, langkah yang diseret, suara rengekan dan tubuh tegap yang mengisi sisi ranjang berderit dibalik punggungnya menjadi alasan terbaik untuk membuat Liandra terbangun dari tidurnya, menatap dengan kesal pria yang sedang bergelung dengan mata mengantuk menatapnya tanpa rasa bersalah. "Hei-" "Aku lapar." Liandra melemparkan tatapan datarnya, menendang tubuh tegap itu hingga berguling kebawah ranjang dengan suara bedebum keras. "Ugh! Liandra!" "Kau pikir aku budakmu, huh?" Liandra menyibakkan selimut, berdiri diatas ranjang dan menatap kesal pria yang memiliki mata segelap miliknya kembali bergelung dilantai dengan selimutnya. "Kau akan membuat adik tertampanmu ini mati kelaparan?" Suara berat itu kembali merengek, siapa yang akan mengira jika pria yang mampu membuat para gadis diluar sana menjerit kesetanan akan merengek menyebalkan saat kelaparan? "Mati saja kau!" "Aku juga sayang padamu." Oh, yatuhan. "Apa kepalamu hanya seputar makanan?" "Tentu saja, makanan adalah yang terbaik." "Athar!" "Iya, Liandra sayang." "Menjijikan!" Liandra melempar bantal dengan kesal kearahnya, beranjak dari kamarnya yang berantakan dan memasuki dapur kecil di Apartement sederhananya. Mengikat rambutnya dengan asal lalu mulai mengeluarkan bahan bahan dari kulkas, membuat apapun yang bisa membungkam bayi raksasa yang masih bermalas malasan di lantai kamarnya. "Bukankah kau ada kelas hari ini!?" Liandra mencuci daging ayam di wastafel, mengambil pisau dan mulai memotongnya menjadi bagian bagian kecil. "Nanti siang, aku hanya akan bermain basket pagi ini." "Lalu kenapa kau masih belum bergegas!? Kau ingin aku menyeretmu kekamar mandi!?" "Berhenti berteriak, aku di sini." Liandra menoleh cepat, nyaris menjerit saat menemukan Athar berdiri tepat dibelakangnya. "b******k, Athar! Sejak kapan kau berdiri disana, huh!?" Oh, yatuhan. Apa apaan itu? Bagaimana bisa Liandra teringat dengan pria beraroma lemon yang ia temui semalam? Ah, Mantel! Liandra, harus mengembalikannya. "Ada apa denganmu?" Liandra mengerjap, berdecak kesal saat Athar hanya menaikkan alisnya seraya menggaruk perut datarnya. "Lain kali jangan berdiri dibelakangku!" "Kau berlebihan." Athar menggeleng melihat tingkah Kakaknya yang selalu saja melewati batas kewarasan, segera mengambil sekotak s**u strowbery di kulkas dan meninggalkan dapur sebelum hal hal yang tidak diinginkan terjadi. "Butter kita habis, bergegaslah dan turun!" "Gunakan apa saja." "Kau ingin merasakan kepalanku!?" "Aku tidak dengar." "Lupakan tentang sarapan!" "Oke! Aku turun!" Benar benar. ** "Anak itu benar benar kacau." "Orang tuanya mungkin menyesal melahirkan anak bermasalah sepertinya." "Ada apa denganmu? Kenapa terus mebuat masalah? Ibu lelah harus mendatangi sekolahmu!" "Lihat Kakakmu! Dia sangat cerdas, selalu membuat Ayah dan Ibu bangga. Dia tidak pernah membuat masalah yang akan merepotkan Ibu!" "Dasar tidak berguna!" "Apa kau benar benar putra, Ayah!?" "Apa kau tidak melihat bagaimana Kakakmu bekerja keras untuk kita!?" "Kakakmu mungkin hanya anak angkat, tapi dia lebih berguna dari anak keras kepala sepertimu!" "Pergi dari hadapan, Ayah!" "Pastikan jangan kembali sebelum kau bisa seperti Kakakmu!!" Sepasang mata kelabu itu terbuka perlahan, mengerjap beberapa saat merasakan angin dingin berhembus pelan membelai kulitnya, bergegas bangkit dan duduk dalam diam menatap tirai tirai jendela yang terbuka entah sejak kapan bermain bersama angin. Kembali menikmati debaran jantungnya yang masih menggila saat mimpi itu kembali mengganggu malam malam dinginnya, kembali membuatnya bertanya tanya tentang tujuan hidupnya. Sialnya, Naetra sama sekali tak punya tujuan. Ia bahkan mulai mempertanyakan dirinya yang berada ditengah tengah kota yang ia tinggalkan sejak sepuluh tahun lalu. Liburan? Mungkin Ya. Atau bahkan mungkin Tidak. Mengingat Kakaknya yang masih berusaha keras membawa pulang. Pulang dan mengacaukan segalanya. Suara bel menghamburkan pikiran Naetra, bergegas bangkit dengan langkah kaki panjangnya hanya untuk melihat gadis yang lagi lagi tersentak saat sepasang mata kelam itu menemukannya. "Liandra?" Gadis itu mengerjap sekali, meletakkan paper bag diambang pintu dengan ringisan pelan saat Naetra hanya menatapnya dengan alis terangkat. "Aku ingin mengembalikan mantelmu, terimakasih." Liandra menyahut cepat seraya melangkah mundur dengan ceroboh hingga tubuhnya menyenggol meja vas bunga, suara memekikkan telinga itu menggema bersama rintihan gadis itu. Terjadi terlalu cepat hingga Naetra bahkan tidak sempat meraih tubuh mungil yang kini terduduk dengan pecahan vas disisi tubuhnya. Ia bergegas berlutut dan menarik lengan kanan gadis yang menjadi tumpuan saat terjatuh dipenuhi serpihan vas dan darah yang mulai memenuhi tangannya. "Kau berdarah." "Tidak apa apa." Gadis itu menarik lengannya dari jangkauan Naetra, mata segelap malamnya terlihat penuh rasa bersalah saat menatap darah yang berceceran di lantai hingga membuat Naetra mengeraskan rahangnya kesal. Brengsek. Apa yang gadis ini cemaskan saat ia terluka? "Ayo." "Aku-" Naetra menariknya dengan cepat, menedang paper bag kedalam Penthouse nya dan membanting pintu dengan cukup keras. Sama sekali tidak memberikan Liandra kesempatan dan menyeretkan keruangan yang dipenuhi aroma lemon, mendudukkan Liandra sebelum mengambil kotak penanganan pertama disisi ruangan. Terjadi keheningan panjang saat meja di hadapan Liandra bahkan sudah dipenuhi gulungan gulungan kapas yang dipenuh warna pekat yang tidak lagi asing dimatanya. Deru nafas mereka beradu menjadi saat saat jemari jemari panjang itu membalut luka Liandra dengan tenang, ia bahkan tidak terganggu dengan tatapan Liandra yang menyusuri setiap jengkal wajahnya. Menatapnya seolah olah Naetra adalah hal terlangkah yang pernah ia temui. "Sudah, berhenti menatapku." Liandra mengerjap nyaris merona dengan kalimat singkat pria yang kini balas menatapnya lekat lekat. "Terimakasih, aku harus pergi. Aku juga akan segera membalas budi, kau bisa menelponku. " Liandra bergegas bangkit sebelum tangan hangat itu melingkupi bahunya dan memaksanya tetap diam ditempat duduknya. "A-aku harus bekerja." Liandra menatap sepasang netra kelabu itu dengan gugup, sialnya aroma lemon memabukkan itu sama sekali tidak mampu menenangkan debaran jantungnya. "Kau tidak bisa bekerja dengan perban ditanganmu." Liandra menatap tumpukan kapas penuh darah diatas meja, tatapan cemas itu kembali terlihat di mata indah segelap malamnya hingga Naetra kembali mengeraskan rahangnya. Bukankah gadis itu seharusnya menatap tangannya yang terluka? "Tidak apa apa, aku bisa menyambut tamu di pintu Restoran." "Aku akan menghubungi Reyhan." Liandra ikut bergegas bangkit, terlihat panik saat Naetra akan beranjak dari tempatnya. "Aku sungguh tidak apa apa, jangan hubungi Reyhan!" "Kau-" "Jangan beri tahu Reyhan atau aku akan menghancurkan Penthousemu!" "A-pa?" "Aku juga akan mengatakan kepada semua orang jika kalian Gay!" "Apa?" Liandra terkesikap menyadari ucapannya, menatap Naetra yang menatapnya dengan tatapan datar tak terbaca atau mungkin sedang memikirkan cara terbaik membunuh Liandra. "A-ku, aku, tidak, maksudku-" "Menghancurkan Penthouseku?" Naetra melangkah maju kearah Liandra masih dengan tatapan datarnya hingga gadis itu terkesikap salah tingkah ditempatnya. "Aku tidak-" Naetra semakin mendekat "Gay?" Suaranya terdengar kesal bercampur tidak terima, bukankah itu menandakan tidak benar? Brengsek, Liandra. "Maafkan aku!" "Hei-" Naetra menahan tubuh yang nyaris berlutut dihadapannya, gadis itu tampak tersentak menatapnya terkejut sebelum menunduk merutuk menyesali ucapannya. "Aku sungguh tidak bermaksud! Ya tuhan! Aku bahkan tidak tahu berterima kasih! Maafkan aku!" "Sebaiknya kau pulang, jangan lakukan apapun hari ini." Gadis itu mengangkat wajahnya, nyaris kembali membantah sebelum Naetra menatapnya dengan tajam. "Baiklah, aku akan membersihkan ini lalu pulang." "Tinggalkan itu." "Tapi-" Liandra kehilangan kata katanya, benar benar tidak habis pikir dengan segala intimidasi yang pria ini miliki. Tatapan mata kelabunya, suara beratnya yang tenang namun tak terbantahkan, aroma lemon memabukkan yang sejak tadi membiusnya jelas merenggut segala pertahanannya "Baiklah, terimakasih. Kau benar benar bisa menghubungiku jika kau membutuhkan sesuatu." "Ya, tentu saja." Liandra mengangguk pelan dan bergegas beranjak dari Penthouse yang di d******i warna putih dan abu abu itu, meninggalkan pria yang berkacak pinggang seraya menatap punggung mungilnya hingga menghilang di balik pintu. Tersenyum kecil seraya menggelengkan kepalanya tidak percaya. Apa yang kau lakukan, Naetra? **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN