3

1293 Kata
Saat sampai di rumah, Sara bergegas masuk dan menghapus kosmetik di wajahnya tapi dirinya tidak ingin menyia-nyiakan waktu untuk berganti pakaian jadi dia tetap memakai baju seperti tadi. Ia kemudian meminta Eleina membantunya membawa Shirley. Shirley menangis tersedu-sedu dan memeluk Eleina erat saat mereka bertemu. Ia bahagia bisa menyelamatkan mereka untuk sementara ini tapi ia tahu mereka belum aman. "Ayo, Shirley, Eleina, kita harus bergegas sebelum mereka menyadari kalau kalian menghilang." Dengan bergegas mereka mulai bergerak dan dengan bantuan Sara serta Eleina, Shirley berhasil masuk ke dalam mobil. Kemudian ia mencari motel murah yang berada agak jauh dari lokasi rumah mereka dan berada di dekat rumah sakit tempat temannya dan teman Darrius bekerja. Ia sering meminta bantuannya saat membutuhkan visum untuk para wanita korban kekerasan rumah tangga dan mereka akan selalu melakukannya di siang hari saat hampir semua orang makan siang. Tapi ia harus selalu meminta Darrius yang mengajukan permintaan visum agar semua tersangka tidak bisa berdalih kalau visum itu ilegal. Ia kemudian memapah Shirley ke dalam kamar motel dan bersikap seolah-olah Shirley sedang mabuk. "Apa yang Mama pikirkan mabuk di jam seperti ini dan kita tidak bisa pulang karena Papa pasti akan marah sekali," ujar Sara berakting dan dia menyesal tidak berganti pakaian tadi karena dirinya sedikit mengundang perhatian orang lain karena penampilannya itu tapi dia tidak mungkin bisa berganti pakaian sekarang. "Iya, Mama. Kita istrirahat dulu di sini. Nanti siang kita pulang," timpal Eleina atas perkataan Sara tadi. "Ya. Maafkan, Mama," ucap Shirley dan pura-pura mabuk walau pun sebenarnya dia sangat ingin berteriak kesakitan saat ini. Saat sampai di kamar mereka, Sara kemudian keluar kembali dan memindahkan mobilnya ke tempat parkir sebuah hotel mewah agar tidak ada yang curiga dan dia kembali berjalan kaki ke motel itu. Tidak lupa ia melihat sekeliling untuk memastikan mereka tidak diikuti. Saat sampai di kamar kembali, ia berjalan mondar mandir merasa tidak tenang menunggu waktu janji dengan temannya itu tiba. Eleina hanya terus menangis di samping mamanya merasa begitu ketakutan juga. Ia tidak bisa menghiburnya karena dirinya juga tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Ia memesan makanan saat jam menunjukkan pukul 9 pagi dan saat jam akhirnya menunjukkan pukul 12 siang, ia turun ke bawah untuk mengambil mobil Darrius dan setelah memarkirkannya dia membawa Shirley kembali dengan memapahnya lagi dibantu Eleina. Kemudian mereka segera menuju ke rumah sakit. Hanya dalam waktu lima menit mereka sudah tiba di sana dan teman Sara sudah menunggu dengan kursi rodanya. Jessica sudah tidak heran dengan penampilan Sara karena dirinya begitu sering membantunya dan kali ini bukan kostum teraneh Sara. Ia bahkan pernah datang memakai pakaian badut. Bergegas mereka menuju ke ruang pribadi temannya untuk melakukan visum. Ia meminta Eleina menunggu di dalam mobil saja karena ia tidak mau anak itu merasa trauma saat melihat kondisi ibunya. Saat mereka sudah tiba di ruangan tersebut Sara ingin keluar tapi Shirley menarik tangannya dan meminta Sara menemaninya, jadi ia memutuskan menemaninya. Saat Jessica mulai melakukan visum mereka berdua bisa melihat luka di seluruh punggung Shirley dan memar di perutnya dengan bekas tendangan seolah-olah seseorang sudah menendangnya berkali-kali. Sara meneteskan air mata melihatnya. Jessica bekerja dalam diam dan mengobati luka-luka itu. Tapi ia tahu dia pasti juga sangat marah terlihat dari ekspresi wajahnya. Selama mengobati, Jessica terus bertanya pada Shirley dan Shirley menjawab semuanya. Sara bisa melihat kedua tangan Jessica yang terkepal erat dan bagaimana salah satu tangan Jessica menggenggam erat pulpen yang berada di tangannya. Tapi Jessica tetap bersikap profesional dengan terus melakukan pemeriksaan visum tersebut. Dia kemudian melanjutkan pemeriksaannya pada bagian pribadi Shirley, Sara tidak berani melihat karena hal itu bisa menganggu privasi Shirley dan Sara tahu Jessica bahkan semakin marah saat ini. Setelah itu dilanjutkan pemeriksaan rontgen dan USG lalu terus berlanjut hingga pemeriksaan psikologis yang ditangani dokter yang sering membantu mereka juga. Setelah selesai Jessica mengajak Sara keluar untuk berbicara. "Sungguh binatang laki-laki yang melakukan semua itu padanya." "Ya, aku rasa ini juga salahku karena memaksa harus mendapatkan buktinya bukannya langsung memintanya kabur saja dari sana." "Kamu sudah melakukan hal benar Sara karena tanpa bukti tidak ada yang bisa kita lakukan untuknya." "Apakah dia baik-baik saja?" "Untuk luka separah itu dia benar-benar seorang wanita tangguh." "Ya, kamu benar. Apakah aku sudah boleh membawanya pulang?" "Dia harus di rawat, Sara." "Tidak bisakah kamu menyiapkan semua keperluannya, Jessica? Karena aku tidak bisa meninggalkannya di sini. Mungkin sekarang bahkan suaminya sedang mencari keberadaannya dan jika mereka sampai tertangkap aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada mereka." "Kamu bisa melaporkannya ke polisi, Sara. Seperti biasanya." "Kali ini tidak bisa, Jessica. Suaminya seorang politikus terkenal dan aku yakin banyak pihak berwajib yang bekerja padanya. Jadi aku tidak mau membahayakan mereka. Aku harus mencari seseorang yang bisa aku percayai tentang semua ini dan sepertinya aku kembali harus meminta bantuan Darrius. Jadi Jessica tolong siapkan obat-obatan atau apa pun yang diperlukannya. Aku akan merawatnya sendiri." "Baiklah," ujar Jessica menyerah karena benar apa yang Sara katakan. Selain itu dia tahu Sara sedikit tahu tentang merawat seseorang setelah merawat ibunya yang sakit selama satu tahun dan ibunya sudah meninggal dua tahun lalu tapi sejak itulah Sara semakin keras berusaha menolong wanita-wanita yang mengalami kekerasaan rumah tangga bahkan tidak peduli jika nyawanya sendiri yang menjadi taruhannya. "Terima kasih, Jessica. Nanti kalau hasilnya sudah keluar, tolong hubungi aku." "Tentu." "Aku permisi dulu dan aku harus membawanya ke tempat persembunyianku agar suaminya tidak bisa menemukannya sampai semuanya siap." Setelah itu ia membawa Shirley kembali ke mobil Darrius dan sebelum mengantarkan mereka ke rumah persembunyiannya Sara berhenti sebentar di sebuah toko serba ada untuk membeli bahan makanan dan baju untuk Shirley dan Eleina. Saat sudah selesai membeli semua yang dibutuhkan, mereka bergegas menuju rumah persembunyian Sara. Selama ini ia selalu menyembunyikan semua orang yang ditolongnya di sana dan hanya dirinya saja yang tahu jalan ke tempat itu. Rumah itu terpencil dan terletak di dekat pantai yang sepi dan hanya rumahnya saja yang ada di sana. Ia menemukan rumah itu saat membawa mamanya melarikan diri dari papanya yang sering menyiksa mamanya juga dulu. Bahkan papanya menyiksa mamanya hingga lumpuh dan karena itulah ia tidak bisa tinggal diam saat ada seorang wanita yang disiksa. Dulu karena tidak punya bukti makanya papanya bisa lolos dari jerat hukum karena itulah ia sudah belajar dari pengalaman masa lalunya dan karena hal itu juga di usianya yang 27 tahun dia masih belum ingin menikah. "Ayo...Shirley, Eleina, masuklah. Sementara kalian bersembunyilah di sini. Aku harus pergi lagi untuk mengembalikan mobil ini ke pemiliknya. Kalian tunggulah di sini, kalian akan cukup aman di sini karena hampir tidak ada yang tahu lokasi tempat ini. Eleina aku ingin kamu belajar cara mengobati mamamu untuk berjaga-jaga jika sudah waktunya aku belum pulang jadi kamu bisa melakukannya." Kemudian Sara mengajari Eleina sebentar sebelum harus pergi lagi. "Terima kasih, Sara. Aku berhutang padamu," ujar Shirley saat Sara akan berangkat. "Tidak, aku belum membantumu sepenuhnya. Harusnya aku tidak membiarkanmu kembali ke rumah iblis itu saat itu," ujar Sara menyesal. "Tidak, Sara. Aku mengerti. Kita memerlukan bukti yang kuat jika ingin aku terbebas sepenuhnya darinya dan aku rela merasakan semua ini sekali lagi asal aku akan terbebas selamanya darinya." "Baiklah. Eleina jaga mamamu dan jangan lupa obat-obatannya dan obat untuk luka-lukanya. Kakak akan kembali lagi nanti malam dan tadi Kakak sudah membeli sedikit makanan dan baju untuk kalian. Nanti malam aku akan membawakan makanan lebih lagi dan ponsel baru serta stok makanan untuk mengisi kulkas." Eleina bergegas memeluk Sara dan menangis tersedu-sedu. "Terima kasih, Kak karena sudah menolong kami. Aku merasa sangat ingin membunuhnya karena tidak sanggup lagi melihat Mama menderita dan sekarang aku tidak perlu melakukannya lagi berkat, Kakak." "Sama-sama, Sayang, tetaplah kuat demi mamamu," ujar Sara dan membelai sayang kepala Eleina. "Hmmm," ujar Eleina berlinang air mata. "Jangan buka pintu untuk siapa pun kecuali aku. Apa kamu mengerti, Eleina? Dan jangan aktifkan ponselmu sama sekali. Buang saja nomormu dan nomor mamamu karena keberadaan kalian bisa dilacak dari sana." "Ya." "Aku pergi dulu." "Baik, Kak." Sara kemudian mengendarai mobil Darius ke apartemen laki-laki itu untuk mengembalikannya. Tidak lupa dia membawa bukti video yang sudah didapatkannya. Dirinya juga belum sempat melihat isi video itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN