Dua jam kemudian ia akhirnya sampai di apartemen Darrius. Saat ini dia tahu sepupunya sudah pulang dari bekerja karena hari sudah sore.
Ia memarkirkan mobil di depan apartemen. Penjaga di sana sudah mengenalnya hingga dia tidak perlu menjelaskan pada mereka lagi. Tidak lupa tadi ia sudah membuka plat nomor palsu tersebut sebelum kembali ke kota.
Saat sampai di depan kamar apartemen sepupunya. Sara menekan bel pintu dan menunggu dengan sabar Darrius membukakan pintu.
"Sara, masuklah," ucap Darrius sambil menarik lengan sepupunya masuk.
"Sekarang jelaskan padaku apa yang terjadi!" perintah Darrius saat Sara sudah duduk di kursi.
"Dan ada apa dengan pakaianmu? Kamu terlihat seperti anak remaja saja," sambungnya.
"Perlahan-lahan saja, Sepupu. Aku akan menjelaskan semuanya."
Kemudian Sara menjelaskan semuanya pada Darrius dari awal hingga akhir.
"Jadi apa kamu bisa membantuku, Darrius?" tanya Sara.
"Apa kamu punya bukti?"
"Ya, tapi aku belum sempat melihatnya sendiri."
"Siapa suaminya?"
Sara terdiam karena tidak yakin. Darrius mungkin akan menolak saat mengetahui siapa yang akan mereka hadapi.
"Sara?" tanya Darrius lagi.
Saat itulah pandangan Sara teralihkan pada televisi Darrius yang sedang menyala di mana terpampang wajah salah satu kandidat walikota yang sedang mengunjungi anak-anak panti asuhan dan bersikap begitu perhatian pada mereka, tersenyum ramah, tertawa bersama mereka dan bahkan bermain bersama mereka. Kandidat itu bahkan membawakan hadiah-hadiah untuk anak-anak itu.
"Jika saya terpilih menjadi Walikota selanjutnya maka anak-anak ini tidak perlu takut tidak sekolah karena saya akan membiayai mereka hingga mereka lulus sebab mereka sudah seperti anak-anak saya sendiri."
"Anda sungguh seorang yang sangat baik, Mr. Jones. Kota ini akan sangat beruntung memiliki Anda sebagai Walikota mereka," ujar pembawa acara.
"b******n! Dia sungguh sangat hebat dalam menipu semua orang," maki Sara kesal.
"Siapa?" tanya Darrius bingung.
"Bill Jones."
"Ya, hanya orang tertentu saja yang tahu hal itu tapi bagaimana kamu bisa tahu? Lupakan aku tidak ingin tahu kamu tahu dari mana karena dirimu memang tidak terduga. Jadi siapa nama suami wanita yang kamu tolong kali ini?"
"Bill Jones."
"Aku sedang tidak bercanda, Sara!"
"Aku juga tidak, Darrius! b******n itu adalah Bill Jones!"
Darrius terkejut dan menghela napas saat mendengar orang yang ingin dihadapi oleh Sara.
"Kamu tahu bukan Sara siapa yang akan kamu hadapi?"
"Ya dan aku tidak peduli, apalagi jika ternyata orang itu menyimpan kebusukan seperti itu selama ini. Dia tidak pantas menjadi pemimpin rakyat."
"Tapi tidak ada yang bisa menyentuhnya sama sekali selama ini, Sara. Kamu harus tahu itu, bahkan temanku yang seorang pengacara terkenal berusaha membongkar kebusukannya dan belum berhasil hingga sekarang."
"Aku memiliki bukti dia menyiksa istrinya Darrius dan kamu tidak melihat kondisinya saat ini. Tidak ada satu pun luka di bagian luar tubuhnya selain sedikit di wajahnya tapi saat memeriksa bagian dalam kamu akan sangat terkejut, dia itu binatang bukan manusia lagi dan jika aku tidak menolong Shirley dia mungkin akan mati dan itu tidak seberapa, dia bahkan mengancam akan melakukan itu pada anak mereka jika Shirley tidak menurut padanya. Kamu tahu juga bukan walaupun dia belum melakukannya hal itu mungkin saja terjadi. Seperti yang hampir aku alami," ujar Sara.
Dulu saat dia masih remaja dirinya hampir diperkosa oleh papanya sendiri dan karena itulah dia pergi dari rumah atas perintah mamanya. Ia sudah mengajak mamanya ikut bersamanya tapi mamanya menolak. Untung saja semua itu tidak meninggalkan trauma baginya dalam berhubungan.
Walaupun dia tidak pernah menikah, tapi dia pernah menjalin hubungan dengan beberapa laki-laki tapi dia selalu menolak bercinta dengan mereka dan hanya sebatas berciuman saja. Sebab dia tak ingin bercinta dengan sembarangan pria. Ia memutuskan hubungannya dengan kekasih terakhirnya saat mendengar sesuatu terjadi pada mamanya dan sejak itu dirinya belum memiliki kekasih lagi. Setelah memutuskan kekasihnya, ia kemudian kembali ke rumah hanya untuk membawa mamanya pergi dari sana walaupun sudah agak terlambat.
Darrius kembali menghembuskan napas dengan keras. Dirinya tahu seberapa keras kepala sepupunya ini dan dia tahu jika dia tidak membantunya maka ia akan mencoba mencari cara lain.
"Baiklah, ayo kita lihat buktinya terlebih dahulu."
"Hmmm."
Sara kemudian menyerahkan memori card yang didapatkannya dari Shirley kepada Darrius. Kemudian mereka memutarnya bersama.
"s**t!" bentak Darrius bahkan saat baru mulai menonton di mana Bill menampar Shirley hingga dia jatuh ke lantai dan setelah itu Bill terus menerus menendang perutnya. Setelah puas dia mengambil cambuk dan meminta pengawalnya mengikat lengan Shirley dan mulai mencambuk punggungnya. Mereka kemudian berhenti saat dia akan mulai membuka pakaian Shirley.
Sara hanya bisa meneteskan air mata melihat apa yang sudah diperbuat suami Shirley padanya. Ia tidak menyesal mencoba menolong Shirley dan ia akan berusaha sampai akhir.
"Kamu benar kita tidak bisa membiarkan laki-laki itu tapi maaf Sara aku tidak bisa membantumu kali ini. Seseorang yang mengikuti sepak terjangnya akan lebih cocok untuk menangani kasus ini."
Sara menatap sedih pada Darrius. Jika Darrius tidak bisa membantunya, ia tidak tahu harus memercayai siapa lagi.
"Aku akan meminta temanku yang membantumu."
"Siapa, Darrius?" tanya Sara sedikit ragu karena selama ini hanya Darrius saja yang bisa ia percayai.
"Dia adalah Leon Darrell."
Ia terkejut saat mendengarnya karena laki-laki itu adalah pengacara terkenal yang selama ini menjadi musuh dari Bill Jones dan ia tahu jika dia bisa memercayai orang itu, ia tidak menyangka jika orang itu merupakan teman Darrius. Ia tahu sekarang kenapa Darrius menolaknya, bukan karena dia takut tapi memang Leon yang lebih cocok menanganinya sebab selama ini laki-laki itu sudah menantang Bill sejak awal.
"Dia pasti bisa membantumu dan aku memercayainya untuk membantumu. Selama ini dia sudah lama ingin mencari bukti agar bisa membongkar kebusukan dari Bill Jones dan aku rasa dia akan dengan sangat senang hati membantumu," ucap Darrius.
"Aku akan membuat janji temu antara kamu dengannya besok," sambung Darrius lagi.
"Apa tidak bisa hari ini, Darrius? Karena semakin lama semua ini ditunda aku takut semuanya akan sia-sia. Bahkan sekarang Bill mungkin sudah mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Shirley."
"Aku akan mencoba menghubunginya."
"Hmmm."
Sara hanya bisa menunggu saat Darrius mencoba menghubungi Leon Darrell.
"Aku tidak bisa menghubunginya Sara, tapi aku sudah menitipkan pesan pada sekretarisnya jika kamu ingin bertemu dan kamu bisa datang ke apartemennya nanti malam jam 21:00 setelah dia pulang dari kantor."
"Terima kasih, Darrius. Aku pulang dulu untuk mengambil mobilku. Mobilmu sudah aku parkirkan di depan. Terima kasih untuk bantuanmu."
"Kamu terlihat lelah, mungkin sebaiknya kamu beristirahat saja di sini dan kamu bisa memakai mobilku nanti untuk bertemu dengan Leon, kamu bisa beristirahat di kamar tamu seperti biasa."
"Baiklah," timpal Sara setelah memikirkannya sesaat karena dirinya memang merasa lelah setelah hampir tidak tidur semalaman.
Ia kemudian masuk ke kamar tamu dan mencoba tidur di sana, saat ini jam baru menunjukkan pukul 5 sore tapi saat ini ia merasa begitu gelisah dirinya kemudian memutuskan untuk mandi terlebih dahulu dan membuka lemari pakaian untuk menemukan baju ganti saat dia sudah selesai mandi.
"Apa tidak ada pakaian yang benar-benar merupakan pakaian? Dasar m***m!" bentak Sara kesal pada sepupunya karena isi lemari itu hanya lingerie semua. Jadi pakaian yang ia pakai masih pilihan yang terbaik, ia kemudian memutuskan mengganti pakaian dalamnya saja dan ia memilih pakaian dalam yang masih terdapat label di pakaian itu, tentu saja pakaian dalam itu juga sangat minim tapi ia tidak punya pilihan, lagi pula tidak ada yang akan melihatnya.
Setelah itu ia berbaring di ranjang dan mencoba untuk tidur hingga jam menunjukkan pukul 7 malam dia hanya bisa membolak-balikkan tubuhnya di atas ranjang saja, jadi dia menyerah karena dia tidak akan bisa tidur meski kelelahan saat dirinya merasa begitu gelisah menunggu waktu pertemuan itu tiba.
Sara kemudian keluar dari kamar dan menemukan catatan kecil dari Darrius yang mengatakan sedang keluar dan menyuruh ia mengambil sendiri makanan yang sudah dia sediakan.
Ia kemudian makan dan saat selesai dia melewati waktu kembali menonton televisi hingga waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam dan Sara bergegas menuju mobil untuk pergi ke apartemen Leon karena butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai di sana.