Satu jam kemudian ia sampai di tempat tujuannya dan bergegas menemui resepsionis di sana agar diizinkan bertemu Leon Darrell.
"Silahkan naik, Nona, Mr. Darrell sudah menunggu kedatangan Anda," ucap gadis itu terdengar agak tidak ramah. Mungkin karena melihat pakaian Sara yang seperti itu hingga membuatnya berpikiran yang tidak-tidak. Ia tidak bisa menyalahkannya, siapa pun akan berpikiran yang tidak-tidak saat seorang wanita datang ke apartemen seorang laki-laki di malam hari berpenampilan sepertinya, ia lupa mengenakan jaketnya tadi pagi karena terburu-buru ingin menyembunyikan Shirley.
"Terima kasih," timpal Sara.
Ia segera menuju lift dan menekan tombol 8. Saat sampai di lantai yang ditujunya ia menekan bel pintu kamar Leon berada.
Saat ini baru pukul 20:45.
Seorang laki-laki membuka pintu. Ia sering melihatnya muncul di televisi jadi ia tahu jika inilah orang yang akan ditemuinya. Laki-laki yang dikenal sebagai pengacara terkenal yang tidak pernah kalah jika sudah membawa kasusnya di pengadilan, tapi laki-laki ini juga dikenal sebagai playboy dan incaran para wanita lajang dan ia sedikit risi karena laki-laki itu membuka pintu hanya memakai handuk saja. Ia bisa melihat jika dia baru saja selesai mandi. Terlihat dari kulit keemasannya yang masih basah berkilau dan rambut cokelatnya yang juga basah. Ia tak bisa mengalihkan tatapannya pada d**a bidang laki-laki itu dan matanya kemudian turun menuruni perutnya yang rata dan berotot sesaat ia sangat ingin menyentuhnya. Kemudian matanya turun menuju handuk laki-laki itu dan Sara menyadarkan dirinya sebelum membiarkan matanya menjelajah semakin ke bawah.
"Saya, Sara. Saya..."
"Masuklah."
Sara kemudian masuk ke dalam dan membuka sepatu boots yang dipakainya, kemudian ia menunggu di dekat pintu saat laki-laki itu menutup pintu dan menguncinya.
Ia sangat terkejut saat merasakan laki-laki itu memeluknya dari belakang, langsung mencumbu lehernya dengan b*******h, ia bisa merasakan bukti gairahnya yang menekan bokongnya.
"Apa_hmpph," ucap Sara tak terselesaikan saat ia berbalik tapi laki-laki itu malah membungkam mulutnya menggunakan bibirnya. Sara meletakkan kedua tangannya di d**a bidang itu yang masih terasa lembab di jari-jarinya. Kemudian tiba-tiba Leon menggendongnya, membawanya ke kamar dan kemudian melemparkan ia di atas ranjangnya.
"Apa yang Anda lakukan?!" teriak Sara terkejut.
"Aku sudah menunggumu dari tadi. Darrius sangat pintar memilihkannya untukku kali ini. Aku tidak sabar lagi ingin menikmatimu."
"Apa?! Aku hmphh..." ucap Sara kembali belum selesai tapi Leon sudah menindihnya dan mencumbu bibirnya dengan kasar serta memagutnya. Bahkan laki-laki itu sudah membuka handuknya hingga tidak ada apa pun lagi yang menutupi tubuh laki-laki itu.
Apa yang sebenarnya terjadi? Laki-laki ini tidak mungkin salah paham juga bukan karena pakaianku? Karena itu mustahil. Bukankah Darrius sudah memberitahukan tentang kedatanganku?
Ia berusaha mendorong Leon tapi dirinya tidak berdaya melawan tubuh Leon yang besar dan berat dengan otot-otot yang bertonjolan disetiap gerakannya. Ia kembali berusaha mencegah Leon melakukan apapun padanya saat laki-laki itu meraih pakaiannya hingga ia mendengar Leon merobek bajunya dengan paksa dan langsung mencumbu lehernya.
"Hentikan! Apa yang Anda lakukan?!"
"Aku tahu kamu juga begitu menginginkan aku tapi kamu ingin aku pura-pura memerkosamu dan dengan senang hati aku akan menurutinya. Aku belum pernah memainkan permainan seperti itu."
"Apa?!" Sara semakin bingung tapi belum sempat dia berpikir laki-laki itu sudah menarik lepas bra mininya dan mencumbu payudaranya. Sara menyadari jika Leon benar-benar akan memerkosanya saat ini.
"Hentikan!" bentak Sara dan memukul Leon agar menjauhinya. Sesaat laki-laki itu melepaskannya dan memandang Sara. Ia segera menjauh ke ujung ranjang.
"Aku tahu kamu ingin ini semua terasa tampak nyata bukan?" tanya Leon sambil tersenyum senang.
Sesaat Sara terpesona melihat senyuman laki-laki itu di bibirnya yang tipis menggoda dan di topang oleh rahangnya yang tegas dan kokoh hingga kemudian laki-laki itu naik ke ranjang. Dengan cepat ia berusaha bergegas turun dari ranjang untuk kabur. Tapi kemudian Leon menangkapnya dari belakang dan kembali menindihnya di ranjang. Kali ini Leon menahan kedua tangan Sara di atas ranjang dan kembali mencumbunya.
"Kamu terasa sangat nikmat, Sara," ujar Leon dengan suara serak dan kembali memagut bibir Sara dengan sangat b*******h.
Sara tahu jika seharusnya dia ketakutan tapi entah kenapa dirinya bukan merasa takut bahkan saat ini dia sudah mulai bereaksi dengan apa yang dilakukan laki-laki itu padanya. Ia merasakan getaran kenikmatan menjalari tubuhnya saat ini.
Ia berusaha memberontak sebagai usaha terakhirnya ketika Leon menarik lepas celananya.
"Sangat seksi," ucap Leon saat melihat celana dalam yang dikenakan Sara hampir tak menutupi apa pun. G-string mini yang hanya menutupi belahan intimnya saja. Sara sungguh tidak menduga jika seseorang akan melihat pakaian dalamnya.
"Menjauhlah!"
Leon bukannya menjauh tapi malah menyusupkan jarinya di lipatan milik Sara dan bermain di sana dengan jarinya.
"Jangan!" rintih Sara tapi tak bisa menahan reaksinya akan sentuhan Leon yang mengeksplotasi seluruh bagian intimnya.
"Aku tak sabar lagi ingin melihatnya," ujar Leon dan dengan sekali tarik dia membuka sisa pakaian Sara, ia berusaha melepaskan diri dari Leon tapi semua itu sia-sia karena saat ini ia sudah polos di hadapan laki-laki itu.
"Jangan, Mr. Darrell!" pinta Sara sekali lagi sebab ia sudah tidak mampu melawan lagi karena dirinya memang sudah lelah seharian ini hingga dia tidak memiliki tenaga yang banyak untuk melawan Leon.
"Sangat indah dan menggodaku untuk segera memasukinya," ujar Leon. Dia kemudian melebarkan paha Sara dan menerobos memasukkan miliknya ke dalam diri Sara secara perlahan. Menekan miliknya ke dalam kehangatan Sara yang dengan gembira menyambutnya meski tidak dengan pikirannya.
"Ahhh..." desah Sara saat Leon menerobos ke dalam kehangatannya sepenuhnya menyatukan tubuh mereka. Ia mengira jika ia akan merasakan rasa sakit sebab bagaimanapun dia masih perawan tapi alih-alih merasakan hal itu, ia malah merasakan perasaan nikmat.
"Aku harus berterima kasih kepada Darrius untuk hadiahnya," ucap Leon dan mulai bergerak di dalam tubuh Sara dengan sangat perlahan. Setelah beberapa saat Leon mulai bergerak dengan lebih cepat dan semakin bersemangat sambil memainkan p******a Sara yang ikut bergoyang hingga tampak begitu menggodanya.
"Oh..." ucap Sara mendesah dan kemudian berteriak saat kenikmatan menjalari tubuhnya.
Leon bergerak semakin cepat saat Sara sudah mencapai orgasmenya dan dirinya segera menyusul dengan menumpahkan benihnya di dalam tubuh Sara. Karena kelelahan Sara memejamkan mata dan kemudian tertidur. Dirinya masih bisa merasakan saat Leon mengecup bibirnya dan memeluk tubuhnya. Ia tidak peduli lagi karena dia sungguh merasa sangat lelah saat ini.
Tengah malam Sara terbangun saat merasakan seseorang menghisap payudaranya dan sebuah tangan memainkan area intimnya.
"Apa yang Anda lakukan?" tanya Sara pelan masih merasa kelelahan.
"Kembali menikmati dirimu."
"Jangan!" pinta Sara mencoba menolak. Tapi tubuhnya saat ini sudah mulai menikmati perlakuan laki-laki itu padanya hingga membuat Sara mendesah dan mengelinjang menginginkan kenikmatan seperti yang pertama didapatnya.
Kemudian laki-laki itu menyatukan tubuh mereka kembali saat dia merasakan Sara sudah basah dan siap menyambutnya. Saat sudah mendapatkan klimaks mereka, Sara kembali tertidur begitu juga dengan Leon.
Keesokan harinya Sara terbangun dan merasakan tubuh seorang laki-laki memeluk perutnya dan sebuah kepala begitu dekat dengan kepalanya. Sara membeku dan ingat apa yang sudah terjadi. Leon Darrell memerkosanya dan dia menikmatinya. Sara tidak tahu apa yang sudah terjadi. Ia hanya ingin segera pergi dari sini sebelum laki-laki itu bangun.
Dengan perlahan ia mencoba melepaskan pelukan Leon padanya. Saat berhasil ia berjalan dengan pelan ke kamar mandi dan membersihkan dirinya karena area intimnya terasa lengket setelah dua kali Leon melakukan hal itu dengannya. Ia membersihkan dirinya dengan cepat karena takut Leon akan segera bangun. Begitu selesai dia kembali keluar berjalan dengan perlahan menuju lemari Leon. Tapi saat dia hampir sampai, dirinya kembali digendong dan Leon membawanya ke ranjang.
"Jangan! Hentikan!" teriak Sara dan memberontak mencoba melepaskan diri dari pelukan Leon.
"Jadi kamu masih ingin berakting seolah-olah diperkosa? Baiklah dengan senang hati aku akan ikut," ujar Leon dan tersenyum pada Sara yang telentang di atas ranjang setelah dia melemparnya kembali di sana. Sara tidak tahu apa dia harus ketakutan atau merasa gembira saat memandang bagian bawah tubuh Leon tampak berdiri tegak kembali. Ia kemudian menyadarkan dirinya. Dia tidak mengenal Leon hingga harus merasa gembira akan semua perlakuan laki-laki itu padanya dan gairah laki-laki itu padanya. Ia membalikkan tubuhnya dan mencoba merangkak pergi dari sana. Tapi Leon menarik kakinya dan membalikkan tubuhnya kemudian kembali mencumbu Sara dengan b*******h. Sara bisa merasakan milik Leon yang sangat keras menekan perutnya saat ini.
Bibir Leon kemudian menyusuri leher Sara dan menghisapnya serta mengigit pelan lehernya. Ia tidak bisa menahan desahan keluar dari mulutnya. Entah apa yang sudah terjadi padanya karena selalu menikmati saat Leon Darrell memerkosanya.
Ia hanya bisa pasrah saat Leon kemudian mencumbu payudaranya dan semakin turun ke bawah menuju perutnya, saat Leon menyentuh daerah intimnya dengan jarinya dan bermain di sana, Sara bahkan membuka pahanya memudahkan laki-laki itu. Ia bisa merasakan saat Leon menerobos memasuki dirinya dengan jari tengahnya dan memainkannya di sana keluar masuk. Kemudian ia bisa merasakan jika saat ini mulut Leon juga bermain di sana.
"Ahhh..." desah Sara dan Sara semakin tidak bisa menahan desahannya saat Leon menghisap inti dirinya.
"Please..." pinta Sara.
Leon kemudian bangun dan menyejajarkan miliknya pada milik Sara, dia menggeseknya perlahan di belahan Sara hingga Sara semakin merintih menginginkannya.
"Please," pinta Sara mengelinjang tersiksa menginginkan pelepasannya.
Leon menyatukan tubuh mereka saat mendengar permohonan Sara dan kali ini dirinya bergerak dengan sangat perlahan.
Sara bergerak-gerak gelisah saat hampir meraih kenikmatannya.
"Please..." pinta Sara kembali.
Leon kemudian mulai bergerak dengan cepat dan memagut bibir gadis itu dan dia kembali menumpahkan benihnya di dalam tubuh Sara saat mencapai klimaksnya. Dirinya tidak menunda-nunda lagi saat Sara sudah mencapai klimaksnya.
Dia kemudian beranjak dari atas tubuh Sara yang berbaring pasrah di ranjangnya. Dia masih ingin menikmati hadiahnya tapi mereka saat ini butuh makan.
"Tunggulah di sini, aku akan membawakan sarapan untuk kita dan setelah itu kita akan melanjutkannya lagi," bisik Leon dan mengigit pelan telinga Sara hingga ia merasakan gelenyar kembali merambatin tubuhnya. Ia mengira Leon akan langsung pergi tapi laki-laki itu malah kembali menyusuri leher Sara dengan bibirnya dan menghisapnya kencang. Rintihan kembali Sara berikan saat merasakan rasa sakit sekaligus nikmat karena apa yang Leon lakukan. Leon berpindah-pindah mengisap lehernya hingga dengan refleks ia mencengkeram Leon, ia yakin akan banyak bekas ciuman Leon di lehernya sekarang.
"Kamu sungguh sangat responsif akan sentuhanku dan aku menyukainya," ujar Leon dan kali ini benar-benar pergi menyiapkan sarapan.
Sara hanya bisa berbaring diam dan tidak menanggapi tapi saat Leon keluar dari kamar ia segera bangun dan mencari baju Leon yang bisa dipakainya. Sebab bajunya sudah disobek Leon hingga ia tidak bisa mengenakannya lagi dan karena panik ia tak ingin membuang waktu untuk mencari celananya lagi. Jadi dia hanya menyambar pakaian Leon yang ada di hadapannya saja.
Setelah itu ia bergegas keluar dari apartemen itu dengan segera dan menuju ke tempat Darrius. Aku akan membunuh Darrius saat bertemu dengannya nanti, apa maksudnya jika aku merupakan hadiah untuk Leon? Bukannya aku ke sini untuk berbicara mengenai Bill Jones?
***
Jangan lupa klik love & komentya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^