12

1204 Kata
Sara menenangkan dirinya setelah kepergian Leon. Selama ini dia selalu berusaha menjauh dari pengadilan. Setelah apa yang dialaminya dulu, dia tidak pernah ingin lagi berada di sana. Tapi sepertinya kali ini dia tidak bisa menghindari lagi. Saat membantu Shirley dia sudah tahu jika mungkin kali ini dia tidak akan bisa menghindar. Tapi dia tidak bisa membiarkan Shirley terus menderita dan bersikap egois hanya karena ketakutannya akan pengadilan selama ini. Setelah itu kemudian ia memakai kembali pakaiannya yang kemarin dan menuju ke rumahnya untuk mengambil beberapa pakaiannya untuk dipakai beberapa hari di tempat Leon. Dia yakin mungkin seminggu lagi Leon akan bosan padanya dan mencari yang lain dan dirinya bisa mengajukan gugatan cerai setelah itu. Saat akan keluar dari rumah, ia kembali dicegat oleh Everlyn. "Sara." "Halo, Ms. Evelyn." "Kamu mau pergi ke mana?" "Oh...aku akan menginap bersama sepupuku." "Apa kamu sudah mendengar gosip terbaru?" "Apa itu, Ms. Evelyn?" "Ternyata Bill Jones suka menyiksa istrinya dan saat ini istrinya mengugat dia di pengadilan." Tentu saja aku tahu, pikir Sara. "Benarkah, Ms. Evelyn? Jadi istrinya tidak kabur bersama kekasih gelapnya?" tanya Sara dengan nada menyindir. "Yah...belum pasti juga karena semuanya masih dalam proses dan yang menjadi pengacara Shirley adalah Leon Darrell. Pengacara itu sangat tampan dan yang menjadi istrinya pasti sangat beruntung memiliki suami setampan itu." Benarkah? Sara tidak yakin. Karena laki-laki tampan akan selalu dikelilingi oleh wanita-wanita cantik juga. "Baiklah, Ms. Evelyn. Sepupuku sudah menunggu kedatanganku aku harus segera pergi," ucap Sara. "Ya, tentu." Sara tidak langsung pulang ke apartemen Leon tapi dirinya menuju ke butiknya dan membukanya. Dia terus berada di sana hingga malam karena tidak mau pulang cepat dan harus menunggu-nunggu kepulangan Leon. Biarkan laki-laki itu yang menunggunya. Sara tidak ingin seperti mamanya yang tiap malam selalu menunggu papanya pulang hingga ketiduran. Saat waktu sudah menunjukkan pukul 19:00, Sara menutup butiknya dan baru pulang ke apartemen Leon. Ketika sudah tiba dia membuka pintu perlahan dan masuk ke dalam. Apartemen itu sangat gelap, saat ia baru mau berjalan tiba-tiba lampu menyala dan sudah berdiri Leon di sana menatap padanya dengan lengan terlipat di kedua dadanya dan tubuh bersandar di dinding. "Dari mana saja dirimu, Sara?" "Aku tidak harus melapor kepadamu bukan ke mana aku harus pergi? Aku bukan tahanan," ujar Sara. Leon tidak menanggapi ucapan Sara hanya terus menatapnya dengan lekat. Apa sebenarnya yang Leon inginkan? Kenapa dia tidak mengatakan apa-apa? Apakah dia akan marah dan kemudian memukulku? Seperti yang dulu Papa lakukan pada Mama. Sara bersiap jika mungkin inilah saatnya Leon akan memukulnya. Sesaat dia merasa takut hingga melangkahkan kakinya mundur mendekat pada pintu dan bersiap untuk kabur jika Leon menghampirinya. "Ayo...kita makan, aku sudah sangat lapar," ujar Leon dan kemudian berbalik menuju dapur. Sara menghembuskan napas lega. Tapi dia tidak boleh lengah, mungkin saja Leon akan memukulnya saat dia lengah. Ia kemudian mengikuti Leon ke dapur dan terus menatap Leon dengan waspada. Saat ini Leon sedang menyiapkan makanan mereka dan sesaat perut Sara berbunyi karena tergoda akan makanan tersebut. "Makanlah," ucap Leon yang sudah duduk di kursi dan mulai makan. "Shirley sangat ingin bertemu denganmu jadi kapan kamu ingin bertemu dengannya?" tanya Leon. "Apakah besok boleh?" "Tentu. Aku akan mengantarmu ke sana." "Terima kasih," ujar Sara dan kembali melanjutkan makannya. Sara kembali waspada saat Leon bangun dari kursinya. Dia menghentikan makannya dan menatap gerak gerik Leon. Tapi dirinya merasa lega saat Leon hanya menuju tempat cuci piring dan mencuci piringnya. Ia kembali waspada dan bersiap kabur saat Leon menghampirinya. Dirinya mengenggam erat sendok di tangannya berusaha menahan diri agar tidak langsung kabur saat itu juga. "Makanlah dengan perlahan, aku mandi dulu jika kamu sudah selesai kamu boleh menyusul," bisik Leon di telinga Sara dan kemudian mengecup lembut kepalanya. Saat Leon sudah meninggalkannya, Sara kembali menghembuskan napasnya lega. Saat sudah selesai dan mencuci piringnya Sara masuk ke dalam kamar dan benar apa yang dikatakan Leon jika dia akan mandi. Karena ia bisa mendengar suara air mengalir dari kamar mandi. Tapi dia tidak siap untuk menyusul Leon ke sana. Ia kemudian hanya duduk di kursi yang ada di kamar dan menunggu Leon selesai mandi. Dia hanya bisa menatap tubuh Leon dengan mendamba saat laki-laki itu keluar masih dengan air yang menetes di rambut dan dadanya yang telanjang. "Mandilah," ucap Leon lembut. Ia kemudian menatap kedua mata Leon dan menurutinya masuk ke kamar mandi. Saat keluar dari kamar mandi ia memilih mengenakan handuk dan tidak memakai apa-apa lagi di dalamnya. Sara mencari keberadaan Leon dan menemukannya sudah tidur di atas ranjang. Dirinya kemudian mendekat dan dia bisa melihat raut kelelahan di wajah Leon. Apakah tadi sidangnya berjalan lancar? Aku lupa menanyakannya pada Leon karena terlalu bersikap waspada dan dia masih menungguku untuk makan padahal dia pasti sangat lelah. Sara membelai pipi Leon lembut dan tersentak kaget saat kedua mata itu terbuka dan menatap padanya. Dengan cepat Sara menarik tangannya tapi Leon menangkapnya dan menahannya di sana. Dia kemudian mencium jari jemari Sara dan menghisapnya perlahan. Seketika tubuh Sara merasakan rasa nyeri karena menginginkan sentuhan Leon di seluruh tubuhnya. Kemudian Leon berpindah menyusuri bagian dalam lengan Sara dan mengecupnya lembut. Dia kemudian menarik Sara hingga dirinya menimpa Leon. Kemudian dia membaringkan tubuh Sara dan menyibakkan handuk yang menutupi tubuhnya. Setelah tak ada lagi yang menghalangi tubuh Sara darinya dia mulai mencumbu sekujur tubuh istrinya dengan perlahan. Saat Sara mendesahkan namanya dia segera menyatukan tubuh mereka dan meraih kenikmatan bersama. Setelah selesai bercinta Sara berbaring dipelukan Leon tanpa busana hingga kulit mereka menempel satu sama lain dan entah kenapa Sara merasa nyaman dan tidak takut saat ini. "Aku tadi pergi ke rumah mengambil pakaianku dan lalu membuka butik hingga malam." "Ya, maaf jika kamu merasa aku menginterogasimu, aku hanya merasa cemas saat kamu belum pulang juga padahal hari sudah malam." "Ya, maaf. Aku yang bersikap terlalu sensitif. Apakah semua berjalan lancar?" tanya Sara kemudian. "Ya, dua minggu lagi sidang kedua akan digelar dan kali ini kamu akan dihadirkan sebagai saksi." Tubuh Sara menegang saat tahu jika dua minggu lagi dia harus datang ke pengadilan. Berarti dia harus menyiapkan dirinya dalam waktu dua minggu. Leon merasakan ketegangan di tubuh Sara dan dia membelai perlahan tubuh Sara hingga wanita itu kembali rileks. "Bercintalah denganku," pinta Sara. Dia ingin melupakan ketakutannya lagi dan semua itu akan dia lupakan saat Leon bercinta dengannya. Leon menuruti keinginan Sara dan kembali mencumbunya. Mereka saling mencumbu dan memuaskan rasa akan satu sama lain dengan terburu-buru. Saat mereka merasakan perasaan hampir meledak karena gairah yang semakin meningkat Leon segera menyatukan tubuh mereka dan terus bergerak di dalam kehangatan Sara hingga badai o*****e kembali menyerang mereka. Kemudian Sara tertidur pulas di dalam pelukan suaminya dan sudah melupakan ketakutannya. Leon belum bisa tidur saat Sara sudah tertidur. Dirinya kembali memikirkan semuanya. Tadi dia merasa begitu takut saat sampai di rumah dan tidak menemukan Sara. Sesaat dia takut jika Sara melarikan diri darinya. Tapi dia lega saat akhirnya wanita itu pulang. Leon bisa melihat jika Sara akan pergi jika dia salah bertindak, terlihat dari gerakan tubuh Sara yang mirip seekor mangsa yang ketakutan. Apa sebenarnya yang sudah terjadi pada Sara? Leon sangat ingin mengetahuinya. Dan dia menyadari jika Sara akan menegang saat dirinya menyebutkan tentang pengadilan. Mungkin Sara hanya tidak suka berada di sana. Leon memeluk tubuh istrinya yang sudah tertidur dengan lembut dan kemudian dia juga tidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN