“Coba tebak gue bawa apa?” tanya Yohan.
Auryn mencium aroma harum roti dan cokelat. Cewek itu seketika langsung terduduk dan menatap Yohan dengan senyum lebarnya.
“Croissant cokelat?” tebak Auryn.
“Kenapa bisa tahu sih?”
Yohan lalu mengulurkan kotak roti yang dia sembunyikan di belakang tubuhnya. Dia membuka kotak itu dan menghadapkan ke Auryn.
“Tante gue dateng bawa roti ini. Ya udah gue minta satu buat lo.”
Kedua tangan Auryn langsung mengambil kotak itu. Dia menatap roti berbentuk keong yang mengeluarkan harum yang begitu enak itu.
“Makasih ya. Lo selalu inget apa yang gue suka.”
Senyum Yohan mengembang. Bagaimana dia tak ingat kesukaan Auryn kalau gadis itu saja menarik seluruh perhatiannya.
“Sama-sama, Ryn,” jawab Yohan.
Auryn mulai memakan roti itu. Senang karena diberi perhatian kecil seperti ini.
“Pelan-pelan makannya. Belepotan banget.”
Ibu jari Yohan terulur, membersihkan sisa cokelat yang berada di sudut bibir Auryn. Tindakan itu membuat Auryn menghentikan kunyahannya. Dia menatap Yohan dengan senyum malu-malunya.
“Ehm.”
Dehaman itu membuat Yohan dan Auryn salah tingkah. Mereka menoleh dan melihat cowok dengan rambut berantakan berdiri menatap mereka.
“Apa, Do?” tanya Yohan.
Redo menatap Auryn dalam. Lalu arah pandang Redo tertuju ke Yohan. “Nyari obat merah.”
“Obat merahnya ada?” tanya Redo ke dua siswi yang berjaga.
Auryn menunduk, suasana senang mendadak canggung karena kedatangan Redo. Dalam hati Auryn berdecak. Ngapain sih Redo ganggu aja!
***
Tret!!
Bunyi tanda berakhirnya proses pembelajaran terdengar kencang. Gadis berbandana pink itu bergegas membereskan alat tulisnya. Dia lalu beranjak dan menyampirkan tas pink-nya di pundak.
“Woii tungguin!!”
Teriakan Wiska membuat Auryn menoleh. Gadis itu bertolak pinggang ke cowok bermata sipit itu. “Gue mau nemenin Yohan latihan,” tanpa menunggu jawaban Wiska, Auryn balik badan.
Dia berjalan dengan kedua tangan memegang tali tas punggungnya. Setiap hari Rabu sepulang sekolah dia selalu menemani Yohan latihan. Pacar pertama Aurynlah yang meminta dengan alasan agar lebih bersemangat. Tentu Auryn tak keberatan, dia suka sering membuat vlog saat menemani Yohan latihan.
Sesampainya di ruangan pojok, Auryn menghentikan langkah. Dia melongok melihat ruang ekskul basket yang tampak ramai itu.
Puk!
Saat sibuk mengedarkan pandangan, tepukan di pundak membuat Auryn menoleh. Mata bundarnya bertemu pandang dengan mata hitam legam itu. Tanpa sadar Auryn menghela napas.
“Bikin kaget aja,” katanya seraya mendorong d**a Yohan.
Melihat wajah memerah di depannya membuat Yohan gemas sendiri. Cowok itu maju selangkah dengan satu tangannya bersandar di pintu belakang Auryn. “Habisnya ngintip-ngintip. Ya udah gue kagetin,” Yohan memberi alasan.
“Kan gue ngintip-ngintip juga nyari lo,” jawab Auryn sambil melipat kedua tangan di depan d**a.
Yohan terkekeh melihat tingkah jutek Auryn. Cowok berhidung mancung itu menunduk, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Auryn.
“Gemes,” katanya setelah itu menggerakkan bibir ke kiri dan ke kanan, menggoda pacarnya.
Melihat tingkah konyol Yohan, Auryn terkekeh. Gadis itu menurunkan kedua tangannya ke sisi tubuhnya. “Dari dulu kalau gue gemes. Cantik lagi,” jawabnya penuh percaya diri.
Karena gemas dengan pacarnya, Yohan menjapit dagu Auryn dengan ibu jari dan jari telunjuk. “Iya deh iya, pacar gue ini emang gemesin dan cantik,” Yohan mengakui.
Auryn terbahak lalu mencubit pipi Yohan gemas. “Bisa aja gombalnya.”
“Ehm!!”
Dehaman itu membuat Yohan sontak berdiri tegak. Dia menoleh ke kiri dan melihat cowok yang mengenakan seragam basket. Di depan Yohan, Auryn membulatkan mata. Kaget dengan kehadiran Redo.
“Pacaran mulu. Ini sekolah kali,” kata Redo dengan tatapan tajam. Dia melihat jelas bagaimana interaksi Auryn dan Yohan yang cukup mesra itu.
“Iri? Cari pacar sana!” jawab Yohan mengejek Redo.
Auryn hanya diam. Dia tak ingin salah bicara di depan dua pacarnya itu.
“Gue udah punya pacar kok,” kata Redo sambil mengulas senyum tipis.
“Oh ya?” tanya Yohan tak percaya.
Perkataan Redo membuat Auryn menegakkan tubuh. Gadis itu menyentuh pundak Yohan hingga pacar pertamanya itu menoleh.
“Gue tunggu di lapangan ya,” kata Auryn setelah itu memilih pergi. Dia tak kuat dengan perbincangan seperti tadi.
Kepergian Auryn membuat Redo mengulas senyum. Sedangkan Yohan tampak biasa saja, tak tahu jika dua orang di depannya memiliki rahasia besar.
“Langsung aja deh latihan, keburu makin sore,” kata Redo setelah memperhatikan Auryn. Redo balik badan, dia berjalan mantap ke arah lapangan.
Selepas kepergian Redo dan Auryn, Yohan masuk ruang ekskul. “Ke lapangan sekarang!” perintah Yohan kepada anak buahnya.
Di lapangan, Auryn duduk dengan kaki bergerak. Dia kesal ke Redo yang seolah memancing. Meski cowok itu tak memberi tahu rahasiaitu ke Yohan, tapi tetap saja Auryn tak suka.
“Kok kayaknya sebel banget.”
Suara berat dari arah samping itu membuat Auryn menoleh. Bola matanya melebar melihat Redo berdiri tanpa rasa bersalah. “Maksud lo apaan sih ngomong kayak tadi? Gue nggak suka ya!”
Redo tersenyum miring. Dia meletakkan tas hitamnya di samping Auryn. Lalu dia fokus menatap Auryn dengan tanpa rasa bersalah.
“Kan gue nggak ngasih tahu,” jawab Redo sambil mengulas senyum.
“Awas ya lo mancing-mancing kayak tadi!”
Senyum Redo mengembang. Dia mulai melakukan pemanasan dengan menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan. “Hari ini lo dukung gue ya.”
Auryn yang sibuk menatap sekeliling seketika menoleh. Dia menatap Redo dengan satu alis terangkat. “Lo tanding?”
“Cuma latihan. Tanding sama Yohan,” jawab Redo setelah itu menyelesaikan pemanasan.
Kalimat Redo membuat Auryn mengembuskan napas. “Ya nggak bisa, gue harus tetep dukung Yohan.”
Redo sudah menebak jika Auryn akan menjawab seperti itu. Yohan selalu diutamakan dan Redo selalu mendapat jatah sisa.
“Lo nggak bikin vlog?” tanya Redo. Dulu, sebelum menjadi pacar Auryn, Redo selalu melihat cewek itu menunggui latihan sambil sibuk dengan kamera. Sekarang Redo juga ingin dibadikan momennya oleh Auryn.
“Bikin,” jawab Auryn sambil mengeluarkan kamera di dalam tasnya.
“Jangan lupa shoot dan dukung gue.”
“Ya nggak bisalah. Nanti Yohan curiga.”
Auryn lalu sibuk dengan kemeranya. Dia tak tahu apa maksud Redo. Oke, cowok itu mungkin memang ingin diperhatikan, tapi harusnya cowok itu tahu bagaimana risiko menjadi pacar kedua.
“Gue nggak mau tahu, pokok lo juga harus dukung gue,” ucap Redo setelah itu menjauh dari Auryn. Bertepatan dengan itu Yohan masuk ke lapangan basket.
Auryn melihat kepergian Redo dengan alis yang hampir tertaut. “Aneh,” gumam gadis itu.
“Apanya yang aneh?”
Yohan meletakkan tas di samping kanan Auryn. Yohan berjongkok, menatap gadis itu sambil menyentuh lutut. Mulai melakukan pemanasan.
Auryn meringis. “Bukan apa-apa kok. Ya sudah sana latihan. Tuh temenmu udah pada nunggu,” jawabnya sambil melirik ke arah lapangan. Dia melihat Redo bertolak pinggang menatap ke arahnya. Sepertinya cowok itu sedang cemburu.
“Oke. Dukung gue ya,” kata Yohan seraya berdiri. Dia menyempatkan diri mengacak rambut Auryn pelan.
Selepas kepergian Yohan, Auryn mengangkat bahu pelan. Dia geleng-geleng pelan karena diminta mendukung dua pacarnya sekaligus.
“Tahu deh dukung siapa,” gumam Auryn sambil menoleh ke tas Yohan di sisi kanannya. Setelah itu menatap tas Redo di sisi kirinya.
Kenapa bisa dua tas itu berada di samping Auryn? Seolah memberi isyarat kalau hidupnya berada diantara Redo dan Yohan.
“Yes!!”
Baru awal bermain, Yohan sudah mencetak point. Dia menatap ke Auryn lalu tersenyum senang.
Auryn sontak mengangkat kameranya dan mulai membuat vlog. “Gue lagi lihat tim basket gue latihan.”
Kamera itu bergerak merekam setiap Yohan berlari. Hingga lensa itu menangkap Redo sedang berdiri dan menatap ke arah kamera itu. Cowok itu lalu mengangkat kedua tangan dan membentuk bentu love di depan dadanya. Hanya sebentar, mungkin sekitar satu menit sebelum Yohan menghalangi sambil menggiring bola basket.
Buru-buru Auryn menggerakkan kameranya ke arah ring. Gadis itu ketakutan sendiri. Sungguh Redo sangat menantang, gimana kalau Yohan tadi sempat melihat? Atau anggota tim basket lain? Duh! Kalau sampai itu terjadi Auryn akan memarahi pacar keduanya itu.