8-Sebel

1513 Kata
Sebuah taxi berhenti di depan rumah minimalis berwarna putih. Seorang gadis turun dengan bibir tertekuk dan alis yang hampir bertaut. Dia berjalan tanpa semangat dengan raut muram. “Auryn pulang,” kata gadis itu setelah membuka pintu utama. Dean dan Audrey yang duduk santai di ruang tengah saling berpandangan. Mereka mendengar gerutuan kecil itu dari arah ruang tamu. “Auryn!! Itu kamu?” teriak Audrey. Auryn menarik napas panjang. Tanpa menjawab gadis itu melangkah ke ruang tengah. Dia melihat Mama dan Papanya duduk bersisian. “Iya, Ma,” jawab Auryn setelah itu mengerucutkan bibir. Dean terkekeh pelan melihat anak perempuannya yang terlihat ngambek itu. “Pacar muda Papa ini kenapa?” “Jangan pernah ngomong gitu lagi, Pa. Kalau orang yang nggak tahu dikira aku pacar Papa beneran!!” protes Auryn. Dia tak suka dengan panggilan “pacar muda papa”. Kesannya dia menjadi simpanan om-om. Audrey terkekeh pelan. Meski sudah memiliki dua orang anak, Dean masihlah sama. Masih suka menggoda. Bahkan anak sendiri digoda dan sering digombali. “Udah-udah. Anak Mama ini kenapa?” tanya Audrey lembut. Auryn menarik napas panjang lalu duduk di samping Mamanya. “Bang Andreas gak bisa dihubungi. Aku kan jadi pulang naik taxi,” ungkapnya. “Loh Abang nggak bilang ke kamu? Dia kan ke Malang berangkat siang tadi,” jelas Dean. “Dia nggak ngabarin! Sebel,” jawab Auryn. Gadis itu lalu menatap Mama dan Papanya bergantian. “Mungkin Abang lupa,” kata Dean. “Ah enggak. Pasti sengaja.” Auryn yakin kalau abangnya itu pasti sengaja. Kadang dia ragu Andreas itu beneran abangnya atau bukan. Kalau paras Andreas tak sama dengan Dean, Auryn pasti langsung mengklaim abangnya itu bukan kakak kandungnya. “Auryn ke kamar dulu ya, Ma,” pamit gadis itu lalu bergegas naik ke kamarnya. Di sofa, Audrey dan Dean saling berpandangan. Mereka mengulas senyum melihat tingkah anak perempuannya yang manja itu. “Kayak kamu ngambekan,” goda Dean. Audrey mendorong lengan suaminya. “Inget dulu kamu juga ngambekan!” jawabnya jutek lalu mencibir, membuat Dean terbahak. Di kamar, Auryn menghempaskan tubuhnya, masih dengan mengenakan seragam. Dia ingat saat menemani Yohan latihan. Tadi Auryn tak membela siapapun. Saat Yohan dan Redo mencetak point, Auryn hanya diam saja. Saat tim Redo menang, Auryn juga diam saja. Dia hanya tersenyum ke cowok itu, lalu menepuk pundak Yohan memberi semangat. Drtt!!! Ponsel di dalam tasnya bergetar. Auryn seketika duduk, melepas tas yang masih bertengger di punggungnya. Gadis itu merogoh tas dan mengambil benda yang masih bergetar itu. Auryn melihat nama Redo muncul. Dia lalu mengangkat panggilan itu dan melakukan facetime. “Apa?” tanya Auryn sebagai salam pembuka. Senyum Redo mengembang. Dia melihat wajah Auryn yang tampak suntuk itu. “Kenapa wajahnya ditekuk?” “Lagi sebel. Udah nunggu abang gue ternyata nggak bisa jemput.” “Emang nggak dianterin Yohan?” Auryn menggeleng pelan. Dia ingat saat Yohan berbincang dengan pak Indra--guru olahraga plus pelatih basket. Karena sebal menunggu Auryn memutuskan pulang dulu. Ternyata abangnya tak bisa menjemput. “Tahu gitu tadi gue anter, Ryn,” jawab Redo. “Udahlah jangan bahas itu.” Pandangan Auryn tertuju ke wajah Redo yang tampak segar. Dalam hati, Auryn mengakui kalau Redo tampan. Apalagi dengan rambut cowok itu yang masih klimis. Yah, Redo tak kalah tampan dengan Yohan. Bedanya Redo terlihat badboy sedangkan Yohan terlihat goodboy. “Kok masih pakai seragam? Baru sampai?” tanya Redo retoris. Belum sempat Auryn menjawab dia melanjutkan. “Mandi dulu deh. Baru nanti facetime lagi ya, Sayang.” Mendengar kata ‘sayang’ keluar dari bibir Redo, Auryn memutar bola matanya. “Gak usah gombal.” “Gak ngegombal kok. Udah sana mandi. Biar makin cantik.” Auryn mengangguk singkat. “Udah ya. Bye!” setelah mengucapkan itu dia memutuskan sambungam secara pihak. Auryn mengenggam ponsel lalu kembali berbaring. Dia masih enggan beranjak untuk sekadar mandi. Drtt!! Ponsel di genggamannya kembali bergetar. Dia melihat nama Yohan muncul. Auryn menggeser layar ponselnya dan menempelkan di telinga kiri. “Ryn. Lo udah balik?” “Telat!!” Terdengar helaan napas panjang di sana. “Sorry. Pak Indra ngajak diskusi dulu. Gue juga nggak tahu bakal lama,” kata Yohan tak enak. “Besok gue antar jemput deh. Gimana?” “Terserah.” “Oke. Sekaligus gue bawain flat white sama croissant kesukaan lo.” Auryn memutar bola matanya. “Lo nyogok gue ya?” “Enggak kok. Gue emang niat ngasih lo itu,” jawab Yohan terdengar beralasan. “Serah lo deh.” Setelah mengucapkan itu Auryn memutuskan sambungan lebih dulu. Matanya lalu mulai terpejam. Samar-samar dia mendengar getar ponsel di samping telinga. Auryn tak berniat mencari tahu, dia terlalu lelah. Hingga tak lama dia terlelap masih dengan mengenakan seragam.   ***   “Ryn!! Tunggu!!” “Udah telat!” Auryn berlari meninggalkan Yohan yang baru keluar dari mobil. Gadis itu menghentikan aksinya saat sampai di pintu depan, mengatur napasnya yang memburu. Sekolah Graha Buana memiliki dua pintu gerbang. Gerbang pertama selalu dibuka, sedangkan gerbang atau pintu kedua sepuluh menit setelah bel berbunyi akan ditutup. Dan baru dibuka setelah bel pulang sekolah. Auryn lalu melanjutkan langkah. Entah kenapa perasaannya tak enak. Dia seolah melupakan sesuatu, tapi berkali-kali dia berusaha mengingat selalu tak berhasil. Kamera udah bawa. Uang saku udah bawa. Gadis berbandana itu membatin. Seingatnya dua barang itu sudah dia bawa. Auryn mengusap keningnya dengan telapak tangan. “Ada yang ketinggalan?” Yohan berjalan mendekat, lalu memperhatikan gadis yang terlihat bingung itu. “Ada yang ketinggalan?” ulangnya. Auryn menghentikan langkah lalu menggeleng tegas. “Gue kayak ngelupain sesuatu. Tapi nggak tahu apa.” “Morning kiss  buat gue,” jawab Yohan sambil menarik turunkan kedua alisnya. “Apaan sih.” Candaan itu membuat Auryn malu-malu. Dia lalu menarik lengan Yohan agar melanjutkan langkah ke lantai tiga. Sekolah mereka memiliki tiga lantai. Di lantai pertama terdapat aula, kantor kepsek, ruang guru dan para staff, UKS yang berada di deretan depan. Di lantai itu juga terdapat ruang kelas untuk kelas sepuluh, lab dan ruang ekskul yang sedikit menjorok ke arah halaman belakang. Sedangkan lantai dua terdapat ruang kelas untuk kelas sepuluh bahasa dan kelas sebelas. Sedangkan lantai ketiga terdapat ruang kelas untuk kelas dua belas. Di tahun ajaran kali ini, murid kelas dua belas lebih banyak daripada kelas lainnya. “Belajar yang bener. Nanti istirahat ketemu ya,” kata Yohan setelah sampai di depan kelas dua belas IPA dua—kelas Auryn. “Oke.” Yohan mengedipkan mata sambil mengacungkan jempolnya, lalu melanjutkan langkah menuju kelas dua belas IPA tiga. “Kok sepi?” gumam Auryn sesampainya di depan pintu. Tak lama dia mengernyit, ingat sekarang hari Kamis dan jam pertama pelajaran biologi. Sontak Auryn ingat. Dia buru-buru balik badan dan bergegas menuruni tangga tangga. “Gue praktikum!” Setelah menuruni tangga hingga sampai di lantai satu, Auryn segera berlari ke ruangan pojok bersebelahan dengan ruang ekskul. Dari kejauhan dia melihat pintu cokelat yang terbuka lebar. Dia membuang napas lega, setidaknya bu Armin belum sampai dan dia masih diperbolehkan ikut pelajaran. Auryn masuk lab biologi dengan napas terengah. Dia melihat beberapa temannya duduk dengan toples bening di atas meja. Auryn mengernyit, melihat kodok di toples itu. “Emang disuruh bawa kodok ya?” tanya Auryn setelah duduk di samping Wiska. Cowok berjas lab putih itu menoleh. Dia meneliti Auryn dari atas hingga bawah. “Lo nggak bawa kodok?” tanya Wiska menyadari gadis cantik itu tak membawa apapun di tangan. “Emang disuruh bawa?” “Iyalah. Kan ini tugas kelompok.” “Ya udah gue sekelompok sama lo,” kata Auryn seperti biasa ketika ada tugas kelompok. Wiska menggeleng tegas lalu menoleh ke Lika yang duduk di sampingnya. “Gue udah kelompokan sama dia.” Kalimat itu membuat Auryn melebarkan matanya. “Kok lo satu kelompok sama dia? Biasanya kan sama gue!” protesnya. “Bu Armin kan yg nyuruh kelompokan sama temen sebangku. Lo lupa waktu itu disuruh pindah di bangku depan?” semprot Wiska tak terima. Auryn menepuk kening. Sekarang dia ingat apa yang telah mengganjal di pikirannya. Harusnya dia satu kelompok dengan Virgo. “Mana tuh cowok?” tanya Auryn sambil mengedarkan pandangan ke penjuru lab. “Siapa?” tanya Wiska ikutan mengedarkan pandangan. “Nah itu dia!” Tanpa menjawab pertanyaan itu Auryn sontak berdiri setelah melihat Virgo duduk di baris depan. Wiska hanya geleng-geleng melihat keanehan temannya itu. Saat sampai di barisan depan, Auryn berdiri di depan meja Virgo. “Gue satu kelompok sama lo ya?” tanyanya ke cowok yang sedang membaca buku itu. Pertanyaan Auryn membuat Virgo mengangkat wajah. Virgo menatap gadis di depannya intens. Membuat Auryn mengangkat satu alisnya. “Heh jawab!” “Gak,” jawab Virgo lalu kembali menatap buku di tangannya. Jawaban Virgo membuat Auryn berdecak. Gadis itu merebut buku dari tangan Virgo dan mengangkatnya tinggi-tinggi. “Gue kan waktu itu duduk samping lo. Jadi gue sekelompok sama lo,” ingat Auryn. “Lo bawa kodok kan? Kebetulan gue nggak bawa.” Tindakan Auryn membuat Virgo menghela napas panjang. Cowok itu berdiri dan merebut buku yang direbut paksa oleh Auryn. Virgo menutup bukunya lalu memasukkan ke dalam tas. “Lo bukan kelompok gue!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN