"Aku takut Aslan sakit, Han, kasihan dia,” ucap Senja. "Ngapain kasihan sama dia? Dia kan kaya raya, dia juga ada orangtua, kok,” kata Jihan menggelengkan kepala, memang benar kata sahabatnya itu. “Aku ngerasa bersalah,” lirih Senja. “Bilang aja kamu kangen, ‘kan?” “Hem.” “Wah. Kamu sudah jujur banget, ya,” kekeh Jihan. “Aku ngerasa bersalah karena udah nolak dia, udah menghancurkan harapan dia, kamu kan tahu bagaimana Aslan selama ini sama aku.” “Dia itu lelaki yang baik, Kia, dia bakal ngedapetin jodoh yang baik juga.” Senja menganggukkan kepala mendengarkan. “Ja, aku tahu apa yang kamu pikirkan, aku juga tahu kamu merindukan Aslan, bahkan sangat merindukannya, namun keputusan kamu sudah terjadi, apa yang terjadi pun nggak akan membuat Aslan kembali seperti dulu,” kata Jihan, me

