“Nggak ada.” Fika menahan d**a Abi, yang baru saja mencondongkan tubuh ke arahnya. Pria itu hendak memberi kecupan di pipi, tetapi Fika menolaknya. Ia masih sakit hati dengan perbuatan Abi kemarin dan entah mengapa rasa itu tidak berkesudahan. Semakin ingin dilupakan, Fika semakin terngiang-ngiang adegan Abi yang tampak perhatian pada Vira kemarin sore. “Sudah kubilang, Mas Abi diem aja dan nggak usah minta macam-macam selama satu minggu ke depan.” Fika berbalik, kemudian mengambil salah satu ikat pinggang yang terpajang di dinding dengan rapi. Setelahnya, ia kembali ke hadapan Abi, lalu memakaikan ikat pinggang tersebut di pangkal celana sang suami. “Harusnya Mas Abi bersyukur, aku masih mau bantuin mandi, sama pake baju. Coba kalau nggak, mau minta tolong sama siapa? Sama bibik? Begin

