“Ngapain ke sini?” Bening berdecak seraya menghampiri Fika yang sudah lebih dulu masuk dan merebahkan diri di kamar tamu. Kamar tempat gadis itu menginap, saat melarikan diri dan bersembunyi dari Abi tempo hari. Fika menoleh lesu, dengan tatapan sayu. “Aku dari rumah mama ngambil barang, terus mampir sini.” “Iya, tapi ngapain?” Bening kembali berdecak, saat meletakkan bokongnya di tepi ranjang dengan perlahan. “Mending ke salon kek, luluran, pijat-pijat, buat persiapan malam resepsi.” “Mbak.” Fika memutar tubuh. Bertelungkup, mumpung perutnya belum membuncit seperti Bening. Ide pergi ke salon sebenarnya boleh juga, tetapi Fika hanya ingin bertemu kasur dan merebahkan diri di sana. “Kamu nggak pernah cemburu sama bu Vira? Kan, mas Aga sering ketemu kalau ngantar Awan? Nggak curiga merek

