Abi terharu, melihat hasil USG Fika yang sejak tadi belum ia lepas-lepas. Memandang takjup, pada sebuah kantung berisi janin, yang ukurannya masih sangat kecil sekali. Kali ini, Abi berjanji akan menjaga istri dan calon bayinya dengan sepenuh jiwa. Karena itulah, Abi tidak lagi mengizinkan Fika membawa mobil sendiri. Harus ada yang menyopirinya, agar kejadian di masa lalu tidak terulang lagi. “Sudah mau punya anak, nggak usah lagi macem-macem di luar,” kata Fika sambil merebahkan diri dengan perlahan di tempat tidur. Ternyata menunggu antrean di dokter kandungan sangatlah melelahkan. Ini baru trimester pertama, dan perut Fika belum terlihat sama sekali. Fika tidak bisa membayangkan, bagaimana bila ia harus mengantre seperti ibu-ibu hamil lainnya, dengan membawa perut besarnya ke mana-man

