Abi hanya bisa menghela ketika Fika masih saja menekuk wajah di depannya. Padahal, hubungan mereka semalam sepertinya sudah baik-baik saja. Namun, pagi ini suasananya seolah kembali seperti kemarin. Fika terlihat dingin dan tidak memberi Abi senyum sedikit pun. “Kenapa mukanya masih aja ditekuk?” “Aku masih males sama Mas Abi.” Fika berujar terus terang, karena lelah menahan sesak dan kesal di dalam d**a. “Jadi, nggak usah tanya-tanya lagi.” “Mau sampai kapan, Mi?” Abi yang baru saja selesai mandi, bergegas menghampiri Fika yang merebahkan diri di tempat tidur. Ia duduk di tepi, lalu mengusap pelan kepala Fika yang baru saja memunggunginya. “Kan, sudah kubilang nggak usah tanya-tanya.” Fika mengambil guling, lalu memeluknya. Meskipun Abi sudah meminta maaf, tetapi rasa kesal itu masih

