bc

BLACK PUZZLE

book_age18+
55
IKUTI
1K
BACA
revenge
dark
tragedy
high-tech world
weak to strong
like
intro-logo
Uraian

Sejak kecil Ghazi menyukai puzzle. Ia menikmati saat menyusun tiap keping puzzle menjadi sebuah gambar yang utuh. Dan ketika dewasa, ia pun dihadapkan pada kepingan-kepingan petunjuk yang harus ia susun agar bisa mendapatkan gambaran jelas tentang sebuah kasus. Tidak tanggung-tanggung, kasus yang tengah ia hadapi adalah kasus yang melibatkan orang-orang di sekitar Presiden.

Ghazi pun mendirikan Black Puzzle, sebuah forum rahasia yang ia buat untuk mengumpulkan banyak informasi untuk menguak kasus kejahatan di lingkungan istana presiden, sekaligus membalas dendam atas kematian Ayahnya.

Mampukah Ghazi menuntaskannya?

-----

Disclaimer!

Cerita ini banyak mengandung kekerasan. Bagi yang berusia di bawah 18 tahun, diharapkan untuk tidak membaca!

-----

Cerita ini hanya fiktif belaka. Kesamaan nama, tempat, ataupun kejadian adalah murni tidak disengaja dan tidak ada maksud tertentu untuk menyinggung pihak manapun.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. MU VS ARSENAL
“ANAK SIAPA KAMU!!” sebilah rotan yang biasa digunakan untuk memukul kasur yang tengah dijemur, kali ini diacungkan tepat di belakang punggung Ghazi dan nyaris menampar bokongnya. “Kok nanya aku, Bu? Ibu ngerasa melahirkan aku apa nggak?” jawab Ghazi sambil terus berlari. Sementara ibu masih terus mengejarnya sambil mengayunkan rotan ke arah Ghazi. Untuk ukuran emak-emak, kecepatan lari ibu lumayan juga. Ghazi sampai merenung, jangan-jangan ibunya dulu sprinter dan peraih medali emas untuk jarak 100m, sebelum kemudian pensiun dan dilamar ayahnya. “HEH! AWAS AJA KALO KETANGKEP YA! BUKAN CUMA IBU SABET PAKAI ROTAN, TAPI MULUTMU JUGA IBU SAMBELIN!” “Ampuuun Buuu…” setelah mendengar kalimat terakhir yang terlontar dari mulut Ibu, Ghazi serta merta melesat bagai anak panah lepas dari busurnya. Bukan tanpa alasan Ghazi ketakutan, ia pernah mengalaminya sendiri. Ibu tak main-main kalau urusan sambel menyambel. Tak kurang dari sepuluh batang cabe rawit pernah teroles ke mulut Ghazi, langsung dari cobeknya. Hanya lantaran ia tak sengaja memanggil adiknya ‘pekok’, yang artinya semacam g****k dalam Bahasa Jawa. Rasa terbakar dan kebas di bibirnya membuat Ghazi berubah jadi pribadi yang santun dalam bertutur. Sedikit saja terlintas niat melontarkan kata makian, langsung sekelebat bayangan cabe rawit yang pedas, merah membara menari-nari di benaknya, membuat Ghazi seketika membungkam mulutnya. Tapi kadang kelakuan absurd Ghazi masih saja memancing kemarahan ibu. Tak cukup hanya dengan geleng-geleng kepala dan mengurut d**a menahan sabar sambil istighfar, kadangkala ibu juga harus main kejar-kejaran sambil mengacungkan berbagai benda untuk menghantam Ghazi. Mulai dari wajan, panci, penggaris pola baju, botol pewangi pakaian, sikat WC, sapu sekaligus pengkinya, dan yang terakhir rotan pemukul kasur seperti yang terjadi sekarang ini. Rotan itu hanya berjarak beberapa inchi dari b****g Ghazi saat tiba-tiba malaikat kecil penolongnya datang. Sevilla, adik bungsu Ghazi yang baru lulus SD dan diterima di SMP favorit dengan nilai terbaik tingkat provinsi, datang di tengah arena pertempuran. Melihat Sevilla, ibu bagaikan diguyur air sejuk. Cssss… Ibarat bara tersiram air, kemarahannya pada Ghazi menguap seketika. “Seviii.. Adikku sayang paling cantik tingkat alam semesta. Ayo sini masuk sama Abang..” Ghazi merangkul pundak Sevilla dan berjalan melewati ibunya yang menyembunyikan rotan di balik punggung. Pertengkaran Ghazi vs ibu harus terjeda, ibu tak rela si bungsu yang masih murni harus terkontaminasi melihat baku hantam dirinya dan si sulung yang luar biasa bandelnya itu. Sebagai gantinya, Ibu memandangi Ghazi dengan tatapan setajam belati. Ibupun tak jadi memarahi Ghazi yang menumpahkan deretan baki berisi ikan salai yang dijemur ibu di atas atap. Tiga kilogram ikan salai berjatuhan ke tanah terkena bola hasil tendangan maut Ghazi. Semua karena bola. Diawali saat usia Ghazi menginjak sepuluh tahun, hampir lulus SD. Dan entah, sekarang ini sudah pertarungan ronde ke berapa antara Ghazi vs ibu. Badan Ghazi kenyang akan sasaran amukan ibunya. Mulai dari kepala-pundak-lutut-kaki, tertinggal jejak-jejak keperkasaan ibu. Padahal ibu sama sekali tak pernah melarang Ghazi bermain sepakbola. Ibunya malah menyelipkan doa, siapa tau Ghazi punya gocekan dahsyat sekaliber Zinedine Zidane, atau minimal menyamai prestasi Kurniawan Dwi Yulianto dan Ilham Jaya Kesuma, pemain sepakbola dalam negeri yang tenar pada jamannya. Masalahnya, beragam ‘oleh-oleh’ yang dibawa Ghazi saat pulang ke rumah selepas bermain sepakbola itulah yang membuat Ibu lantas naik pitam. Belum genap seminggu Ghazi bergabung dalam MU (Madrasah United) klub sepakbola yang dinamai begitu karena rata-rata pemainnya adalah anak Madrasah yang ada di dekat rumah, Ghazi sudah membuat ulah. Rumahnya didatangi anak tetangga yang menangis terkena bogem mentahnya. Ayah si anak tidak terima dan minta ganti biaya berobat. Ibu yang merasa tidak enak lantas memberikan uang ganti rugi yang diminta. Tapi Ghazi tidak terima, ia bersikeras bahwa itu bukan salahnya. Bocah itu yang lebih dulu memukulnya karena tackling yang Ghazi lakukan menggagalkan gol nya. Ia lebih dulu mendatangi Ghazi dan memukul kepalanya. Ghazi yang selalu dididik Ayah untuk tak pernah menyentuh kepala siapapun karena otak di dalam sana sangatlah berharga, jelas tak terima kepalanya dipukul sembarangan. Ghazi pun membalas dengan mendaratkan bogem mentahnya ke rahang di bocah. Dalam hitungan menit, wajahnya memar dan membiru. Anak itupun pulang dengan bersimbah air mata. Siapa sangka ia malah mengadu dan minta ganti rugi pada ibu? Lain hari, Ghazi pulang dengan tubuh penuh lumpur dari kepala sampai kaki. Ibu sebetulnya memaklumi. Bermain bola selepas hujan pasti akan berkubang dengan lumpur dan tanah yang becek. Itu tidak masalah. Yang jadi persoalan adalah Ghazi tidak langsung pulang setelah sekolah dan malah bermain bola dengan seragam sekolah masih melekat dibadannya. Bayangkan, seragam putih Ghazi berwarna coklat kehitaman nyaris di setiap permukaannya. Hari itu sabetan rotan pertama di terima Ghazi. Banyak lagi rentetan persoalan yang datang saat Ghazi pulang bermain bola. Terakhir, ia lari dengan kecepatan tinggi sepulang dari lapangan dan langsung bersembunyi di kamar mandi. Tak lama, Haji Sanusi datang dengan wajah berang ke rumahnya, tepat lima belas menit setelah Ghazi terbirit-b***t pulang dari lapangan. “Assalamualaikum! Syarvaaan! Partiniii! Bujang kalian sudah pulang kan? Mana dia? Tak kulihat batang hidungnya!” “Waalaikumussalam. Eh, Wak Haji. Masuk dulu Wak, ada apa ini? Apa Ghazi ada bikin salah, Wak?” tanya Ayah, yang saat itu baru saja pulang dari kantor. “Pecah jendelaku terkena tendangan mautnya! Aku tak masalah kalau dia datang lalu minta maaf. Eh, ini malah lari terbirit-b***t macam ayam dikejar musang. Jangankan minta maaf, dia malah menyuruh cucuku yang umurnya baru lima tahun mengambilkan bolanya dari rumahku! Setelah itu dia dan anak lain berlari lintang pukang tak tentu arah. Tak ada tanggung jawabnya anakmu, Syarvan! Miskin akhlak! Bagaimana kalau cucuku luka terkena pecahan kaca saat mengambil bolanya? Mana anakmu! Biar kuberi pelajaran dia!” “Astaghfirullah.. Maaf, Wak. Salahku yang kurang mendidik Ghazi. Kalau Wak Haji tak keberatan, boleh aku bicara dulu pada Ghazi, Wak? Dia sedang mandi, lagipula tak sampai sepuluh menit lagi waktu maghrib tiba, nanti Wak Haji malah terlambat sholat berjamaah. Nanti sehabis dari masjid, aku suruh dia ke rumah Wak Haji untuk minta maaf. Tak apa kalau Wak Haji mau memberinya pelajaran. Memang keterlaluan anak itu. Wajar dia ditempeleng sekali dua kali Wak. Tak apa. Biar dia jera.” jawab Ayah tenang. Ghazi yang menguping dari balik pintu kamar mandi menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak kering kerontang. Sejenak dia meragukan statusnya sebagai anak sulung ayah. Apa ayah benar-benar ayah kandungnya? Ataukah ia anak pungut? Mungkinkah ia bayi yang dibuang orang tua kandungnya dan tak sengaja terbawa aliran kali lalu ujung popoknya tersangkut di kail Ayah yang sedang memancing? Mengira dirinya ikan gabus? “Ghazi!” suara Ibu membuat Ghazi terkesiap. Tanpa sadar ia memegang telinganya, seolah ingin melindunginya dari jeweran ibu. Ghazi sudah sangat siap kalau-kalau jurus cubitan memuntir ibu mendarat di perutnya. Tapi Ayah memberi isyarat pada Ibu untuk tenang, dan Ayah yang mengambil alih. “Kamu sudah mandi?” tanya Ayah datar, tak ada tanda-tanda kemarahan. “Sudah, Yah..” “Hari ini kamu ke masjid sama-sama Ayah. Kalau Pandu dan Hafiz datang, suruh duluan saja.” Imbuh Ayah. Tepat pada saat itu, terdengar suara Pandu dan Hafiz memanggil namanya. Mereka sahabat Ghazi yang mengajak ke masjid bersama-sama. Detik itu juga ibu langsung keluar dan menyuruh keduanya berangkat lebih dulu. “Baik, Yah.” Bahu Ghazi terkulai lemah. Terbayang sudah wajah marah Kakek Haji Sanusi yang siap menempelengnya gara-gara si kecil Omar ia suruh mengambil bola tadi sore. Ghazi sungguh menyesal. Selepas sholat maghrib, Ayah berjalan ke arah yang berbeda dari arah rumah. Jantung Ghazi berdegup kencang. Ini arah ke rumah Kakek Haji Sanusi. Saat ini, rumah Haji Sanusi di mata Ghazi terlihat lebih angker dari tanah kuburan di malam jum’at kliwon. “Assalamualaikum, Wak Haji..” panggil Ayah. “Waalaikumussalam..” tak lama, sosok lelaki tua mengenakan sarung dan peci itu keluar. Ghazi gemetar ketakutan. Ia nyaris pipis di celana. Haji Sanusi memandangi Ghazi dengan tatapan tak bisa diterka. Ghazi menundukkan kepala, tak berani menatapnya. “Wak Haji, ini Ghazi, dia ke sini mau minta maaf dan siap menerima hukuman.” ujar Ayah. Namun Ghazi masih mematung. Takut kalau-kalau tangan Haji Sanusi mampir ke pipinya jika dia bergerak. Haji Sanusi pun diam. Menunggu. Wajahnya biasa saja, tak ada kemarahan berapi-api seperti tadi sore. Mungkin benar kata orang, banyak setan berkeliaran menjelang maghrib. Bisa saja salah satunya tadi menghasut Haji Sanusi untuk marah-marah supaya terlambat shalat ke masjid. “Masuk saja dulu, Syarvan, ajak anakmu.” Haji Sanusi mengajak Ayah dan Ghazi masuk. Keduanya masuk dengan ekspresi berbeda. Ayah yang tersenyum, sementara Ghazi yang murung. Setelah mereka duduk dan disuguhi teh manis hangat dan kue bolu, keberanian Ghazi mendadak muncul. “Kek Haji, saya minta maaf, sudah memecahkan jendela Kakek, dan menyuruh Omar mengambil bola.” tutur Ghazi lirih. Di luar dugaan, Haji Sanusi tersenyum. “Ya sudah. Tadi aku marah karena terkejut, takut si Omar celaka, untungnya tidak. Segores belingpun tak tampak di kulitnya. Ya sudah, Ghazi kumaafkan. Tapi dengan satu syarat, anak-anak Madrasah tak boleh lagi bermain bola di depan rumah ini.” Jawab Haji Sanusi. Ghazi mengerang dalam hati. Di mana lagi mereka bisa bermain bola? Tanah di depan rumah Haji Sanusi adalah stadion utama bagi mereka. Sangat ideal dijadikan tempat latihan. Meski di dekat rumah mereka masih banyak lahan kosong, tapi letaknya jauh dan kalaupun ada pasti ditumbuhi banyak pohon dan berbukit-bukit. Namun di sini, selain tanahnya luas, datar dan benar-benar kosong, letaknya pun di tengah-tengah. “Assalamualaikum..” “Waalaikumussalam..” Ketiganya serentak menjawab salam saat Ahmadi, Putra sulung Haji Sanusi sekaligus ayah Omar, pulang dari masjid. Ahmadi adalah guru madrasah, mengajar fiqih. Ghazi memanggilnya Muallim Ahmad. Muallim adalah sebutan untuk guru dalam Bahasa Arab. Maknanya hampir sama dengan Ustadz. Di Madrasah tempat Ghazi bersekolah, guru-guru dipanggil dengan sebutan Muallim. “Nah ini dia. Di, coba sampaikan yang tadi pada Ghazi. Biar dia paham.” Ujar Haji Sanusi pada putranya. Ghazi mendadak pucat. Dia ketakutan, Muallim Ahmad terkenal kejam di Madrasah. Bukan lantaran sering memberi hukuman fisik, tapi hukuman mental. Ghazi pernah tertangkap menempelkan permen karet di kursi Pandu. Ia pun dihukum berdiri di samping pintu kelas sambil menghapal dua puluh hadits beserta artinya. Kalau belum hapal, hukumannya akan ditambah sampai tiga puluh hadits. Muallim Ahmadi akan setia menunggui sampai selesai. Beliau betah berlama-lama tinggal di sana menemani si terhukum. Dan kalau tidak hapal-hapal juga, tak akan pulang. Tentu saja para orang tua sudah paham. Kalau anaknya terlambat, kemungkinan besar sedang dihukum oleh Muallim Ahmad, dan orang tua malah senang, dengan begitu anaknya jera sekaligus hapalan hadits nya bertambah. Ghazi saat ini membayangkan, dirinya pasti akan disuruh menghapal hadits di tengah lapangan sepakbola. Malam-malam begini, dengan nyamuk yang sudah pasti mengincar darahnya, dan tentu saja makhluk astral yang sangat Ghazi takuti meski sebentar lagi ia menginjak usia remaja. “Ghazi, kamu mau jadi pemain sepakbola?” “I..iya Muallim Ahmad..” “Kamu sanggup jadi kapten?” “Ha? Apa?” “Jadi kapten, pimpin teman-temanmu. Selepas sekolah dan mengaji, kalian latihan yang serius. Pekan depan ada pertandingan di Lapangan samping pasaraya. Kalian harus mengalahkan Arsenal. Apa kamu sanggup memimpin teman-temanmu?” “Ar..senal?” tanya Ghazi dengan gugup. Ia tau betul tentang ARSENAL. Anak Rusun SEmakin terkeNAL. Mereka adalah tim sepakbola yang pemainnya terdiri dari anak-anak penghuni rumah susun di seberang kawasan pemukiman rumah Ghazi. Anak-anak yang luar biasa bandelnya. Hampir di setiap pertandingan, mereka selalu menang karena curang. Mulai dari mencubit saat lawan menggiring bola mendekati gawangnya, tackling yang salah dan bisa saja mematahkan pergelangan kaki lawannya, sampai menjatuhkan mental lawan dengan ancaman-ancaman. Ghazi sangsi dirinya dan tim MU, Madrasah United, bisa menang. “Kita buat perjanjian Ghazi. Kalau kalian menang, maka akan kubuatkan lapangan sendiri. Kebun tebu milik ayahku di samping madrasah akan kupangkas habis dan kalian bebas menggunakannya. Tapi kalau kalah, kalian harus angkat kaki dari tanah depan rumahku dan tidak boleh lagi bermain di sana.” Ghazi menatap Muallim Ahmad dengan mata membola. Sungguh bukan sebuah pilihan. Hanya satu yang harus mereka lakukan yaitu menang. Kalau kalah, tak hanya urung mendapat lapangan seluas kebun tebu Haji Sanusi, tapi juga tak punya tempat lagi untuk bermain bola. Mau tidak mau Ghazi harus menyanggupi. MU harus mengalahkan ARSENAL!

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.3K
bc

Sang Pewaris

read
54.0K
bc

JANUARI

read
49.1K
bc

WAKTU YANG HILANG

read
43.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.5K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook