Semua orang punya tujuan. Yang membedakan adalah jarak tempuhnya. Mungkin ada yang sudah mendekati tujuannya dan tak lama lagi akan sampai dengan selamat di sana. Namun ada pula yang tujuannya masih sangat jauh dan butuh waktu yang sangat lama untuk mencapainya. Tapi menurut Ghazi, durasi untuk mencapai sebuah tujuan bukan ditentukan oleh jarak dari titik awal menuju titik akhir tujuan itu, melainkan kendaraan yang ditunggangi.
Dua orang yang ingin sampai pada tujuan dengan jarak yang sama, bisa berhasil mencapai titik akhir dengan durasi yang berbeda, tergantung dengan cara apa dia berjalan ke sana. Bisa sangat lama, namun bisa juga hanya sekejap mata. Tergantung kendaraan apa yang ia gunakan untuk menempuh perjalanan itu.
Dan Ghazi sudah menemukan kendaraan tercepat untuk sampai di tujuannya. Tujuan utama Ghazi adalah membalas dendam pada orang orang yang secara tidak langsung menyebabkan kematian Ayahnya dan Om Herdi. Setelah membaca semua catatan Ayah, Ghazi mau tak mau merasa sangat ingin membalas perbuatan mereka. Kalau Ayahnya dianiaya oleh perampok sekalipun, Ghazi mungkin tidak akan semarah ini. Tapi Ayahnya harus mengorbankan nyawa demi mengungkap kejahatan terorganisir dari orang orang biadab itu. Ayahnya dan juga Om Herdi ingin menyiarkan ke khalayak bahwa mereka yang terlihat bagaikan pahlawan di hadapan media selama ini justru adalah otak dan biang keladi dari banyak kejahatan di negeri ini.
Topeng mereka sempurna sekali. Malaikat di depan awak media, namun sebenarnya mereka iblis yang memangsa dibelakangnya. Ghazi sungguh ingin melenyapkan nyawa mereka satu persatu dengan tangannya sendiri untuk membalas semua perbuatan mereka pada Ayahnya dan Om Herdi, serta kecurangan mereka yang terus menggerogoti negeri ini.
Balas dendam itu tujuan Ghazi. Dan ia butuh kendaraan untuk mencapainya. Ghazi memilih bekerja sebagai jurnalis di media online terbesar di negeri ini sebagai kendaraannya. Ia butuh data data yang diperlukan untuk menyusun rencana membeberkan kejahatan mereka satu persatu. Ia juga butuh wadah untuk menampung semua hasil risetnya dan kemudian menjadi media pertama yang menyiarkan kejahatan mereka setelah punya cukup bukti untuk pemberitaan yang akurat.
Dan beruntung, Ghazi diterima di sana tanpa banyak kesulitan berarti. Ia hanya menjalani serangkaian tes, dan dinyatakan lolos setelah 3x pemanggilan. Selain dirinya, ada dua lagi yang lolos, satu adalah keponakan pemimpin redaksi, yang satu lagi adalah anak salah satu anggota dewan rakyat yang dugaan kuat Ghazi, ditempatkan di sana untuk mengontrol pemberitaan tentang Ayahnya.
Dunia ini memang kotor, dan Ghazi rela berkubang di kotoran itu demi membersihkannya perlahan lahan.
"Kapan mulai kerja, Bang?" tanya Sevilla yang sedang memotong kuku kakinya di sebelah Ghazi. Potongan kuku jempol yang baunya aduhai itu terbang dan mendarat tepat di ujung hidung Ghazi.
"Heh! Jorok!" Ghazi seketika menjitak kepala adiknya. Tepat pada saat itu, Ibu muncul di ruang tengah sambil membawa baki berisi ubi cilembu bakar.
"Ghazi! Jangan pukul kepala Sevi! Di dalamnya ada otak yang berharga!" bentak Ibu. Sevilla senang sekali merasa dibela Ibu.
"Tau nih Bu. Jewer aja Abang Bu. Tangannya enteng banget jitak kepala Sevi." ujar si bungsu memprovokasi.
"Adikmu ini calon psikolog! Kalau IQ nya jadi turun gimana?" Ibu kembali mencecar Ghazi.
"Ibu.. Ibu.. Mana ada orang IQnya turun gara gara dijitak gitu doang? Itu juga nggak ada rasanya, Bu. Lagian ini anak motong kuku sembarangan! Kuku jempol baunya itu terbang ke hidung Ghazi, Bu! Untung nggak masuk mulut!" Ghazi memelototi si bungsu dengan tatapan galak. Sevilla lagi lagi tertawa.
"Ya harusnya biarin aja, Bang. Siapa tau kuku aku mengandung vitamin. Kan lumayan buat memperkuat imun abang." seloroh Sevi yang membuatnya harus merakan jitakan kedua Ghazi. Sevi meringis sementara Ibu kembali memelototi Ghazi.
"Jorok!" Ghazi melotot.
"Biarin!" Sevilla meleletkan lidahnya ke arah Ghazi.
"Heh! Udah! Udah! Udah pada gede juga!" bentak Ibu.
Ibu kesal tapi jauh di dalam lubuk hatinya Ibu senang. AKhirnya rumah ini ceria lagi. Setelah sekian tahun lamanya mereka hidup dalam ketakutan, kesedihan, dan keputusasaan, akhirnya saat saat keceriaan kembali lagi, meski Ayah sudah tak ada lagi di sisi mereka.
Ghazi dan Sevilla menghentikan canda mereka dan sibuk mengunyah ubi cilembu yang masih mengepulkan asap karena Ibu baru mengeluarkannya dari oven.
"Abang mulai kerja kapan Bang?" tanya Sevilla setelah mencuci tangannya dan ikut mengambil sepotong ubi cilembu, lalu duduk di samping Ghazi.
"Awal bulan depan. Itupun masih proses perkenalan dulu. Paling juga belum ada kerjaan macem macem." jawab Ghazi sambil melempar kulit ubi ke wajah Sevilla, membalas perbuatan adiknya tadi. Sevilla kaget dan gelagapan saat kulit ubi yang hangat menyentuh pipinya.
"Abang!"
"Satu sama!"
"Aduuuh! Ini lama lama dua duanya ibu kurung di gudang ya!"
"Bu, kami udah gede, nggak takut lagi sama setan di gudang." jawab Ghazi santai.
"Tapi masih ada tikus!" bentak Ibu sambil menyeringai.
"Yang takut tikus Sevi, Ghazi nggak." jawab Ghazi santai.
"Tapi kamu takut kecoa terbang dan di gudang ada sarangnya!" bentak Ibu lagi membuat Ghazi seketika bungkam. Baginya kecoba terbang dapat digolongkan sebagai hewan buas. Di mata Ghazi, kecoa terbang bahkan lebih menyeramkan daripada T-Rex.
Mereka cuma seonggok serangga bau yang bisa diinjak dengan sandal jepit, lalu mati hanya dalam durasi dua detik. Tapi tidak kalau mereka sudah terbang. Gerakannya sungguh unpredictable. Dan kalau kita bersikap defensif, mereka bukannya kabur tapi justru mendekat. Sebaliknya kalau kita agresif dan menunjukkan gesture akan menyerang, jangan harap mereka takut dan melarikan diri, tapi justru mereka akan balas menyerang dan sewaktu waktu bisa mendarat tanpa aba aba di muka. Dan untuk Ghazi, itu jauh lebih horor dari film The Conjuring digabung dengan Pengabdi Setan sekaligus!
"Ampun Bu.." ratap Ghazi dan Sevilla nyaris bersamaan. Ibu tertawa puas melihat kedua anaknya bertekuk lutut. Si sulung dan si bungsu ini cenderung lebih mudah ditaklukkan daripada si tengah yang tak takut apapun, persis seperti Ayahnya.
"Abang, kok Abang memilih jadi jurnalis seperti Ayah? Apa abang nggak takut?"
"Takut kejadian yang sama dengan Ayah juga menimpa Abang?" Ghazi balik bertanya pada Sevilla. Gadis itu mengangguk.
"Nggak, Dek. Apa yang terjadi pada Ayah justru Abang jadikan pelajaran berharga.." jawab Ghazi tenang.
"Semoga Abang bisa jadi jurnalis hebat yang memberitakan apapun dengan jujur dan berimbang seperti Ayah, tanpa harus mengalami ketidak adilan seperti yang menimpa Ayah.." doa Sevilla sambil memeluk Ghazi.
Ghazi balas memeluk Sevilla sambil mengaminkan doanya. Dalam hati Ghazi berjanji, dengan kendaraan yang ditungganginya sekarang, ia ingin mencapai tujuannya membalaskan dendam Ayahnya sekaligus menguak kejahatan para penghianat bangsa itu!