"Sudah ada gambaran mau lanjut S2 dimana Ghazi?" tanya Pak Haidir, ketua jurusan di kampus Ghazi. Ghazi bingung menjawab pertanyaan dosen yang paling dihormatinya itu.
"Belum, Pak.. Saya belum bisa memilih." jawab Ghazi dengan nada bimbang.
"Masih bingung memilih? Bapak dengar kamu jadi kandidat di tiga universitas untuk melanjutkan S2 dengan beasiswa?" tanya Pak Haidir lagi.
"Iya Pak, benar." jawab Ghazi sambil tersenyum, sulit menyembunyikan rasa bangga terhadap dirinya sendiri yang sudah bekerja sangat keras untuk menjadi kandidat di tiga universitas itu.
"Lalu masih bingung memilih yang mana?" tanya Pak Haidir lagi.
"Iya pak. Masih harus mikir dulu. Nanti mau minta saran Ibu dulu." jawab Ghazi.
"Ohh.. Iya benar. Memang harus dipikirkan matang matang. Semoga nanti dapat keputusan terbaik ya Ghazi. Dan juga selamat. Kamu lulusan terbaik tahun ini." ujar Pak Haidir sambil mengulurkan tangannya, memberi ucapan selamat sekaligus berjabat tangan. Ghazi menerima uluran tangan Pak Haidir dengan penuh hormat. Ia lalu pamit keluar ruangan Pak Haidir.
Sambil menelusuri koridor kampus, benak Ghazi terus berpikir keras. Tiga tawaran beasiswa itu tak sulit untuk dipilih. Ghazi bahkan tak perlu bersusah payah mencari tau mana yang terbaik, sebab ketiganya ada dalam level yang sama. Dimanapun Ghazi melanjutkan S2 nya tak masalah, ia akan mendapat ilmu yang banyak di ketiga kampus ternama itu.
Pilihan sulit Ghazi bukan terletak pada ketiga kampus itu, melainkan dua pilihan apakah ia akan langsung melanjutkan S2 nya, ataukah ia menunda dan memilih kembali pada keluarganya dan membantu Ibu merawat Ayah?
Ibu sekarang sendirian. Sevilla melanjutkan jenjang sekolah menengan atas di pesantren yang sama, ia melanjutkan beasiswanya. Sementara Anaya, ia berkuliah jauuuh di ibukota. Karena Anaya memilih Fakultas Kedokteran, Ghazi menyarankannya memilih kampus yang terbaik. Dan Anaya diterima di sana. Ini sudah tahun keduanya dan adiknya itu bukan main sibuknya. Ia bahkan pulang lebih jarang dari Ghazi dan Sevi. Praktis, Ibu sendirian yang harus mondar mandir merawat Ayah. Ghazi tak tega melihat ibunya yang sudah mulai menua harus kelelahan seorang diri.
Akhirnya Ghazi memutuskan untuk menyewa rumah kecil di dekat tempat rehabilitasi Ayah. Untuk menghemat ongkos dan tenaga ibu juga. Ibu jadi tidak perlu bolak balik puluhan kilometer untuk menjenguk Ayah.
Rumah berkamar dua yang disewa Ghazi sangat nyaman dan bersih. Jauh lebih bersih dari rumah kampung mereka yang memang penuh dengan hasil kebun dan dikelilingi hewan ternak. Ibu pun betah tinggal di sana. Dengan sedikit modal dari tabungan Ghazi, Ibu membuka warung kecil kecilan di depan rumah, menjual lauk pauk yang lumayan laris. Karena memang masakan ibu selalu enak.
Tadinya Ghazi melarang ibu berjualan. Ia tak ingin Ibu bekerja apapun. Karena Ghazi sendiri sudah bisa mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhan Ibu dan adik adiknya sembari menyelesaikan kuliah. Tapi ibu menolak. Kata Ibu, badannya bisa sakit sakit semua kalau dibiarkan tidak beraktivitas dan diam saja. Akhirnya Ghazi menuruti keinginan Ibunya.
Dan sekarang, tinggal satu minggu lagi Ghazi wisuda. Ia menyelesaikan pendidikan strata satunya kurang dari empat tahun. Dan ketika tiga beasiswa itu datang Ghazi galau. Tiga universitas itu berada di luar negeri. Itu berarti ia akan jauh dari ibu, ayah, dan keduu saudarinya. Ghazi tak sanggup meninggalkan mereka begitu saja.
Dan kedua, kalau melanjutkan S2, itu berarti Ghazi harus fokus belajar dan tidak bisa bekerja penuh untuk mencari nafkah. Padahal saat ini keluarganya sangat membutuhkan uang terutama Anaya. Meskipun ia mendapat beasiswa, tapi tetap saja ada banyak kebutuhan yang harus Ghazi penuhi seperti laptop, akses internet, biaya transportasi, buku buku dan tempat tinggal yang layak. Ghazi mulai sibuk berpikir dan ingin meminta saran ibu.
Hari ini, Ghazi ingin mengunjungi Ayah terlebih dahulu. Ia sudah lama tidak bertemu Ayah. Ia rindu pada Ayahnya. Ghazi ingin bercerita banyak pada Ayah, meski Ayahnya tak pernah merespon, Ghazi tak peduli, ia tetap akan menceritakan semua pada Ayah seperti dulu. Kali ini Ghazi mengunjungi Ayah sendirian. Karena Ibu sedang ke pesantren mengunjungi Sevi.
Baru saja Ghazi tiba di depan pusat rehabilitasi, tampak petugas medis dibantu petugas keamanan berkerumun. Dengan rasa penasaran, Ghazi mencoba mencari tau apa yang terjadi di sana.
"Ada apa ini Pak?" tanya Ghazi pada salah seorang petugas kebersihan yang sedang menonton keriuhan itu di depan taman.
"Ada yang ngamuk Mas. Biasa. Tiap hari memang ada aja yang ngamuk. Tapi ini ngamuknya pas lagi ada tamu. Dia ketakutan pas tadi ada kunjungan mentri ke sini." kata si Bapak.
"Hah? Tadi mentri ke sini Pak?" tanya Ghazi.
"Iya tadi pagi. Katanya mentri mau meninjau, kan bakalan ada perbaikan dan pembangunan ulang bangunan di sebelah barat. Katanya tempat ini mau dijadikan contoh untuk pusat rehabilitasi lainnya. Makanya tempat ini ditutup sementara. Baru aja tamunya bubar dan tempat ini dibuka lagi." jelas si Bapak sambil terus menyapu taman. Ghazi mengangguk angguk dan mengucapkan terimakasih pada si Bapak, lalu ia melanjutkan lagi langkahnya menuju tempat Ayah berada.
Seperti biasa, Ghazi mendaftar di tempat administrasi sebelum melakukan kunjungan pada Ayah. Hari itu lumayan sepi. Benar kata Bapak petugas kebersihan tadi, tak banyak yang berkunjung karena tadi mereka kedatangan tamu.
Ghazi menoleh ke arah kerumunan yang belum bubar di koridor. Sepertinya petugas medis dan petugas keamanan masih sibuk menenangkan pasien yang tadi mengamuk saat Pak Mentri datang. Ghazi mengabaikan mereka dan terus menulis formulir kunjungan. Saat tengah menulis, tak sengaja Ghazi mendengar dua perawat berbincang di dekatnya.
"Aduh ampuun. Kuat banget tenaganya. Padahal orang itu sejak pindah ke sini anteng banget loh. Cuma awal awal aja sempat berontak dikit, tapi beberapa hari aja. Habis itu tenang dan nggak pernah ngamuk. Tumben hari ini ngamuk ngamuk sampe kayak gitu." ujar salah satu perawat dengan nafas terengah engah. Ia baru saja membantu petugas medis yang lain menenangkan pasien yang mengamuk itu.
"Terus sekarang udah tenang?" tanya perawat yang satu lagi. Rekannya itu mengangguk cepat.
"Iya udah. Terpaksa disuntik dokter tadi. Sekarang udah tidur orangnya."
"Yang mana sih?"
"Yang di kamar tujuh belas." jawab perawat itu yang terdengar sampai ke telinga Ghazi. Tangan Ghazi membeku, ia berhenti menulis formulir. Kamar tujuh belas? Ayah?
"Oooh Bapak yang dikursi roda itu? Tumben? Biasanya anteng."
"Nah itu makanya kita nggak siap. Kaget loh."
"Kok bisa ya?"
"Nggak tau. Kata petugas keamanan tadi, dia tiba tiba ngamuk pas liat rombongan mentri datang."
"Hah? Kaget kali ya, liat banyak kamera wartawan."
"Iya bisa jadi.."
"Kasian."
Ghazi berhenti menulis dan langsung menghampiri kedua perawat itu dengan cepat.
"Maaf suster, saya anaknya, saya anak bapak di kamar tujuh belas! Tolong antar saya menemui ayah saya!"
Ghazi buru buru menyerahkan formulirnya dan berteriak panik.
Ayah mengamuk?
Ada apa?