Untuk pertama kalinya setelah kepergian Ayah, Ghazi kembali mendengar Ayah berbicara normal seperti dulu meski hanya lewat rekaman suara. Setelah mendengarnya, Ghazi seperti menemukan keping keping puzzle yang berantakan dan menatanya satu semi satu. Kenapa, bagaimana. dan siapa penyerang ayahnya pada malam itu satu persatu mulai terjawab.
Saat itu, sebelum Ayah berangkat, ia sudah menyiapkan semuanya terlebih dahulu dengan Om Herdi. Mereka tersambung dalam panggilan telepon. Dan ponsel itu diletakkan di dalam kantong dengan resleting di bagian dalam saku jaket Ayah. Panggilan itu terhubung ke ponsel Om Herdi dan Om Herdi merekam semuanya untuk berjaga jaga.
Malam itu Ayah ditelepon seseorang yang dalam rekaman itu mereka sebut cacing tanah. Ayah menduga, cacing tanah ini adalah salah seorang rekan ayah sesama jurnalis yang malam itu ingin memberikan bukti pada Ayah tentang korupsi yang ingin ia dan Om Herdi liput. Dan cacing tanah inilah yang menjadi sumber segala hal yang berujung pada peristiwa tragis yang menimpa ayah. Karena ia adalah orang yang memancing Ayah sampai ke lokasi, namun saat Ayah tiba di sana, ia tak ada dan sebagai gantinya, orang orang yang memukuli Ayah sudah ada di sana dan peristiwa itu pun terjadi.
Timbul tanda tanya besar di kepala Ghazi. Siapa cacing tanah yang menjebak Ayah ini? Ia sudah bertanya pada Moya. Ia pun tak pernah tau. Ibu juga sama sekali tidak tau. Bahkan Moya sudah bertanya pada Mamanya dan juga pada Om Dzikri, tapi tak pernah ada yang tau siapa si cacing tanah ini. Yang jelas, ia pasti orang yang menghianati Ayah dan Om Herdi. Besar kemungkinan ia juga berada di balik peristiwa kecelakaan yang menimpa Om Herdi.
Ghazi mengulang lagi rekaman suara yang ia dapat dari Moya itu untuk ketiga kalinya. Sepuluh menit pertama, terdengar pembicaraan Ayah dan Om Dzikri. Saat itu Ghazi menduga Ayah menggunakan bluetooth earphone. Mereka membicarakan hal hal yang Ghazi tidak mengerti.
"Jadi ini lukisan cacing tanah yang mau diambil, Van?"
"Iya. Bukan cuma lukisan cacing tanah, tapi juga berita tentang nyamuk ke sembilan yang dihabisi pasukan menara hijau, Her."
"Astaga. Kapan? Cacing tanah yang lukis, Van?"
"Bukan. Itu salinan resepku. Nanti aku kasih lihat."
"Salinan resep itu dapat darimana? Kamu ikuti lagi semua kurcaci?"
"Susah, Her. Tujuh kurcaci sekarang punya senjata laser. Jadi, aku cuma berhasil menyalin resep dari kurcaci tujuh. Dan ternyata cacing tanah punya lukisannya. Ini aku mau ke sana kan karena cacing tanah sudah telepon."
"Oke sip. Semoga sukses, Van."
"Lukisanmu sudah dilelang ke aku, Her?"
"Belum, masih proses, masih butuh beberapa cat lagi. Sebagian yang sudah selesai aku simpan di peti harta karun. Nanti setelah kamu pulang, kita barter lukisanku dengan salinan resepmu, Van."
"Oke, Her. Ngomong ngomong aku sudah mau sampai. Harus lepas earphone dulu, Her."
"Oke, hati hati, Van."
"HEH! APA APAAN INI? SIAPA KALIAN?"
"Halo? Halo? Syarvan!"
Penggalan dialog di sepuluh menit pertama ini terus diulan Ghazi. Pembicaraan antara Ayah dan Om Herdi yang menggunakan banyak kata misterius sebagai kode. Istilah istilah yang sungguh tak bisa Ghazi pahami.
Menit demi menit berikutnya benar benar membuat Ghazi mual. Ia nyaris tak sanggup mendengarkan rekaman suara itu lagi. Terlalu menyakitkan.
"Jangan banyak bicara."
"Mana catatan berita tentang pak Jendral?"
"Catatan apa?"
"Jangan pura pura t***l!"
Dialog itu diselingi dengan erangan Ayah dan suara pukulan bertubi tubi. Ghazi menguatkan hati untuk mendengar rekaman itu sampai akhir meski hatinya tersayat sayat dan air matanya terus menetes.
"Jangan! Jangan tanganku! AAAAGGHH!"
"Kalau masih mau punya kelingking, cepat sebutkan dimana catatan itu?"
"Catatan apa? Aku tidak tau!"
"Garong! Ambil pisau dan tang!"
"Jangaaaannn!! Jangaaannn!! AAAAAAAGGGHHH!!!"
"Masih belum mau mengaku? Meskipun yang kanan sudah putus, kamu masih punya kelingking kiri. Jadi cepat sebutkan dimana catatan catatan Pak Jendral itu."
"Aku tidak tau!"
"Garong, potong kelingking kirinya!"
"JANGAAAANN!! JANGAAANNN!!"
"Berisik! Aku ditendang setiap hari oleh Pak Jendral gara gara kamu!"
"AAAAHHH SAKIT PAK! AMPUUUN YA ALLAH TOLONG AKU YA ALLAH! AAAHH!!"
Ghazi terisak isak. Ia menduga saat itu Ayahnya tengah ditusuk dengan pisau. Ia tak bisa lagi mendengar dengan jelas dialog mereka karena hanya teriakan teriakan ayahnya yang terdengar jelas. Ayah menjerit keras.
"ALLAHU AKBAR!! YA ALLAH!!"
"Dimana catatannya atau perut kamu aku tusuk juga!"
"YA ALLAH! TOLONG YA ALLAH!! ALLAHU AKBAR!"
"Masih bisa nangkis kamu ya? Berarti tangan kamu masih kuat! Congek! Remukkan bahunya!"
"LAA ILAAHA ILALLAH!! ALLAHU AKBAR! ASTAGHFIRULLAHALADZIM!!"
Ghazi menangis mendengar suara benda dipukul keras dan teriakan ayahnya kembali menggema. Suara suara orang di belakangnya terus terdengar. Tiba tiba hening, hanya terdengar erangan Ayah yang mulai samar dan melemah. Lalu terdengar suara dering ponsel. Suara pria yang dominan terdengar sejak tadi kali ini terdengar sedang berbicara lewat sambungan telepon. Durasinya cukup lama. Tapi Ghazi tak mendengar apa yang ia bicarakan di telepon karena sepertinya pada saat itu orang itu menjauh dari Ayah. Tak lama kemudian, suara kembali terdengar.
"Kamu dengar tadi kan? Kamu tau siapa yang telepon? Itu Pak Jendral! Saranku, lebih baik cepat kamu kasih tau dimana catatan itu, sebelum kamu kehilangan satu satunya nyawa yang kamu punya!"
"Allahu Akbar.. Ya Allah.. Ya Allah.."
"Heh! Dimana catatannya?"
"Aku tidak paham apa yang kalian maksud!"
"Catatan Jendral Hendra Setiawan! Bodoh kamu!"
"Aku tidak kenal siapa itu. Aku tidak tau apa apa."
"Oke, sepertinya kamu memang harus dikasih pelajaran. Kamu sudah kehilangan jari. Mau kehilangan apa lagi setelah ini? Tangan kamu? Atau? Ah, muka kamu dulu saja lah. Gareng! Kesinikan rokokmu!"
"Ya Allah jangan pak. AAAAAHHHHH!! PANAAASSSS!! YA ALLAAAHHH!!"
Ghazi nyaris berteriak saat mendengar itu. Ia tau saat itu pasti Ayah tengah disiksa dengan menggunakan puntung rokok. Kulit wajah Ayah melepuh membentuk bulatan bulatan saat ditemukan. Pasti saat inilah kejadiannya.
"Kamu masih belum mau mengaku dimana catatan itu?"
"Aku tidak tau apa maks.."
"BANGSAAAT!!! KALAU MALAM INI CATATAN ITU TIDAK ADA, AKU YANG MATI DI TANGAN JENDRAL!"
"Aku tidak tau.."
"Oyong! Ronggeng! Bawa dia ke jalan! Lindas kakinya dengan ban mobil!"
"JANGAN PAK! JANGAN PAAAKKK! YA ALLAAAH!"
Setelah itu Ghazi mendengar Ayah berteriak teriak keras. Ghazi juga mendengar suara mesin mobil meraung raung, dan setiap kali suara mesin meraung, saat itu juga teriakan Ayahnya makin memilukan, terdengar seperti sangat sakit dengan siksaan itu.
Ghazi menangis tersedu sedu. Sebuah batu besar seolah dihantamkan ke kepalanya. Saat itu yang Ghazi inginkan hanya satu : Membalas perbuatan mereka. Dan satu satunya nama yang ia dengan di dalam rekaman itu adalah Hendra Setiawan.
AKU AKAN MENGHABISINYA!