"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam. Loh, kok sore banget Zi? Kamu dari mana?"
"Dari tempat Ayah, Bu."
"Kok sore banget pulangnya?"
"Iya bu, ada kejadian, tadi Ayah ngamuk lagi."
"Ya Allah.. Kenapa? Ada suara keras mesin kendaraan?"
"Bukan, Bu. Karena Ayah ketemu Mentri."
"Loh? Mentri siapa? Kenapa lihat Mentri kok Ayah ngamuk?"
"Ghazi juga nggak tau, Bu. Nanti ibu lihat aja sendiri videonya. Tapi nanti ya Bu, Ghazi mandi dulu. Belum sholat maghrib juga. Ghazi juga belum makan. Laper banget Bu.." ujar Ghazi sambil memegangi perutnya yang keroncongan.
"Ya udah sana kamu mandi dulu. Ibu udah masak sambal goreng ati kesukaan kamu." ujar Ibu membuat perut Ghazi makin keroncongan. Ia pun bergegas mandi dan menunaikan sholat maghrib.
Setelah selesai sholat, Ghazi langsung menuju meja makan. Aroma wangi sambal goreng ati, sayur lodeh dan telur dadar menerbitkan rasa lapar Ghazi. Ia langsung menarik kursi dan duduk lalu menyantap makan malamnya dengan lahap.
"Ibu udah ke Sevilla? Gimana dia? Sehat? Sekolahnya lancar?" tanya Ghazi setelah menyelesaikan suapan terakhirnya.
"Sudah. Alhamdulillah sehat dia. Kalau sekolahnya kamu nggak usah khawatir. Dia selalu peringkat teratas di pesantren. Anaya juga tadi telepon. Agak mengeluh capek karena kuliahnya makin padat dan mulai banyak praktek. Tapi yang penting dia sehat dan kuliahnya juga lancar." jawab Ibu sambil mengangsurkan secangkir air putih pada Ghazi. Ghazi langsung meminumnya sampai tandas.
Tadinya Ghazi ingin bicara panjang lebar pada Ibu tentang beasiswanya dan meminta saran Ibu. Tapi apa yang menimpa Ayah tadi sore membuat Ghazi lupa akan tujuannya semula. Apa yang terjadi pada Ayah lebih menarik perhatian Ghazi daripada masalah kuliah dan beasiswanya.
Ghazi mengambil ponselnya dan menunjukkan video Ayah yang berbicara padanya tadi sore. Ibu melihat video itu dan air matanya langsung menetes. Ibu sangat terharu melihat Ayah mengenali Ghazi dan berbicara padanya seperti dulu. Seperti orang normal pada umumnya. Hanya saja saat itu Ayah mengira Ghazi masih sekolah di SMA nya dan Om Herdi masih hidup.
"Katamu Ayah ngamuk lagi? Tapi ini tenang sekali Zi?" tanya Ibu masih dengan sisa tangisnya. Sama seperti Ghazi, ibu pun sangat merindukan Ayah jauh di lubuk hatinya yang paling dalam.
"Itu tadinya Ayah ngamuk Bu. Waktu Ghazi belum sampai di sana. Pagi pagi Ayah berteriak teriak. Setelah itu Ayah disuntik obat penenang. Waktu Ghazi datang, Ayah sudah tertidur karena efek obat. Tapi pas Ghazi mau pulang, Ayah terbangun dan langsung mengenali Ghazi, Bu." ujar Ghazi dengan suara parau penuh haru. Dadanya sesak oleh rasa rindu yang membuncah untuk Ayah. Tadi, selama beberapa menit, Ghazi seolah kembali ke masa remajanya dimana Ayah masih normal dan belum seperti sekarang.
Ibu menangis tersedu sedu. Berulang kali ibu memutar ulang rekaman video dari ponsel Ghazi sambil terisak isak.
"Kenapa Ayah sampai mengamuk Zi? Apa pemicunya kali ini? Gimana kata dokter?"
"Gara gara Mentri Bu. Pagi itu sedang ada kunjungan Menteri dan jajarannya di pusat rehabilitasi. Tadinya tenang, tiba tiba Ayah mengamuk saat rombongan itu datang. Mungkin Ayah ketakutan dengan banyaknya kamera wartawan Bu.."
"Oh.. Iya, mungkin gara gara itu.."
"Tapi ada yang aneh, Bu.."
"Apa yang aneh?"
"Kata perawat di sana, Ayah mengamuk sambil menyebut nyebut kurcaci. Tujuh kurcaci katanya. Ibu dengar di rekaman itu kan?"
"Ah iya, Ibu baru mau menanyakan apa itu tujuh kurcaci."
"Ghazi juga nggak tau, Bu. Kata perawat di sana, Ayah berteriak teriak sambil menyebut tujuh kurcaci berulang ulang."
"Apa mungkin Ayah takut dengan dongeng itu?"
"Kayaknya nggak, Bu. Kata dokter, biasanya hal hal yang sering dialami sebelum trauma itu yang selalu disebut sebut saat kambuh. Tapi Ayah kan selama ini sama sekali nggak pernah baca, nonton, atau dengar apapun tentang dongeng putri salju dan tujuh kurcaci." ujar Ghazi dengan nada bingung.
"Iya, benar. Ayah tak pernah membicarakan dongeng itu sekalipun. Tapi kenapa Ayah menyebut tujuh kurcaci?" tanya Ibu.
"Ghazi nggak tau, Bu. Ini aneh. Apalagi Ayah menyebutkan nama nama pejabat tinggi setelah menyebut tujuh kurcaci. Ayah meracau, Bu. Kata Ayah mereka semua sekongkol menyerang Ayah. Aneh." ujar Ghazi lagi.
Ibu memutar ulang semua rekaman di situ. Memang sangat aneh. Nama nama itu adalah nama pejabat tinggi yang sekarang sangat terkenal karena sering ada di statiun TV. Mereka juga tokoh tokoh penting di jajaran pejabat negara. Mereka orang orang dekat di dalam istana presiden. Mana mungkin mereka mengincar Ayahnya?
Ayah bukan siapa siapa, bertemu mereka saja Ayah belum pernah. Kenapa tiba tiba Ayah meracau dan berkata kalau mereka tengah mengincarnya dan mengerjanya untuk mencelakakan dirinya?
"Apa di sana Ayah nonton TV?" tanya Ibu tiba tiba.
"Setau Ghazi iya Bu. Untuk memancing respon atau semacamnya. Kenapa, Bu?" Ghazi balik bertanya.
"Mungkin selama ini Ayahmu menonton cara TV dan itu memancing reaksinya."
"Mungkin juga, Bu, entahlah. Kita nggak bisa tanya masalah ini ke siapapun. Om Herdi sudah nggak ada, Om Dzikri nggak tau apa apa. Keluarga Om Herdi juga nggak tau apa apa. Bahkan Ibu aja nggak tau apa penyebab hal buruk yang menimpa Ayah kan?" sesal Ghazi. Ibu mengangguk.
"Iya. Ibu nggak tau, nak. Ayahmu nggak pernah ceritakan apapun sama Ibu. Ibu benar benar nggak tau. Kata Ayah, itu karena ia menjaga kita. Menjaga supaya kalau ada apa apa kita semua nggak terlibat." jawab Ibu sambil menghela nafas. Ghazi ikut menghela nafas. Ia benar benar ingin tau apa yang menimpa Ayahnya.
"Gimana kalau kita tanya ke kantor Ayah Bu? Sama Om Fajar mungkin?" usul Ghazi.
"Jangan Ghazi. Om Dzikri melarang kita. Jangan sampai seorang pun tau tentang Ayah dan kepindahan kita ke sini. Kata Om Dzikri, kemungkinan orang yang mencelakai Ayah masih berkeliaran dan bisa saja mengancam jiwa kita semua. Pikirkan Anaya dan Sevilla. Mereka semua harus aman Ghazi.." tutur Ibu.
"Iya, Bu.. Ghazi tau.."
"Sudahlah, tutup saja kasus ini. Biar Allah yang membalas. Walaupun kasus ini tidak pernah terungkap, dan kita tidak tau siapa pelakunya, Ibu yakin, suatu saat nanti Allah akan menunjukkan pada kita kebenarannya.." ujar Ibu lagi sambil menepuk bahu Ghazi.
Ghazi mengangguk. Ibu benar. Tak ada gunanya mengungkit peristiwa bertahun tahun yang lalu. Lagipula sekarang semua sudah membaik. Meskipun kondisi Ayah tidak bisa kembali seperti semula, setidaknya kehidupan Ibu, Ghazi, dan adik adiknya sudah mulai kembali normal.
Ghazi mengabaikan rasa ingin taunya, seperti halnya ia mengabaikan semua ucapan Ayah tadi sore. Mungkin Ayah cuma meracau. Tidak mungkin orang orang penting itu melakukan hal itu padanya. Tujuh kurcaci itu pun cuma dongeng.
Ghazi menghela nafas, ia mengabaikan semuanya, dan memilih fokus pada kuliahnya..