Alin masih di depan perpus, tak di sangka. saat hendak melangkah pergi ada Bian yang menghampiri dengan rasa cemburu nya. karena Alin dan juna penjaga perpus itu terlihat dekat. mereka berbincang seolah sudah kenal lama.
" eh... loe ngga usah gombalin cewek gue yah? "
ucap Bian sambil mendorong tubuh juna.
" eits... santai bro...ngga usah pake emosi. gua di sini cuma bantuin cewek loe aja kok... "
juna pun membalas ucapan Bian
" bantuin sih bantuin... tapi ngga usah bicara yang ngga ngga dong...? apa tadi loe bilang, mau jadi diary hidup maksud loe... hahaha... basi tau ngga... "
" ternyata cowok loe nguping pembicaraan orang. gentle dong... tau kalau cewek loe ada masalah hibur lah. mau di hibur sama yang lain... "
ejek arjuna dengan Senyum meremehkan.
" kurang ajar... "
Bian pun terpancing emosinya.
ia hendak melayangkan kepalan tangan nya ke arah muka juna. tapi... suara Alin terlebih dulu di dengar Bian.
" STOP...tolong jangan bikin gaduh Bian, ini perpus... "
Alin pun melerai Bian untuk tak melanjutkan aksinya.
" kenapa kamu jadi belain nih orang sih... lin... apa yang sebenarnya terjadi dengan kamu...? "
" gue ngga kenapa napa kok Bi, nanti setelah kelulusan sekolah di umumkan. gue bakalan kasih tau loe... jadi tolong... biarkan gue sendiri dulu. jangan lagi cari gue apalagi ganggu gue yang lagi fokus belajar... please Bian... "
" ok... kalau loe mau nya begitu. gue ngga bakalan ganggu loe lagi... semangat buat belajar nya... "
Bian pun menutup pembicaraan nya dengan Alin. lalu melangkah pergi dari pandangan Alin.
Alin pun berlari masuk perpus... dan menangis di meja yang berada di pojokan. Alin menangis dengan menunduk di meja dengan sanggaan lengan nya...
tangisannya tak bersuara, hanya punggung nya saja yang terlihat bergetar. menahan rasa sesak di d**a dan tenggorokan nya.
juna yang melihat Alin menangis pun di buat iba. bagaimana pun dialah dalang dari memperkeruh nya hubungan pasangan kekasih itu. tapi juna benar benar tidak tahu harus berbuat apa. yang pasti juna tidak ingin membuat Alin bersedih. dan membiarkan dia mengeluarkan cairan bening yang ada di mata nya itu. agar terasa lebih lega dan beban nya sedikit berkurang.
melihat Alin yang kini mulai membaca buku nya. arjuna pun berinisiatif untuk memberi sapu tangannya untuk Alin.
" nih... buat lap ingus loe tuh dah meler. ntar jatoh ke buku lagi..."
ucap juna sambil mengulurkan tangannya.
mendengar juna yang bilang ingus. refleks Alin pun langsung mengambil saputangan juna.
" makasih ya kak... "
" hmm... "
balas juna dengan deheman saja.
" boleh duduk di sini ngga...? "
tanya juna melirik Alin yang tengah sibuk membaca.
" boleh kok kak... duduk aja silahkan... "
Alin pun mengijinkan juna.
Alin melihat juna sedang membaca buku cerita dengan judul ku bawa cinta ini sampai mati. juna terlihat serius membaca nya. bahkan telinga nya ia tutup dengan alat untuk mendengar musik dari handphone nya.
juna merasa dari sudut matanya seolah olah ada yang sedang memperhatikan nya dengan intens. juna pun melirik Alin. lalu menaikkan dagunya. seolah bertanya ' ada apa? '
Alin pun membalas nya dengan senyum dan gerakan tangannya. untuk melepas alat yang ada di telinga juna.
" kenapa? kelihatannya kamu penasaran sama kakak... "
ucap juna dengan percaya diri.
" heh... mana ada, aku penasaran sama buku yang kakak baca. sepertinya kakak benar benar serius. apa jangan jangan ada mantan yang mati matian mencintai kakak yah? "
tanya Alin sambil mengetuk ngetukkan jarinya di keningnya sendiri.
" kirain... kamu... penasaran sama kakak... "
" eh... dari tadi kita berbincang tapi kenapa ngga ada yang nanya nama yah... "
juna kembali bersuara.
" hmm... modus... bilang aja pengen kenalan... saya Alin widjaya. panggil saja Alin... "
ucap Alin sambil mengulurkan tangannya.
" wah... nama yang cantik, secantik orang nya. kalau kakak Arjuna, biasa di sapa juna. tapi jangan di tambahin ireng yah? seperti lagu khas cirebon itu loh... ntar jadinya Arjuna ireng... "
canda juna sambil menjabat tangan Alin.
" ih... kak juna mah bisa aja becanda nya. emang kakak orang cirebon yah...? "
" bukan... saya emang orang jawa. tapi bukan cirebon tapi... di tegal. biasa nya sih di kenal dengan kata tegal ngapak. cuma turunan. kak juna dari lahir udah di jakarta. sampe sekarang pun masih tetep di jakarta... hehehe... "
terang juna tentang asal usul nya.
" oh... gitu, eh... udah jam masuk kelas kak. Alin harus buru buru masuk kelas kak. ini tolong simpen dulu yah kak. besok aku balik lagi... makasih kak... "
ucap Alin...
" ok... siip, aku simpen buat kamu... yang semangat yah belajar nya. jangan sedih lagi... tetap lah tersenyum Alin... "
balas juna mencoba memberi semangat untuk Alin.
Alin pun mengangguk dan tersenyum kepada juna. lalu ia pun menuju ke kelas nya.
Alin berlari menuju kelas nya yang terlambat lima menit dari jam masuk.
" maaf bu... saya telat masuknya. saya dari perpus bu..."
ucap Alin dengan nafas ngos ngosan. karena ia berlari dari perpus menuju kelasnya.
" iya... Alin ngga apa apa, ayo duduk lin..."
bu guru pun tersenyum sambil berkata demikian.
melihat antara Bian dan Alin yang tak saling sapa dan bertatap itu. membuat Arif semakin penasaran.
" sebenarnya ada apa dengan hubungan mereka. ngga seperti biasanya... kasian Bian."
gumam Arif dalam hati.
Arif pun merasa kasihan dengan keadaan sahabat nya Bian...
Bian... memang banyak yang mengidolakan... karena paras nya yang tampan. apalagi Bian termasuk anak yang cerdas. tapi untuk masalah hati, Bian selama ini tidak tertarik dengan salah satu penggemar nya.
hanya Alin lah yang mampu membuat hati Bian terbuka. dan mau menjalin asmara, apalagi Bian sudah berjanji akan menjalaninya sampai ke jenjang yang lebih serius. yaitu hubungan yang sah di mata agama dan negara. apalagi kalau bukan pernikahan.
" ssst... ssst... woy... Bian loe ngapa sih, ngga biasanya loe lesu begini... "
ucap Arif dengan berbisik.
Bian hanya menjawab dengan menaikkan kedua bahunya. karena ia gak mau ganggu mereka yang sedang belajar.
Arif pun nggak mau kalah, ia ikut ikutan bertanya dengan isyarat menaikkan dagunya.
" ntar... gue ceritain, pulang sekolah kita mampir ke warnet yah..."
akhirnya Bian pun buka suara dengan berbisik juga seperti yang dilakukan teman nya Arif.