setelah mandi dan berganti baju dengan baju koko. Bian melangkah keluar kamar untuk menghampiri sang papa. papa Bian sudah menunggu nya di atas motor. Bian mengunci rumah terlebih dulu. saat hendak naik ke atas motor, Arif baru saja pulang dari kuliah nya. Arif menghampiri Bian.
" assalamualaikum pakde, tumben jalan berdua bareng Bian. emang mau kemana pakde...?"
tanya Arif menyapa papa Bian yang ia sapa dengan pakde. tak lupa ia bersalaman dengan papa Bian.
" wa alaikum salam... pakde mau anter Bian..."
" loh... emang kenapa Bian, kamu sakit?"
kini Arif beralih menanyakan nya kepada Bian.
mendapat pertanyaan dari Arif, Bian hanya menggeleng sambil sedikit tersenyum.
" maaf yah rif, gue tadi sempet marah sama loe. gue mau ke pemakaman Alin..."
Bian memeluk tubuh Arif sang sahabat yang sudah seperti saudara baginya. tak lupa ucapan tulus maaf dari mulut Bian pun terucap.
" gue tau perasaan loe, pasti loe kecewa berat sama gue. dan gue juga tau banget tentang sifat loe. yang ngga mungkin lama lama diemin gue. terbukti kan...?"
Arif membalas pelukan dari Bian. ia sesekali mengelus lembut punggung Bian.
melihat kebersamaan Bian dan Arif, yanto papa Bian di buat haru oleh pemandangan yang bikin matanya mengembun.
" kalian udah mirip kakak adik aja sih...?"
yanto papa Bian menghampiri mereka. Bian dan Arif...
" ya sudah, ayo Bi... ini udah sore. ntar keburu malem lagi..."
" iya pah... rif, gue pergi duli yah..."
" eh bentar... gue ikut yak... tunggu, gue ganti baju bentar aja..."
tanpa jawaban dari Bian dan papanya, Arif lari masuk rumah dengan mengganti baju nya. tak lupa ia memakai parfum kesukaan Arif.
" papa pasti masih tidur, gue ngga pamit ngga apa apa kali yah...?"
terdengar Arif bicara sendiri.
tak butuh waktu lama, Arif sudah rapi dengan baju koko berwarna biru mint. bahkan wanginya melebihi orang yang sudah mandi... ' tapi bukan Bian yah...?'
" busyet dah... ganteng banget anak pak yoyo ini. ngga ada tandingan deh pokok nya. ya... walau ngga mandi sih... hehehe..."
canda yanto papa Bian
" pakde nih bisa aja...kan mempersingkat waktu pakde..."
" iya iya... udah pah yuk berangkat..."
mereka berangkat mengendarai sepeda motor masing masing. tapi tidak dengan Bian, ia kali ini membonceng ikut bersama papa nya. setelah beberapa menit menempuh perjalanan yang lumayan memakan waktu. mereka tiba di pemakaman jeruk purut. pak yanto dan Arif memakirkan motor nya yang sudah tersedia di pemakaman tersebut.
mereka berjalan menyusuri lebih dalam lagi di tengah tengah area TPU. saat ada batu nisan bertuliskan nama Alin Widjaya. Bian langsung menghampiri tempat tersebut. ternyata pak yanto kebingungan mencari makam Alin. tak di sangka Bian terlebih dulu yang melihat.
" wah... Bian terlebih dulu yang liat rif, padahal pakde loh yang ngajak Bian kemari. eh... malah pakde yang lupa..."
ucap yanto kepada Arif.
" mungkin... sudah ada ikatan pakde, yok kita samperin Bian..."
mereka menghampiri Bian yang terlihat menunduk. hanya punggung nya saja yang terlihat bergetar.
" Bi... kamu yang sabar yah...? ikhlaskan Alin, dengan adanya keikhlasan. Insyaalloh... dia akan tenang di sana..."
pak yanto mengusap punggung anaknya yang tengah menangis menunduk di makam Alin. sambil berucap kata bijak untuk Bian.
" pah... kenapa Bian ngga bisa jaga Alin...?"
" sepertinya Bian memang tidak pantas untuk Alin. Bian ngga bisa apa apa pah...aaakkkkhhhh..."
Bian terlihat rapuh, ia semakin menjadi dengan memukul dirinya sendiri. ia juga teriak karena saking kesal nya pada diri sendiri.
" Bian... Bian, kamu ngga boleh ngomong gitu. Alin pasti sangat sedih melihat kamu seperti ini. Alin gadis yang kuat, jadi... kamu pun harus kuat menerima takdir yang sudah di gariskan oleh alloh nak... yang kuat Bian..."
" bagaimana Bian kuat pah, Bian selama ini baru tau kalau Alin sudah tiada. Bian merasa menjadi orang yang ngga berguna pah...hiks... hiks..."
" Bi... kamu ngga inget Elin, gadis yang kamu tolong selalu saat di kerjaan. ada Gue, Rio dan banyak teman yang lain. loe mempunyai kami, jadi... stop bilang kalau loe ngga berguna..."
Arif mencoba memberi masukan untuk Bian.
sesaat ia mengingat Elin, yang mukanya mirip dengan Alin. seperti pinang di belah dua. dan ia ingat kata kata terakhir Alin saat akan pulang kerumah. di saat itulah Bian dan Alin pertama kali ciuman. tapi... ternyata itu ciuman perpisahan.
" Alin... kenapa kamu tega tinggalin aku lin? kamu bahkan menyerah berjuang bersama. kamu memilih pergi selamanya dariku. kamu benar benar membawa cintaku hingga mati..."
Bian mengungkap kan kata yang pernah di katakan Alin. sambil menangis dan memeluk batu nisan yang bertuliskan nama Alin.
Arif dan pak yanto ikut sedih melihat Bian yang menangis tanpa suara. tak henti henti nya Bian memanggil nama Alin.
di bawah pohon bringin yang besar, terlihat sesosok makhluk berbaju panjang warna putih. ia melihat Bian dan kedua orang di sampingnya dengan sendu.
' Bian... maafkan aku, semoga kamu ikhlas dengan perpisahan ini. aku janji... akan membantu kamu dalam melupakan aku. aku juga akan membantu kalau kamu dalam kesulitan...'
sang makhluk itu berkata dengan sendiri nya.
Bian sudah sedikit tenang, ia pun sudah mengangkat kepalanya. ia mencoba tegar dengan menegakkan kepalanya. ia melihat ke arah pohon bringin yang tak jauh dari makam Alin. Bian terkejut karena melihat ada bayangan putih yang terbang. dan seketika hilang, seolah masuk dalam pohon beringin yang besar itu.
" Astaghfirullahhaladzim...ya alloh..."
ucap Bian
" kamu kenapa Bi, kenapa kamu terlihat kaget begini...apa kamu melihat sesuatu...?"
tanya papa Bian.
mereka bertiga celingukan melihat sekeliling area pemakaman. Arif dan papa Bian melihat Bian sedikit ketakutan. entah apa yang di lihat Bian, papa Bian bingung. karena Bian belum mau bicara.
papa Bian komat kamit membaca do'a. lalu ia hembuskan udara do'a yang tadi ia baca. ia usapkan ke muka Bian, seketika Bian tak sadarkan diri.
" ya alloh... pakde, Bian kenapa?"
Arif panik melihat Bian yang tiba tiba pingsan.
" Bian ngga apa apa kok rif, sepertinya... dia habis melihat makhluk, makanya ia tak bersuara. di tanya juga diem aja..."
" oh... seperti dulu yah pakde...ya udah. lebih baik kita pulang aja pakde, Arif juga dari tadi merinding nih..."
pak yanto yang memang bisa merasakan kehadiran makhluk itu pun merasakan ada aura negatif di pemakaman ini.
" ya udah... ayo... kita gendong bian bareng bareng..."
mereka berlalu menuju parkiran motor. di sana ada penjaga makam, yang baru saja datang. dia biasa di sapa jaya, malihat Bian tak kunjung sadar. pak yanto mencoba membaringkan Bian di rerumputan di depan pemakaman.
" pak anak nya kenapa pak...?"
tanya jaya sang penjaga makam.
" sepertinya dia tak sengaja melihat makhluk pak. tadi kami habis ziarah di makam Alin..."
deg...
" APA... makam Alin...?"
jaya terkejut mendengar makam Alin di kunjungi oleh orang lain.
" kok bapak terkejut, memang nya ada apa yah pak...?"
tanya pak yanto
" sebenarnya, seminggu lalu... ada lima orang ke makam Alin. ia berpesan... agar jangan mengganggu makam Alin..."
" loh... kok gitu? emang mereka siapa nya pak...?"
" sepertinya mereka keluarga jauh dari Alin. karena setau saya Alin hanya punya kakak laki laki dan Ayah nya saja..."
pak yanto hanya mengangguk anggukan kepalanya.
" kalau boleh tau, bapak ini siapa nya Alin...?"
" hmmm... nanti pak, saya mau obati dulu anak saya..."
" percuma pak, anak bapak sedang jadi tawanan makhluk yang ada di pohon asem itu..."
jaya mencoba menjelaskan
" ya alloh... terus ini gimana anak saya pak...?"
pak yanto pun panik setelah jaya berkata demikian.
" sebentar lagi juga sadar pak, bapak sabar yah..."
jaya menenangkan yanto, yang terlihat panik.
tak lama Bian sadar, Arif di buat bengong dengan sadar nya Bian. perkataan penjaga pemakaman tersebut benar.
" sepertinya nih orang bukan orang sembarangan..."
ucap Arif dalam hati.
pak jaya melihat Arif yang tengah menatap nya. Arif mencoba biasa saja, saat mendapati dirinya sedang menatap pak jaya.