pertemuan terakhir

1126 Kata
tak terasa kelulusan sudah di umumkan. mereka semua menuju mading sekolah dan melihat nama nama yang ada di mading tersebut. mereka yang lulus dengan hasil terbaik pun berteriak histeris. karena sangking bahagianya. tak menyangka Bian di nomer urut yang pertama. sedangkan Alin jauh di nomer urut lima. biasanya Alin selalu di bawah nya. semenjak ayah nya melarang belajar bersama Bian. Alin jadi tak bersemangat, dan hasil nya pun sekarang kurang memuaskan. Alin pun menyadari hal itu. tapi mau bagaimana lagi. itu mau sang ayah sendiri yang menginginkan Alin tak dekat dengan Bian. melihat Alin yang seolah patah semangat, Bian pun menghampiri Alin. Alin sedang duduk di bawah pohon rindang di samping sekolah nya. " Lin... kamu kenapa? apa karena nilai kamu yang turun... jadi kamu ngga semangat begini? " tanya Bian Alin... yang di tanya masih bungkam dengan tatapan mata nya yang kosong memandang ke depan. " itu salah satunya Bian... tapi, yang paling membuat aku banyak beban di pikiran ku. antara kita tak mungkin bisa bersama Bi... aku sedih... kalau harus terus berpura pura cuek dengan mu... " Alin pun menjawab dengan lesu... karena suaranya tertahan dengan turun nya cairan bening yang ada di kedua mata nya. " ya alloh Alin... selama ini kamu memendam nya sendiri. tanpa mau berbagi beban dengan ku? bukan kah kita sudah sepakat untuk menghadapi semua bersama. apapun kendalanya? tapi... kamu malah menanggung nya sendiri... " Bian pun ikut merasa sedih dan menangis bersama di bawah pohon di sebelah sekolah itu. " aku juga mau minta maaf Bi... aku pamit untuk pergi jauh. dan tidak akan pernah kembali lagi... " ucap Alin masih dengan tatapan yang lurus kedepan. " maksud kamu apa lin...? apa kamu akan melanjutkan kuliah di luar negeri bersama kakak kamu? kalau iya... aku akan tetap menantimu sampai kamu kembali... " Bian pun berharap Alin akan kembali. " sepertinya tidak mungkin Bi, aku ngga akan kembali. maafin aku yah Bi... biar lah cinta suciku ini akan kubawa sampai mati... " ucap Alin sambil menatap wajah tampan kekasih nya itu. " apa kamu menyerah lin... apa kamu sudah ngga mau berjuang bersama lagi? aku sangat berharap kamu mau berjuang sekali lagi dengan ku... " Bian pun menatap wajah sayu Alin, sambil mengguncang guncangkan kedua bahu Alin dengan penuh keyakinan. " maaf Bi... maaf... hiks... hiks... aku sudah ngga bisa berjuang lagi bersama mu Bi... semakin kamu mencintai ku. maka semakin sakit juga raga mu Bi... hiks... tolong mengertilah Bi... aku sudah tidak sanggup lagi kamu menanggung semua amarah ayahku. Biarkan lah aku pergi Bi... aku akan tetap mebawa cintamu. walau akhirnya kita tidak bisa bersama... " Alin pun memohon agar Bian mengikhlaskan nya untuk pergi jauh. mereka saling berpelukan sambil menangis bersama. tak jauh dari tempat kejadian... Arif sang sahabat pun di buat iba dengan pasangan yang berbeda kedudukan itu... " semoga kalian kuat mengahdapi badai cobaan yang teramat dalam hidup kalian... semangat lah, Bian dan Alin... " batin Arif pun berkata demikian. ****** SMA bakti pradja... terlihat ramai dengan ulah mereka yang merayakan kelulusan dengan mencoret coret baju seragam mereka dengan cat semprot dan spidol. para muda mudi itu begitu bahagia atas pencapaian nya. tapi tidak dengan sepasang sejoli Bian dan Alin. mereka sedang di rundung duka. karena mereka akan berpisah dengan waktu yang tak bisa di tentukan... mereka para murid dari SMA itu pun keluar sekolah dengan mengendarai motor mereka masing masing. mereka akan keliling sekolah dengan bersorak gembira. sambil bernyanyi sebuah perjuangan. Bian dan Alin tidak mengikuti mereka yang akan keliling luar sekolah untuk merayakan kelulusan. " lin... kamu beneran mau pergi...?" tanya Bian sambil menggenggam erat tangan Alin. " iya Bi... kakak ku yang dari luar negeri sudah dateng untuk menjemput ku Bi... mungkin lusa... aku akan pergi... " jawab Alin tanpa expresi... raut muka nya terlihat pucat dan datar. " Bi... cepat lah pulang, aku ngga mau kamu kenapa napa Bi... " titah Alin, saat melihat para Bodyguard sang ayah Alin. " kenapa kamu tiba tiba menyuruh ku pulang lin...? aku mau kamu yang pulang terlebih dulu. baru aku akan pulang... " " Bi... tolong denger kata ku untuk yang terakhir kali nya... I Love you forever... " Alin pun berucap dengan memajukan badan nya. lalu berjinjit dan mengecup bibir Bian... sontak saja Bian terkejut dengan tingkah Alin. Bian benar benar merasa Alin bukan lah Alin yang dulu. tapi... Bian membalas ciuman mesra mereka di dekat area parkir sekolah yang memang terlihat lengang. mereka saling mengecup dan melumat bibir mereka dengan mesra. hingga mereka merasa kehabisan stok oksigen. mereka pun menyudahi ciuman panas itu... dengan nafas yang tersengal sengal. mereka beradu pandang dengan kening yang saling menempel. " I love you to Alin widjaya... aku akan tetap menantimu sampai kapan pun lin..." " Bi... makasih atas cinta yang kamu berikan untukku... dan maaf... aku harus pergi. jagalah dirimu baik baik. kalau suatu saat aku ngga ada. kamu harus buka hati buat orang lain Bi... selamat tinggal Bi... Assalamualaikum... " ucap Alin sambil berlari menuju mobil jemputan yang sudah menanti. Bian masih tak bergeming dari tempat nya. ia masih mencerna kata kata Alin... itu seperti kata kata terakhir yang harus Bian ingat... " wa alaikum salam Lin... semoga kamu selalu dalam lindungan alloh... aku berharap bisa berjumpa dengan mu lagi... " Bian pun berlalu, ia masih berpikir keras untuk mencerna kata kata Alin. Bian pun menghampiri motor kesayangan nya. lalu ia mengstater motor nya. tak jauh dari Bian berlalu dari tempat sekolah nya... ada tiga Bodyguard ayah nya Alin yang mengikuti dari belakang. ketiga Bodyguard itu pun mencegat Bian. dengan terpaksa Bian pun turun dari motor nya. " kalian lagi... kalian ini ngga ada kapok kapok nya yah...?" ucap Bian santai dengan gayanya. " kita ngga mungkin kapok, kalau loe mau nurutin apa yang kita mau...? " " emang... mau kalian apa sih... gue jadi penasaran... " balas Bian dengan seolah olah berpikir. " mulai sekarang loe ngga boleh deket deket lagi sama Alin. kalau loe masih nekat nyawa loe yang jadi taruhan nya." sang Bodyguard itu mengancam Bian. " oh... jadi kalian suruhan nya pak johan yah... ckckck. gue ngga akan takut, walau itu nyawa gue taruhan nya. gue bakalan adepin loe... " Bian pun menunjuk salah satu Bodyguard yang pernah memukul nya... mereka pun berduel... di pinggir jalan yang sepi. untung Bian sudah belajar ilmu beladiri. tapi tetep saja bian kalah, karena satu lawan tiga. Bian terlihat kelelahan... sang Bodyguard itu pun menyeringai, ia mengambil kesempatan itu dengan memukul punggung Bian. hingga Bian tersungkur tak sadar kan diri. hampir saja ketiga Bodyguard itu menghabisi nyawa Bian. untung saja teman teman Bian yang sedang keliling merayakan kelulusan.melihat kejadian itu... hingga mereka menolong Bian yang sudah terkapar di pinggir jalan. dengan luka di wajah dan lengan nya. tapi sayang ketiga Bodyguard itu berhasil kabur...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN