Bimbang

1434 Kata
Salsabila? Aku mengkerutkan kening. Rasaku kini tak enak. Ada rasa yang mulai bimbang. Apa maksud dari sebuah tulisan itu? Seketika aku kepo. Meng-klik profil f*******: milik Salsabila. Hasilnya sama, akunnya di privasi. Hanya foto profil-nya yang selalu bercadar. Hufh! Aku berfikir sejenak. Ada ganjalan di hati ini, berfikir negatif dan berbagai macam spekulasi terus terngiang. "Jangan-jangan dia pacarnya? atau mungkin calon istrinya atau bahkan ...?" pikiran itu terus terngiang di kelapa. Membuat aku harus memegangi kepala agar tak terasa berat. Apa aku tanyakan langsung pada Azmi? Rasanya tak etis kalau harus bertanya. Tapi ... jika ia memang memiliki kekasih, kenapa dia mau di jodohkan dengan ku? Kurebahkan badan, menatap awang-awang. Memikirkan nasib kedepannya jika memang Azmi sudah punya pacar. Aku harus bagaimana? apa lagi cobaan yang akan aku lalui ya Allah? Aku tersentak kaget saat Ibu mengetuk pintu. Ternyata aku terlelap tadi, hingga adzan magrib berkumandang. "Kamu ketiduran, Nduk?" tanya Ibu saat aku membuka pintu dengan wajah menguap. "Iya, Bu. Tadi rasanya capek sekali hingga tak sadar terlelap. Padahal tidur sehabis ashar tak baik." Aku mengucek mata. "Ya sudah, buruan ambil wudu. Sudah mau magrib. Ayah sudah menunggu di tempat salat!" "Iya, Bu." Memang kami selalu melaksanakan salat magrib berjamaah. Itulah yang membuat Ibu mengetuk pintu. Walau hanya satu waktu dalam sehari, tapi aku bahagia memiliki keluarga ini. Kalau ayah dan Ibu, mereka lebih sering berjamaah. Hanya aku yang ikut saat salat magrib saja. Setelah salat magrib, kami kemudian menghabiskan makan malam bersama. Sedikit banyak kami mengobrol dan bersenda gurau. "Kapan mau beli baju buat lamaran, Nduk?" tanya Ibu saat aku hampir menghabiskan separuh makanan. "Ngga usah beli, Bu. Intan mau pakai yang ada saja," jawabku sambil memasukan kembali nasi kemulut. Aku heran Ibu tak menyahut kembali. Saat aku tatap, ternyata mereka sedang saling tatap. "Kenapa?" Kali ini Ayah yang bersuara. "Ngga papa, Yah. biar pakai yang ada saja. Hanya acara lamaran kan?" "Ayah tahu untuk acara ini kamu bukan yang pertama tapi ... untuk Nak Azmi?" ayah berkata dengan takut-takut. Aku menghentikan suapan pada mulut. Ada benarnya juga. Ini bagi aku bukan yang pertama hingga aku rasa tak spesial seperti dulu tapi bagi Azmi tentu ... Ah, mungkin bagi Azmi juga ini tak penting. Entah bagaimana pikiran ini jadi teracuni oleh pikiran negatif. Sosok nama Salsabila membuat aku jadi merubah pandangan pada Azmi yang memang terlihat misterius. Apa yang aku pikirkan benar? "Ya sudah, Bu. mungkin lusa Intan akan cari," jawabku yang kembali menyuapkan makanan walau rasanya sudah hambar. Aku kembali masuk kekamar setelah melaksanakan salat isya. Rasanya badan agak kurang fit hingga rasanya badanku gereges. kembali aku berselancar ke media sosial. Kali ini bukan aplikasi biru, tapi aplikasi bergambar foto. Mungkin disana aku dapat menemukan jejak lain dari Azmi dan Salsabila. Namun, nyatanya sama. Akun mereka di privasi. Apa aku harus meminta pertemanan? Dengan seribu pertimbangan, akhirnya aku klik permintaan. Walau belum tentu di konfirmasi, aku berusaha meminta pada Salsabila dan Azmi. Dari kedua itu, entah siapa nanti yang akan menerima. Lelah! *** Saat bangun tidur, rasanya hidung tersumbat. Saat kekamar mandi justru bersin terus. Sepertinya aku terserang flu. Ibu melarang aku untuk berangkat mengajak. Tapi, jika aku tak masuk, aku justru akan membuat Umi Salamah datang kemari. Pasti dia akan panik dan langsung mendatangiku. Itu juga yang ia lakukan sejak dulu. Saat dengar aku sakit? beliau akan langsung datang menjenguk. Ternyata inilah alasannya beliau menyayangiku sejak dulu. Sebelum berangkat, aku menemukan sebuah undangan pernikahan.Disana nama mantan suamiku tertulis. "Apa dia pikir aku akan datang? atau jangan-jangan dia sengaja pamer bahwa dia akan menikah?" segera aku melempar undangan kembali pada meja. Tanggal dan hari yang sama saat aku akan menerima lamaran dari Azmi juga. Tiba di kantor hawa makin tak menentu. Apalagi terkena Ace hingga tubuhku mengigil. "Kamu kenapa, Tan?" tanya Shinta yang melihat aku tengah menekuk kedua tangan pada perut. Aku mengigil. "Ya Allah, Tan! kamu sakit?" dia memegangi keningku. Aku hanya pasrah. "Tolong kabari Bu Indi untuk mengantikan aku sementara mengajar hari ini, Shin. Aku tak enak badan." aku berkata dengan gigi mengerutuk. "Ya sudah, ayo kita ke UKS. biar aku antar. badan kamu panas begitu!" Shinta mulai memapahku hingga menimbulkan beberapa pasang mata menatapku. Bahkan ada yang ikut menolong. Aku berpapasan dengan Azmi. Namun, aku tak terlalu memperhatikan. Tubuh sedang begini mana peduli dengan siapa yang lewat. Setelah direbahkan di atas brankar. Shinta mengambil obat parasetamol. Kemudian mengosokan minyak kayu putih ke kaki dan tanganku. "Terima kasih, Shin," ucapku saat dia selesai membalur dengan minyak angin. "Sama-sama, Tan. jangan sungkan, kita itu teman. Sekarang kamu istirahat, nanti aku kesini lagi. Kalau mau pulang, nanti aku ambilkan tasnya." Aku mengangguk, tapi sepertinya aku ingin memejamkan mata sekejab. Rasa badan yang kaku karena mengigil membuat aku ngantuk sekali. Semoga obat yang aku minum dapat membuat reaksi yang signifikan. *** "Kamu udah mendingan?" tanya seorang yang sangat aku kenal suaranya. Tentu aku tersentak karena baru saja membuka mata. "Pak?" aku celingukan. Berada pada ruangan kecil hanya bersama Azmi. "Tak usah begitu. Aku ajak Ajeng kok. Dia sedang ambil kompres diruang sebelah," ucap Azmi yang sepertinya tahu kekhawatiranku. Aku sedikit tenang, tak lama Ajeng masuk dengan membawa sebuah tempat air. "Mbak badannya panas sekali. Aku kompres ya?" tanyanya melihat aku yang sudah membuka mata. "Tapi ..." ingin rasanya aku menolak, tapi saat melirik ke arah Azmi yang cuek, aku menurut. "Sepertinya Mbak sakit begini karena terlalu banyak pikiran dan kecapainya. Kalau menurut gejala yang kulihat. Ini asam lambung naik, kalau di biarkan menyerang usus halus dan akhirnya terkena tyfus." Dengan rinci Ajeng menjelaskan. Aku juga memang sudah merasakan gejala itu. "Mikirin apa si, Mbak? lamaran dengan Mas Azmi? ngga perlu terlalu dipikirkan, Mbak. Mas-ku ini akan terima apa adanya." Ajeng bergurau. Aku tersenyum sedikit. "Enggak kok, Jeng. Cuma banyak pikiran tentang pekerjaan saja. Walau cuma mengajar tetap menguras pikiran." Aku berkata karena malu jika Azmi menggoreng apa yang dikatakan Ajeng mentah-mentah. Nanti dia ke GR-an. Ajeng masuk kembali ke dalam ruangan sebelah untuk meletakan tempat yang tadi ketempat semula. "Apa kamu banyak pikiran karena memikirkan mantan suamimu yang akan menikah?" Azmi berkata dengan sedikit berbisik. Tentu aku kaget. Bagaimana dia tahu jika Doni akan menikah. "Kamu tahu tentang mantan suamiku?" tanyaku penasaran. "Tentu. Dia itu kakak kelasku. Saat Sekolah dasar aku pernah di bully olehnya." Apa? di bully? "Owh ... tapi, apa yang kamu duga itu tak benar. Aku banyak pikiran bukan karena memikirkan dia yang akan menikah lagi. Bahkan tahu juga baru tadi saat akan kesini. Rasanya sudah tak ada sedikitpun rasa padanya, jadi apa yang harus aku pikirkan?" "Aku pikir ...." Azmi menghentikan ucapnya karena Ajeng sudah kembali. Apa mungkin dia cemburu hingga menanyakan hal itu? Rasanya mustahil. Karena diam-diam aku memperhatikan wajahnya yang tetap tenang dan misterius. "Apa kalian butuh waktu untuk mengobrol?" tanya Ajeng yang melihat Azmi tak melanjutkan ucapannya."kalau begitu aku akan keluar." "Jangan!" aku dan Azmi kompak menjawab. Ajeng mengelengkan kepala, "belum jadi suami istri aja udah kompak. Apalagi nanti!" Kali ini justru aku dan Azmi yang bertemu pandang. Walau langsung kami membuang pandangan. Zina mata. "Jangan pergi, Jeng. Aku tak mau terjadi fitnah." aku mencoba menjelaskan. "Fitnah? kan kalian sebentar lagi akan menjadi suami istri. Jika nanti ada yang bergosip rasanya tak masalah." "Tapi, Jeng. Mas ngga mau ada orang ketiga yang bukan dari kalangan manusia. Takut mereka membisikan sesuatu yang membuat kami melakukan dosa!" kali ini Azmi yang bicara. Mana mungkin melakukan dosa jika dia saja sedingin es. batinku berkata. Ajeng mengangguk-angguk. Kemudian memilih duduk di kursi panjang yang terletak agak jauh dari aku yang berbaring di brankar dan Azmi yang duduk di kursi plastik. Tak lama Ajeng mengeluarkan earphone dan menyumpalkan pada telinga. "Bicaralah dengan tenang. Aku sudah tak mendengar." Aku hanya menatap langit-langit. Tak tahu harus membahas apa saat ini. Rasanya canggung sekali sakit seperti ini di jagain pangeran misterius di sampingnya. Pangeran misterius? Ah! sebutan yang cocok. Azmi hanya berbasa basi menanyakan kondisiku tanpa berniat membuka percakapan. Dia itu sepertinya sangat susah jika di ajak berbicara santai atau sekedar saling mengenal. Sangat Kaku. Aku memilih duduk karena sudah agak enakan. Azmi mau menolong untuk membuat tubuhku bangkit, namun aku menolak karena kami belum mahram. Menyenderkan kepala pada tembok dan kaki lurus. Ponsel Azmi yang tergeletak di nakas sebelah brankar berbunyi. Aku yang juga kaget dengan getaran dan suara yang berbunyi seketika menoleh. Tertera nama Salsabila dapat k****a dengan jelas. Terlihat juga raut yang tiba-tiba berubah. Dari sosok misterius menjadi sosok yang ramah. Dengan gegas ia mengeser icon hijau dan menempelkannya di telinga, beranjak keluar dengan wajah berbinar. "Apa memang benar jika Salsabila itu pacar Azmi?" Aku makin berpikir keras. Jika begini, tubuh yang tadinya sudah fit kini mulai demam lagi. Duh ...!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN