Fatamorgana

1117 Kata
"Alhamdulilah ya, Bu. Akhirnya Ayah mau lagi mengisi Tauziah. Intan seneng dengernya." Aku tersenyum senang. "Iya, Nduk. Semua karena berita yang baru saja tadi pagi Umi Salamah sampaikan." Ibu juga tersenyum. "Umi Salamah?" tanyaku penasaran. "Memangnya Nak Azmi tidak kasih tahu kamu, Nduk?" Ibu malah balik bertanya. Aku mengeleng. Azmi tak mengatakan apapun. Bahkan saat rapat tadi saja dia terlihat serius. Tak ada tanda-tanda kalau dia ingin menyampaikan sesuatu. "Umi Salamah mengabarkan jika Minggu depan mereka akan datang kesini untuk melamarmu, Nduk." Ibu berkata dengan mantap. Aku terbengong. Antara harus senang atau sedih. Jujur hati ini masih bimbang tentang sikap Azmi. Dia begitu misterius untuk di cari tahu. Bahkan wataknya saja aku belum bisa menebaknya. Aku takut kegagalan pernikahanku untuk yang kedua kalinya. "Benarkan, Bu? tapi ...." aku menjatuhkan badan kembali di kursi. "Apa yang membuat hatimu risau, Nduk?" Ibu mendekat. Ia mungkin tahu kerisauan hatiku. "Ngga papa kok, Bu. Intan cuma takut dan gugup saja. Walau ini bukan yang pertama tapi, Azmi itu orang yang baru kukenal," ucapku berbohong. Tentu acaranya akan berbeda. Jika dulu aku dan Doni melangsungkan lamaran dengan hati mantap. Semua karena aku mengenalnya dan juga sudah cukup lama menjalin kasih dan sering mengobrol. Baik dalam chat atau langsung. Hingga aku cukup tahu karakter Doni. Hanya saja aku tak menyangka dia yang kukira penuh kasih, mempermasahkan keperawanan yang tak mengeluarkan darah. "Insya Allah semua baik-baik saja, Nduk. Ibu yakin Nak Azmi akan menjadi suami yang bijaksana dan bertanggung jawab." "Aamiin ... semoga saja ya, Bu." Kami berpelukan. Dalam hati terus berdo'a untuk kelancaran acara nanti hingga hari pernikahan. *** Kurebahkan badan untuk sekedar meluruskan punggung. Setelah selesai salat ashar dan menunggu hingga waktu magrib. Kugunakan untuk meraih benda pipih yang sedari pagi hanya aku bawa. Tak ada notif ataupun chat penting. Hanya grup saja yang ramai. Grup Asatidz dan Asatidzah yang terlihat beberapa chat. Kubuka dan k****a. Hanya membahas beberapa materi pembelajaran dan sedikit keluhan mereka. Aku memang jarang nimbrung. Lebih banyak menyimak. Hanya beberapa kali saja ikut membalas. Itu saja bisa di hitung. Mataku tertuju pada sebuah nomor dengan nama WA Al Azhar-kairo. Aku sangat yakin jika itu pasti nomor Azmi. Selama berkenalan sampai akhirnya di jodohkan. Belum pernah sekalipun kami saling berchat secara pribadi. Kami hanya tergabung di grup chat satu itu saja. "Apa aku chat dulu?" pikirku dengan masih memandangi nomornya. Mungkin dia kesusahan menemukan nomorku. Terlebih aku memang tak memasang profil di WA. Hanya ada gambar wanita kartun berhijab. Bahkan nama di WA saja aku kasih nama Mochi. Kucing kesayanganku yang sudah lama meninggal. Ragu. Aku tarik ulur untuk mencoba mengetik pesan padanya. Bimbang antara Iya atau tidak? Sebenarnya ingin memastikan jika dia benar-benar akan melamarku. Kulempar ponselku di kasur. Tak perlu aku jatuhkan harga diri untuk menghubunginya lebih dulu. Jadi nanti mereka berfikir jika aku sangat menginginkan pertunangan ini. Saat akan beranjak, ponsel berbunyi. Aku langsung melihat pada layar. Tertera nomor baru tapi, hati ini tiba-tiba terjadi gemuruh. Tentu, karena melihat foto di ponsel. Foto yang sama saat aku klik nomor Azmi tadi. Atau jangan-jangan? Azmi tahu jika tadi aku ingin menghubunginya. Bukankan seorang hafidz itu memiliki Indra keenam? itu yang aku dengar, jika penghafal Al Qur'an akan memiliki kelebihan. Salah satunya telepati. Entah kebenarannya. Dengan gemeteran aku mengeser layar. "As-Assalamualaikum," ucapku dengan gugup. "Waalaikumsalam." dari sana terdengar suara khas Azmi. "Dengan Intan?" tanyanya kemudian. Basa-basinya basi banget. "Iya." "Memastikan saja jika aku tak salah nomor. Habisnya foto profilnya hanya anime dan nama akunnya juga aneh. Kaya kueh khas Jepang?" Aku mengerutu. Dia sedang menghina atau apa? "Maaf." hanya kata itu yang mampu keluar. Padahal di d**a sini sudah bergemuruh mendengar penghinaannya. "Sudah ngga papa, lain kali permudah urusan orang menemukan nomor kamu. Setidaknya kasih nama akun sesuai namamu atau yang bersangkutan dengan kamu seperti ..." "Seperti punyamu?" aku memotong ucapannya. "Al Azhar-Kairo? apa mungkin yang ngga tahu kamu pernah kuliah disana bisa menebak itu kamu?" Terdengar kekehan disana. Dia itu memang menyebalkan. Ngga ada yang lucu. "Seperti kamu juga sedang mencari nomorku? hingga tahu nama di akun WA." Duh ... ketahuan! "E-enggak kok. Cuma tahu aja di grup kemarin yang ngga sengaja aku lihat!" elakku. Tentu tak mungkin aku berterus terang. Nanti dia GR dan terbang tinggi. "Kupikir tadi kita sehati. Sama-sama sedang mencari nomor." Mataku membulat. Dia lagi nggak ngegombalkan? Intan, sabar ... jangan kemakan. Pasti dia sedang modus. "Hahaha ... ngga lucu, Pak!" jawabku jutek. "Owh, gitu ya. Aku di kira sedang ngelawak. Oh, ya. lebih baik kita bahas tujuan menelfon." Mode serius. "Jadi apa yang membuat Pak Azmi menelfon?" to the point'. udah keburu nervous. "Aku hanya ingin menyampaikan seperti yang sudah Umi sampaikan kepada Ayah dan Ibu Intan. Bahwa satu minggu lagi, tepatnya hari Sabtu, kami akan datang kerumah untuk melamar." Yes! Yes! Aku mengepalkan tangan. mengangkat kemudian menurunkan dengan menekuk dan mengucapkan kata "Yes" karena bahagia. "Hallo, Intan? masih disitu?" tanya Azmi membuat aku tersadar. Untuk panggilan telfon biasa. Coba kalau VC, pasti ketahuan expresi gilaku ini. "I-iya, Pak. aku masih disini. Tadi ada nyamuk jadi ngga fokus dan nepuk nyamuk itu," ungkapku dengan terbata. "Oh ...Iya. Bagaimana? kamu ngga keberatan kan, menerima lamaran ini?" Azmi menayakan hal itu? tentu aku tak keberatan hanya saja di sisi hati yang lain masih ada sedikit rasa penasaran yang belum terungkap. "Ti-tidak, Pak. Kami akan persiapkan semuanya. Insya Allah kami sambut dengan baik." "Alhamdulilah ... kalau begitu aku matikan dulu ya. Sampai bertemu Minggu depan." Telfon dimatikan. Aku tersenyum sendiri. Mengingat akan hal yang akan datang. Tak menyangka jika aku akan secepat ini move on dari masa lalu yang perih dan akan membuka lembaran baru. Aku masih tak henti-hentinya tersenyum. Ponsel masih kupegang dengan erat. Bahkan sesekali aku peluk. Semoga aku dan Azmi langgeng sampai Kakek-nenek. Kembali membuang kejenuhan. Rasa penasaran pada Azmi yang masih kuliah atau masih ABG membuat aku ingin mencari akun media sosialnya. Tentu sedikit sulit untuk mencarinya. Namun aku tak kehilangan akan. Aku berteman dengan adiknya Kifa, hingga pasti Azmi juga berteman. Selama hampir satu tahun, baru hari ini aku kembali membuka aplikasi pemilik sejuta umat berwarna biru. Ketemu! Dengan hati senang, aku mencoba membuka f*******: milik Azmi dengan nama Azmi Askandar tertera. Foto profil pemandangan seorang pemuda di sebuah ketinggian menatap keluar dengan hamparan pasir di malam hari. Itu foto yang cukup indah menurutku. Aku yakin dia itu Azmi. Setelah puas melihat foto profil, aku beralih untuk melihat statusnya. Sayang entah dia jarang bikin status atau memang di privasi hanya dibagikan untuk temannya saja. Namun, mataku tertuju pada sebuah akun yang men-tag Azmi. Akun seorang perempuan tentunya namun, mata ini menangkap sebuah harapan disana. "Kutunggu janjimu kembali di Kairo ini." foto sebuah tempat yang tentu asing bagiku dengan sesosok wanita bercadar yang kuyakini dia sangat cantik. Akun itu bernama "Salsabila"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN