Gegas aku menarik tangan Ajeng.
"Bentar ya, Wi, Shin. Aku ada urusan!" pamitku pada mereka dan langsung menuntun Ajeng menjauh dari teman-temanku.
"Maaf sebelumnya, Jeng. Bukan maksud aku tak sopan menarik tanganmu. tapi, ada hal yang ingin aku sampaikan. Duduk sebentar!" Aku menyuruh Ajeng duduk disalah satu kursi yang tentunya sedikit jauh dari Shinta dan Dewi.
"Ada apa, Mbak? sepertinya calon Mas Azmi begitu malu-malu!" Ajeng mengatakan tanpa basa-basi.
"Bukan begitu, Jeng. Tapi ... sebenarnya tentang hubungan Aku dan Azmi belum ada yang tahu. Itu di karenakan kami ini di jodohkan jadi ... kalau boleh aku meminta, jangan dulu bicara pada orang lain atau ... rahasiakan dulu. Aku tidak ingin jadi bahan gosip nantinya dan juga ... pasti banyak yang akan patah hati jika tahu kebenaran ini. Kamu mengerti kan, Jeng?" Kutatap lekat mata coklat milik keponakan Azmi itu.
Dia cantik dan imut. Gaya bahasanya memang terlihat ramah dan riang. Aku sendiri menyukainya tapi ... rasanya tidak bagus jika banyak yang tahu lebih dulu sebelum aku benar-benar jadi istri Azmi.
"Oh begitu ya, Mbak. Maaf ya, tadi hampir keceplosan. Habisnya aku suka sekali dan dukung Mbak Intan seratus persen dengan Mas Azmi." Dengan semangat ia mengatakan itu.
Kutepuk pundaknya. Memberi ucapan terima kasih padanya. Sebagai calon keluarga, aku sangat menghargainya.
"Ya sudah, Mbak mau makan dulu ya. Pesankan nasi rames pakai telur dadar sama es teh!"
Dia mengangguk, kemudian beranjak dengan membawa nampan. Aku gegas kembali ketempat dimana Dewi dan Shinta yang masih tengah asik mengobrol.
"Ada apa? kamu kenal sama dia?" tanya Dewi penasaran.
"Iya, dia itu Ajeng namanya. Anaknya pemilik kantin ini," jawabku.
"Bukankah dia itu perempuan yang kemarin terlihat mesra sama Pak Azmi ya? yang bikin aku cemburu buta!" Kali ini Shinta yang menimpali dengan expresi yang seperti tengah menangis.
"Eh, tapi kok tadi dia panggil kamu calon kakak?" Shinta menatapku penuh selidik.
"Iya, dia itu mau aku jadi kakak angkatnya. Dia curcol dan bilang cocok sama aku dan ingin punya kakak. Ya ... aku bilang aja jika dia boleh menganggapku seperti kakaknya."
***
Bel sudah berbunyi. Tanda akhir pelajaran sekaligus jadwal pulang. Segera aku kemasi buku-buku di meja dan memberi perintah untuk mulai berdoa. Setelah itu aku menuju kantor.
"Bu Intan, tamu di panggil Pak Ahmad! suruh keruangan!" ucap Ilham saat aku masuk ruangan.
Aku tertegun sejenak. Ada apa? kenapa wakil kepala sekolah memanggilku. Apa aku melakukan kesalahan? dalam hati ini berkecambuk.
"Kira-kira ada apa ya, Pak Ilham?" aku akhirnya bertanya. Untuk meminimalisir rasa penasaran.
"Entahlah, beliau hanya berpesan jika Bu Intan sudah kembali dari mengajar, untuk segera menemuinya."
Aku hanya mengangguk. Rasanya tak mungkin aku mencari informasi padanya yang memang tak tahu apa-apa.
"Baik, Pak. Terimakasih." Aku langsung menuju meja dan meletakan buku. Sejenak menarik nafas dan membuang dengan berlahan.
Semoga tak ada yang serius!
Segera aku langkahkan kaki menuju ruangan yang hanya berjarak beberapa meter dari kantor. Membenahi jilbab dan baju kemudian mengucap bismillah dan langsung mengetuk pintu mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam, masuk!" terdengar suara yang membuat aku langsung memegang hendle pintu.
"Bapak memanggil saya?" tanyaku memastikan.
"Duduklah, saya ada beberapa keperluan denganmu!"
Aku segera meraih kursi yang ada didepan Pak Ahmad. Dia sesosok yang lumayan di segani. Perangainya yang tak banyak bicara namun tetap tegas saat menghadapi situasi yang sesuai kondisi.
"Begini, Bu Intan. Akhir semester sebentar lagi dan saya menginginkan pagelaran melepas siswa-siswi, Bu Intan yang merancang semuanya. Dari jadwal, dekorasi, serta isi acara. Semua saya pasrahkan pada Bu Intan!"
Tentu aku tersentak kaget. Tugas seberat itu kenapa dilimpahkan padaku.
"Bu Intan jangan khawatir. Karena nanti akan dibantu oleh beberapa rekan Asatidz lainya."
Aku bernafas sedikit lega. Karena tentu bukan hanya aku saja yang mengerjakan itu. Bisa di bayangkan bukan? jika pekerjaan seberat itu semua di pasrahkan padaku.
"Akan ada Bu Shinta, Pak Rojikin, Pak Soleh, Bu Indi tapi disini saya putuskan jika ketua dari panitia ini adalah Bu Intan dan Pak Azmi."
Mataku membola. Bagaimana bisa partner kerjaku dia. Bisa mati grogi aku.
"Bagaimana, Bu Intan?" Pak Ahmad membuatku tersentak dari lamunan.
"Ti-tidak, Eh ... I-iya, Pak. Akan saya usahakan sebaik mungkin. Tapi ... apa saya pantas untuk jadi ketua panitia, Pak?" aku ingin sedikit negosiasi. Rasanya masih tak bisa jika harus bekerja sebagai pasangan dengannya.
"Kan ada Bu Shinta atau Bu Indi. Mereka lebih berpengalaman, Pak. Saya jadi panitia biasa saja!"
Pak Akhmad mengeleng kepalanya. Tersenyum dengan ringan.
"Tidak, Bu. Saya percaya kinerja Bu Intan dan Pak Azmi. Pasti hasilnya akan sempurna." ucapan Pak Akhmad membuat aku curiga. Seperti ada perjodohan yang tersembunyi. Apa mungkin Pak Akhmad sudah tahu tentang ....
Ah! aku pusing.
Tidak bisa lagi di bantah apa yang wakil kepsek perintahkan.
Aku keluar dengan lesu. Bagaimanapun juga aku masih dag-dig-dug kalau dekat dengan Azmi. Apalagi ini harus mengurus semua bersama?
"Hey, Tan. Kamu tahu ngga kalau aku jadi panitia pegelaran pentas seni tahun ini dan yang membuat aku bahagia itu ... coba kamu tebak?" Shinta berkata dengan antusias.
"Iya, karena bareng Azmi juga kan?" jawabku langsung dengan loyo.
"Yap! betul. Kok kamu tahu?" tanya Shinta curiga.
"Karena aku juga di pilih dan aku di beri tugas paling berat! huhuuhuu ...." aku mengucek mataku. berlagak seperti anak kecil yang tengah menangis.
"Benarkah? yeeee ... nanti aku ada makcomblang, yang bisa buat deketin aku dan Azmi!" Shinta jingkrak-jingkrak. Aku hanya mengeleng kepala.
Segitu cintahkah dia pada Azmi? Aku jadi berkecil hati.
***
"Assalamualaikum, Ibu, Ayah ... Intan pulang!" ucapku yang langsung nyelonong masuk.
"Waalaikumsalam, Nduk. Tumben pulang terlambat?" tanya Ibu.
Aku meletakan tas di kursi ruang tamu dan membantingkan bobot di sofa.
"Iya, Bu. Intan mulai banyak pekerjaan karena sekarang Intan menjadi ketua panitia untuk pegelaran pentas seni kelulusan." Aku menjawab dengan menghela nafas.
"Jangan merasa jadi beban, Nduk. Lakukan semuanya dengan iklas agar kamu tak merasa kelelahan." Ibu mengusuk punggungku.
Dia tidak tahu jika anaknya ini bukannya tak iklas. Hanya saja kerja tak fokus karena nervous dekat dengan Azmi.
"Iya, Bu. Oh ya Ayah kemana? kok ngga nyambut Intan pulang!" cicitku. Karena Ayah juga biasanya akan menyambut aku setelah aku ucapkan salam.
"Beliau sedang ngisi kajian di masjid Nurul Huda didesa sebelah."
Mendengar ucapan Ibu aku langsung mendongkrak. Setelah beberapa waktu lalu setelah kejadian pernikahanku yang membuat malu keluarga. Ayah tak lagi mau menerima job untuk mengisi kajian atau sekedar ceramah di manapun. Bahkan biasanya setiap Jumat mengisi khotbah di masjid terdekat saja, ia sudah tak mau melakukan.
Tapi ini?
Apa ayah sudah melupakan semuanya. Aku bersyukur jika benar begitu. Artinya ayah sudah sembuh dari trauma atas hinaan Mas Doni dan keluarga yang selalu membawa-bawa tentang agama.
Alhamdulilah.