Entah kenapa pikiranku tak tenang, mengingat tadi. Bagaimana Azmi jadi pelayan bersama seorang perempuan muda.
Aku salut si ... Dia mau bekerja apa saja, apalagi membantu, tapi yang membuat aku risau ...?
Ah! kenapa aku cemburu? Lagian belum tentu dia benar-benar jadi jodohku. Aku saja masih Insecure untuk menikah lagi. Bayangan malam pertama dengan Doni yang kurasakan indah ternyata harus berakhir dengan pilu hanya karena secuil noda yang dianggap sebagai simbol kesucian.
Aku bukan wanita pezina. Tak sekalipun aku melakukan hal yang dilarang agama. Kupikir Doni juga tahu itu, hingga berkali-kali dia merayu sebelum kita menikah namun aku menolak.
Apa itu yang membuat Doni begitu marah? mengira aku hanya mengelabuinya bahwasanya aku sudah ternoda dan takut dia akan meninggalkan aku sebelum pernikahan?
Sudahlah! aku harus melupakan kenangan pahit itu. Pengalaman yang tak akan terlupakan sepanjang hidupku dan kini aku harus memulai hidup yang baru.
"Mbak!" panggil Dek Kifa saat aku tengah berjalan menuju ke kelas. Anak ini memang sering berkeliaran di sekitar yayasan.
Aku menengok. Terlihat dia sedang berjalan bersama ... perempuan tadi?
"Iya, Dek?" aku tentu menghentikan langkah.
"Nah ini, Jeng. Bakal calon istri Mas Azmi!" ucap Dek Kifa langsung membuat aku melongo.
kenapa juga iya kenalkan aku pada pacarnya Azmi.
"Mbak, kenalin ini Ajeng. kita sepupu anaknya Bulik Hindun. Itu loh yang jualan di kantin sekolah." Dek Kifa menjelaskan. Mungkin tahu jika expresi wajahku tak biasa.
"Oh ... Intan!" aku mengulurkan tangan. Entah kenapa ada rasa plong di dalam hati sini. Mengetahui jika mereka hanya sepupu yang artinya tak mungkin punya hubungan.
"Ajeng." Dia juga mengulurkan tangan. "cantik pisan calon kakakku ini. Mas Azmi ngga salah pilih. Emm ... tapi yang jelas akan ada yang berkurang dari Mas Azmi padaku. hikzz." Ajeng pura-pura mengucek matanya layaknya menangis.
"Kenapa?" tanyaku memegang bahunya."ngga akan ada yang berubah dari Pak Azmi pada kalian walau kita sudah menikah."
Aku berusaha menenangkan.
"Benar ya, Mbak. Soalnya Mas Azmi itu udah kaya kakak kandung sendiri. Sedari kecil kami sudah biasa di asuh olehnya. Dia itu sangat penyayang anak-anak." celoteh Ajeng. Aku hanya mendengarkan secara segsama.
"Iya, Dek. Tenang saja."
"Iya, Jeng. Kamu ngga perlu khawatir. Justru pasti akan lebih seru karena kita punya Kakak perempuan yang bisa kita ajak curhat tanpa terhalangi rasa segan." Kali ini Dek Kifa yang bersuara.
Kami semua tersenyum. Saling mengangguk. Rasanya jadi tak sabar ingin menjadi kakak mereka. Semoga saja semua berjalan dengan lancar dan tanpa kendala. Azmi menjadi Imamku untuk selamanya dan yang terakhir.
Do'a aku panjatkan. Semoga aku dapatkan kebahagiaan yang hakiki baik di dunia maupun di akhirat.
***
"Subhanallah ... Aku kesiangan!" ujarku yang baru saja membuka mata. Sudah pukul lima lebih saat aku melihat jam didinding.
Segera aku berlari kekamar mandi mengambil air wudhu dan salat. Aku memilih ke mushala kecil di rumah dari pada di kamar. Terlihat Ayah dan Ibu yang sedang duduk di meja sambil menikmati minuman.
"Ibu kenapa ngga bangunin Intan salat subuh?" ujarku dengan sedikit kesal saat selesai salat.
"Maaf, Nduk. Ibu pikir kamu sudah salat didalam kamar, karna pagi tadi kamu masuk kamar pakai mukena."
Aku memang baru terlelap pukul tiga dini hari setelah tadarus Al Qur'an dan juga salat malam. Aku memang sedang mendekatkan diri pada sang pemilik jagad raya. Jadi harus lebih dekat dan mendekatkan diri. Siapa tahu DIA langsung Mengabulkan permintaanku yang banyak.
"Tadi itu mata Intan udah berat jadi masuk kamar langsung tidur. Niatnya mau nunggu subuh sebentar lagi malah ketiduran." Aku ngedumel sambil beranjak kedapur. membuat satu gelas teh hangat.
Aku memang anak tunggal, tapi tak ada alasan bagiku untuk harus di manja dan apa-apa diambilkan bagai ratu. Orang tua sudah lelah sedari aku kecil, tak mungkin aku kembali membebani dengan menjadi raja?
Setidaknya tak dapat meringankan beban mereka juga tak menambah. Itu sedikit lebih baik.
"Bagaimana sidang perceraian kamu, Nduk? bukankah hari ini keputusan?" Ayah bertanya. Aku bahkan sampai lupa.
"Nanti pengacara yang akan bawa akta cerainya, Bah. Aku udah pasrahkan semuanya."
Beliau mengangguk aku melanjutkan menikmati secangkir kopi.
"Kata Umi, selesai masa idah sebaiknya mereka segera kita nikahkan!"
'uhuukk!' aku tersedak teh saat Ibu mengatakan akan menikahkan aku segera. Rasanya tak siap mendengar pernikahan.
"Hati-hati, Nduk! minum kok nganti keselek begitu."
Aku segera meraih tissu dan mengelap mulutku yang basah. Ibu ini tidak peka. Anaknya kesedak karena mereka membicarakan tentang pernikahan.
"Bu, Pak ... kalau Intan boleh jujur, Sebenarnya Intan belum pengen nikah lagi," ucapku dengan tertunduk. Tak mampu menatap mata Ayah dan Ibu yang pasti sangat mengharapkan anaknya memiliki keluarga dan mereka bisa segera meminang cucu.
"Nduk, apa lagi yang kamu ragukan dari Nak Azmi? Sudah saleh, baik, berbakti dan juga gagah. Coba kamu pikirkan, Nduk! laki-laki yang sangat memilukan ibunya tentu akan sangat menyayangi istrinya. Ayah yakin itu! jadi lebih cepat bukankah lebih baik. Kalian bisa pacaran setelah menikah dan itu akan lebih indah."
Apa yang dikatakan Ayah memang ada benarnya. Aku sendiri tak bisa memungkiri satu hal yang Ayah sebutkan itu. Azmi terlalu sempurna dimataku. Aku justru Insecure di buatnya.
Tentu aku tak dapat membantah. Hanya kupersiapkan diri jiwa lahir dan batin. Semua akan aku jalani dengan hati-hati walau semua telampau cepat.
*
"Tan, Ngantin Yukk!" ajak Shinta dan Dewi. Aku yang masih menyelesaikan hasil nilai anak-anak menghentikan aktivitas.
"Aku masih sibuk nih, bentar ya. Kalian duluan saja!" ucapku agar mereka pergi lebih dulu. Karena kalau menungguku sudah pasti akan kepotong istirahat mereka dan akan makan tergesa-gesa. Biar aku menyusul saja setelah semuanya selesai.
"Beneran ya, nanti nyusul!" Shinta dan Dewi beranjak. Aku mengangguk mengiyakan.
Sepuluh menit kemudian akhirnya aku bisa menyelesaikan pekerjaan. Masih ada waktu dua puluh menit untuk mengisi perut dan menyusul teman-teman.
Di kantor sedikit lengang karena sebagian memilih istirahat dan makan di luar. Hanya ada beberapa asatidz yang mungkin sedikit sibuk seperti aku.
Gegas aku tak ingin membuang waktu. Menyusul kedua temanku yang sudah lebih dulu di kantin mengisi perutnya.
Sedikit tergesa menuju kantin. Menyapa setiap Asatidz yang lewat walau hanya sekedar menundukan kepala.
Tiba di kantin langsung menuju ke tempat makan Shinta dan Dewi. Mereka sudah menghabiskan sebagian makanannya.
"Halo, Calon Kakak!" sapa Ajeng yang membuat aku sedikit terkejut.
Tentu bingung dan akan jadi banyak pertanyaan pada Shinta dan Dewi jika mereka tahu kalau Ajeng itu adalah sepupu Azmi dan masalah sebutan Kakak juga.
Aku belum siap jika harus mematahkan hati Shinta tentang kenyataan aku dan Azmi. Juga tak mau jadi bahan gosip sebelum semuanya benar-benar terjadi.
Duh ...!