Terlampau Senang

1111 Kata
Setelah kejadian di taman itu, aku tak berani menyapa. Pasalnya dia langsung pulang saat bajunya basah karena semburan air dari mulutku. Aku tak salah! Dia sendiri yang meledek. Kenapa pakai acara bilang kalau minumannya sudah di kasih obat perangsang? Di Yayasan, kami berpapasan dan aku memilih menghindar. Saat akan tengah memfotocopy sebuah dokumen dan beberapa berkas. Aku bertemu dengan Dek Kifa yang juga berkepentingan sama. Memfotocopy. "Mbak Intan," sapa Dek Kifa. "Eh, Dek Kifa, ngapain?" tanyaku dengan senyum mengembang. "Ini, Kak. fotokopi KTP mau buat daftar kuliah," ujarnya. Aku hanya mengangguk. "Gimana baca novelnya? Seru nggak, bagaimana akhirnya Gus Birru dan Alina. Soalnya kemarin belum selesai baca udah tak kasih Pak Azmi katanya kamu yang mau baca." "Gus Birru? Aliana? maksud Mbak Intan apa?" "Itu loh novel Hati Suhita. Kemarin Pak Azmi pinjam di taman bacaan buat kamu?" Dek Kifa mengeleng, "Enggak kok, Mbak. lagian aku ngga suka baca novel." Aku tertegun. Kalau bukan untuk Dek Kifa terus untuk siapa? Apa mungkin untuk dia sendiri? Ah, mustahil laki-laki seperti dia itu mau baca novel tema menyentuh hati. Aku memilih diam dan mengalihkan topik. Sepertinya Dek Kifa tak tahu apa-apa. Setelah pulang dari toko fotocopy yang memang berbarengan dengan Dek Kifa. Aku mampir ke rumah Umi Salamah. Sekedar untuk melihat keadaannya. Ternyata Umi Salamah tengah pergi pengajian dan Dek Kifa memang tidak tahu. Aku memilih pamit untuk segera pulang. Saat tengah akan membuka pintu depan. Aku dapat mendengar jika Azmi tengah menelfon. "Iya, kisahnya menyentuh sekali. Aku udah baca separuh belum sampai selesai." Aku mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit. Ada senyum merekah padanya saat mengatakan hal tadi. Tak mungkin dia tengah menelfon teman laki-laki. Ada nyeri di hati ini. Apa aku cemburu? Aku mengelus d**a dan mengucap istighfar. Kemudian memutuskan keluar. "Eh kamu, Tan. Sudah lama?" tanya Azmi yang kulihat mematikan sambungan telfon saat tahu yang membuka pintu adalah aku. "Iya, Tad. saya tadinya mau ketemu Umi tapi ternyata dia tengah menghadiri pengajian. Maaf ya, saya pamit!" ujarku yang langsung meninggalkan rumah. Kudengar dua kali Azmi menyeluk, tapi aku putuskan untuk tak menengok kebelakang. Ada rasa hati yang tak biasa melihat dia tadi tersenyum saat menerima telfon. Aku terlalu berlebihan. Kenapa juga harus cemburu, sedangkan aku dan Azmi akan bersatu atas perjodohan. Jika pun memang nanti Azmi memiliki pacar? bukankah dia memang punya hak? "Intan! sadarlah kamu itu siapa?" Aku berusaha mengingatkan diri. *** "Hari ini rapat jam 11. Katanya ada hal penting!" Shinta berkata padaku yang baru datang. Walau sudah jelas ditulis di papan besar ruang guru, tapi memang kebiasaan Shinta yang selalu setia menginginkanku. "Iya, Shin. kita nanti perginya sama-sama keruang rapat!" ujarku. "Yee ... aku kan mau sama calon imanku!" decis Shinta. Siapa lagi yang disebut calon iman kalau bukan Azmi. Aku memilih diam dan duduk kemejaku. Rapat di mulai. Dimulai pembahasan peraturan baru bagi Asatidz dan staf serta pembahasan baju dan seragam. Terakhir di isi oleh Azmi pembahas tentang tata tertib. Shinta mencolek pinggangku, memberi tahu dengan expresi bahagia jika pujaan hatinya akan berbicara. Aku hanya tersenyum menanggapi antusiasnya. Tak diduga mataku fokus pada tumpukan buku yang ada di depan Azmi. Bahkan buku itu hampir terjatuh saat Azmi mengambil buku paling bawah. Dia membawa buku novelnya? Aku sedikit tertawa saat melihat wajah kaget Azmi saat menyentuh buku novel. Apa dia salah bawa buku? Namun kemudian semua netral. Ia mampu menguasai apa yang disampaikan walau tanpa panduan buku yang mungkin sudah di tulis. Rapat selesai. Shinta memilih pergi dulu ke kantor sedangkan aku ke toilet. rasanya sudah ngga bisa nahan. Gegas aku menuju toilet yang ada di ujung pojok gedung yayasan ini. Yayasan yang memang didirikan ayah Azmi memang cukup besar. Bukan pondok pesantren tapi hanya sebuah sekolah Islam terpadu yang memang tak diragukan lagi tingkat akreditasi. Muridnya di taksir sekitar seribu anak. Tepat saat keluar toilet, Azmi ternyata juga dari sana. Entah memang jodoh atau hanya kebetulan atau jangan-jangan ... Azmi memang membuntuti ku? "Kamu ...?" aku menuding padanya. "Kenapa? apa kamu pikir aku mengikutimu?" tanya menebak apa yang akan disampaikan. Dia mirip canayang saja. Tahu apa yang ada dalam pikiranku. "Tidak ... Aku hanya mau bilang jika kamu itu terlalu terobsesi pada novel sampai saat rapat pun di bawa!" Aku menutup mulut. Dia melotot padaku. Aku justru makin gemas untuk terus meledeknya. "Sepertinya Ustad satu ini kelainan!" ujarku yang langsung pergi meninggalkan dia. "Tunggu!" dia mengejar. Aku tetap berjalan namun dia mengimbangi langkahku. "Kamu jangan main fitnah ya! aku normal dan aku memang membaca novel itu karena ..." Dia menghentikan ucapannya. saat itu juga aku menghentikan langkahku. "Karena?" aku menanyakan kelanjutannya. Dia mengaruk kepalanya. Aku masih menunggu dia untuk melanjutkan kata-katanya. "Ah sudahlah! terserah kamu!" sekarang dia yang pergi meninggalkan ku. Dasar aneh! Aku memilih kembali kekantor yang langsung disambut Shita dan Mei untuk makan siang. Tentu aku langsung mengiyakan ajakannya. Perut sudah lapar dan keroncongan. Suasana cukup ramai karena memang jam istirahat. Kantin sekolah yang memang masih di dalam lingkup yayasan ini, memang pilihan utama bagi para pengajar dan staf disini. Mei memanggil salah satu pelayan yang memang tengah mondar mandir karena cukup ramai. "Iya, Bu. mau pesen apa?" tanya seorang pelayan gadis muda. "Aku mau pesen bakso 3 sama es teh ya!" Shinta yang memesan. Sudah tak perlu di tanya karena tadi kita sudah membicarakan. Shinta yang akan mentlaktir. Kita memang sering bergantian membayarkan makanan. Gadis itu mengangguk kemudian langsung pergi menuju stan bakso. Sebenarnya ada banyak menu dari nasi rames, mie ayam dan soto. Lima menit kemudian gadis itu kembali namun tak sendiri. Karena memang posisiku yang membelakangi stan jadi aku tak tahu jika pesanan sedang di antar. "Pak Ustadz Azmi?" tiba-tiba Shinta berkata, membuat aku yang tengah memainkan posel langsung mendongkrak. Benar saja, Azmi yang datang membawa nampan berisi pesanan bakso kita. Aku terbegong begitu juga dengan Shinta. Bagaimana bisa? seorang Azmi menjadi pelayan kantin. Apalagi kantin sekolah. Azmi tersenyum. Meletakan pesanan kami di meja dengan hati-hati dan dibantu oleh gadis itu. "Silahkan, Bu!" gadis itu menawarkan. Sedangkan Azmi berdiri tegak dengan memegang nampan. "Makasih, Kak!" ujar gadis itu pada Azmi. Aku sedikit melirik tak suka. Ada hubungan apa Azmi dengan gadis kecil itu? "I-itu tadi benar calon imanku?" Shinta berkata dengan masih shock. "Yee ... ngaku-ngaku!" kata Mei. Dia memang berani membantah apa yang di sampaikan oleh Shinta. Sangat berbeda denganku yang lebih memilih diam jika Shinta tengah berkhayal. Shinta menguncang-nguncangkan tubuhku. Aku yang tengah mengaduk bakso sedikit kewalahan. "Walaupun jadi pelayan, dia tetap ganteng!" Shinta mengoceh. "Sudahlah makan! keburu dingin." aku mulai menyuapkan bakso kemulut. Walau aku akui rasa bakso ini sudah berbeda rasa karena melihat pemandangan tadi. Apakah dia wanita yang di telfon Azmi saat itu? tapi ... dia masih terlalu belia. Kupikir paling baru lulus SMA. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN