Tak Terduga

1691 Kata

Allah memang maha adil, melihatkan kekuasaannya secepat ini. Tentang darah perawan ku, terus tentang karma yang di terima Doni? Semua datang begitu cepat, walau nyatanya semua itu tetap membawa luka bagiku. "Siapa ayah dari bayi itu, Hah?" suara Doni masih terdengar dengan keras. Dia memang begitu, kalau sedang marah tak pernah mengenal tempat. Buktinya dulu saat datang di hari kedua pernikahan kita, tanpa melihat tengah banyak tamu, ia mencaci dan memaki kami sekeluarga. Hal itu tak akan kulupakan seumur hidup. Aku sedikit mengintip, melihat reaksi si perempuan yang tengah hamil besar. Mungkin sudah hampir melahirkan. Perempuan yang dulu pernah datang kerumah meminta percepat perceraian kita. Bergelayut manja pada lengan Doni, kini tertunduk lesu. Bahkan sepatah katapun tak keluar dar

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN