Suasana masih hening, belum ada sepatah kata pun keluar dari mulut laku-laki yang telah menganggap ku hina. Kemana keberaniannya? "Nak, Jawab!" kali ini ayah sudah mulai emosi. Nadanya cukup membuat detak jantung berpacu dengan cepat. "Sabar, Pak!" Ibu menenangkan belahan jiwanya. Ia menepuk-nepuk punggung suaminya. "Bagaimana bisa sabar, Bu! anak kita pasti tengah kecewa. Entah apa yang di lakukan oleh dia!" Ayah menunjuk pada Azmi. "Ma-maafkan Azmi, Yah. Selama menjadi suami Intan, belum bisa membahagiakannya," ucap Azmi dengan terbata. Ayah menelisik. "Hanya itu?" Ayah bukan orang yang bodoh. Dia tahu watakku, bagaimana mungkin aku bisa meminta cerai hanya karena belum bahagia. "Ma-maaf, selama ini ... Azmi belum pernah menunaikan kewajiban sebagai suami karena ...." Azmi melirik

