"Apa aku perlu menjawab?" Azmi berucap tanpa menatap. "Tentu, aku harus tahu apa benar hati calon suamiku milik orang lain?" Aku menyenderkan tubuh pada kursi. Menghela nafas yang makin terasa sesak. Bagaimanapun ini menyakitkan. Tentu karena aku sudah cinta padanya. Ah ... wanita memang mudah jatuh hati, tapi juga sangat setia, asal hati tetap di jaga. "Iya!" jawaban tegas Azmi meluluh lantakan perasaanku. Aku membuang muka, berusaha menyembunyikan sesuatu yang membuat mata ini panas. "Kalau begitu, sebelum terlambat sebaiknya kita ...." "cukup!" Azmi memotong ucapanku, "Jangan pernah punya niat untuk membatalkan pernikahan kita!" Aku menyempitkan mata, tak percaya jika laki-laki dihadapan ku ini ternyata keras kepala. Aku merutuki nasib. Bagaimana bisa aku menjalani pernikahan ya

