"Woy! Kenapa kau matikan??" Lilis tampak sangat terkejut saat Dion mematikan panggilan yang terhubung ke Ketua mereka, Liam. Ia menatap Dion dengan kesal, meskipun tenaganya sudah cukup terkuras bahkan sebelum sempat mengomeli Dion.
"Kita tidak boleh merepotkan Kapten. Lagipula, ini hanya zombie tingkat B. Kita bisa menyelesaikannya selama kita bekerjasama," ucap Dion dengan penuh percaya diri.
"Berhenti mengoceh, sialan!" Pria yang baru saja menyerang zombie dengan dua pisau pendek menatap Dion dengan kesal. "Kita tidak bisa menghabisinya bahkan kalau kita banyak! Kita perlu bantuan Ketua!"
Pisau di tangan pria itu tiba-tiba retak dan pecah, sementara zombie itu menggeram dengan marah.
"Lian, mundur!" Lilis menembak kepala zombie itu dengan pistol, namun tembakannya dengan mudah ditangkis oleh zombie.
Tembakan Lilis tidak mengenai sasaran sama sekali. Sebaliknya, itu justru membuat zombie itu semakin marah dan menerjang Lilis, lalu melemparnya jauh ke belakang.
"Lilis!" Lian segera menghampiri Lilis yang terbaring di tanah, tubuhnya penuh luka dan debu.
Dion berdecak kesal, segera mengambil pisaunya dan menyerang zombie itu seorang diri. Ia memanfaatkan kelambanan zombie dan kecepatan tubuhnya untuk menghindari setiap serangan zombie yang datang, lalu menyerang balik. Namun, serangannya hanya berhasil memotong tangan zombie itu.
"Bagaimana keadaan Lilis??" tanya Dion setelah berhasil menjaga jarak dari zombie yang berteriak. Hanya memotong tangan zombie saja sudah menguras hampir setengah dari energi yang digunakannya pada pisau.
"Lilis terluka parah, kita harus segera mengobatinya!" ujar Lian yang kini sedang memangku kepala Lilis yang tak sadarkan diri. Ia menatap Dion. "Cari cara agar kita bisa membunuhnya secepatnya!"
"Oke, aku akan mengalihkan perhatian zombie itu, kau bawa Lilis—"
"Serahkan zombie ini padaku!" Tessa muncul dari arah belakang zombie itu dan dengan cepat memotong lengannya dengan pedang panjang miliknya.
"Tessa, kau terlambat." Dion merasa lebih lega saat kedatangan Tessa.
"Maaf, aku akan segera membereskannya, bawa Lilis lebih dulu." Tessa menggunakan sistem yang dimilikinya untuk mengaliri pedang dengan api, lalu menerjang maju dan menyerang Zombie itu.
Setiap serangan dari zombie berhasil dihindari atau ditangkis oleh Tessa. Sebaliknya, saat kulit zombie mengenai pedang Tessa yang terbakar, kulit itu akan melepuh dan terbakar, membuat zombie merasakan rasa sakit yang luas biasa di seluruh tubuhnya.
Dengan kecepatan yang luar biasa, Tessa merobohkan zombie itu dan tanpa ragu menusukkan pedangnya tepat di jantung Zombie. Ia menginjak perut zombie itu dan menarik pedangnya dengan gerakan gesit, seolah menghapus segala jejak keberadaannya.
Sementara itu, zombie yang baru saja dibunuh berubah menjadi partikel hitam yang terbang di udara dan menghilang perlahan, seakan-akan disapu oleh angin yang tidak terlihat.
Tessa menghela napas pelan, ia duduk di tanah dan berusaha menetralkan detak jantungnya yang berdebar kencang. Sesaat, ia menutup matanya, memberi dirinya waktu untuk menenangkan diri. Setelah beberapa detik, ia menarik napas dalam-dalam, seolah-olah napasnya terhenti sesaat. Tatapannya mengalihkan ke Lilis yang masih tak sadarkan diri.
"Kau baik-baik saja?" Dion duduk di samping Tessa, matanya penuh kekhawatiran. Ia memandang Tessa dengan cemas, tahu betul betapa berat pertempuran itu.
"Aku akan lebih senang jika kau memberiku ramuan penyembuhan daripada menanyai kabarku," jawab Tessa dengan nada tenang, meski sedikit tajam. Tangan kanannya bergerak cepat, mengambil sebuah kristal hitam berkilau seukuran ibu jari yang jatuh dari tubuh zombie setelah dimusnahkan. Dengan gesit, ia memasukkan kristal itu ke dalam penyimpanan sistemnya.
Ia berdiri dengan bantuan Dion, tubuhnya masih terasa sedikit lelah, namun ia tahu waktu mereka sangat terbatas.
"Mau kemana?" tanya Dion, sedikit bingung dengan langkah Tessa yang tergesa-gesa.
"Pulang ke markas," jawab Tessa, mengerutkan alisnya. "Lilis perlu diobati sesegera mungkin."
✧༺⋆✦⋆༻✧
"Kapten, gadis ini…"
"Kau benar-benar membawanya kembali." Tessa menggeram marah, tangannya terkepal erat. Ia melempar pedangnya ke lantai dengan keras, menimbulkan suara dentingan yang memekakkan telinga. Dengan langkah cepat, ia berjalan ke arah Lilith, matanya penuh amarah yang menyala.
Sebelum Tessa sempat meraih rambut Lilith, Liam sudah lebih dulu berdiri di antara mereka. Tangan kuatnya mencengkeram pergelangan Tessa, menghentikan gerakannya dengan mudah. Tatapannya dingin, menusuk seperti es yang memecahkan keberanian. "Apa yang mau kau lakukan?"
Tessa mencoba menarik tangannya dari cengkeraman Liam, namun tidak berhasil. Wajahnya berubah tegang, dipenuhi rasa bingung dan marah. "Apa maksud Anda, Ketua??"
"Jangan coba-coba menyentuh Lilith," tegas Liam dengan nada rendah, namun penuh otoritas. Ia melepaskan cengkeramannya di tangan Tessa, tapi tatapannya yang tajam tetap terarah pada wanita itu, memperingatkannya dengan jelas.
"Ketua! Mengapa Anda membawanya ke sini? Dia tidak tahu apa-apa tentang dunia ini! Dia hanya akan menjadi beban!" Tessa memekik, suaranya yang tinggi dan penuh amarah membuat semua orang di ruangan menoleh.
Dion, yang berdiri di samping Tessa, menatap sang Ketua dan Tessa bergantian. Ia memegang dagunya, pikirannya dipenuhi kebingungan. 'Tessa menentang Ketua? Itu tidak biasa…' Pandangannya beralih ke gadis yang berdiri di belakang Liam. Matanya menyipit, penuh kecurigaan. 'Dia terlihat tidak punya kemampuan. Tapi kenapa Kapten begitu yakin membawanya ke sini?'
Ruangan itu penuh dengan ketegangan yang membeku. Gadis itu, yang berdiri diam di belakang Liam, tampak ragu untuk berkata atau bahkan bergerak. Tetapi tatapan tajam Tessa terus menusuknya, membuat suasana semakin berat.
"Dion."
Suara Liam memotong lamunan Dion. Ia tersentak dan menatap sang Ketua dengan kebingungan. "Ya, Kapten?"
"Bawa Lilith ke kamarnya." Liam hanya melirik Dion dengan datar, sementara Dion tetap berdiri di tempat, ragu-ragu dan tampak bingung.
"Eh, ya…" Dion melangkahkan satu kaki ke depan, namun segera menghentikan langkahnya saat bertemu tatapan tajam dari Tessa.
Tessa kembali menatap Liam, ekspresinya kini berubah, menampilkan luka yang dalam. "Apa kau selalu sebaik ini?" Sindiran itu meluncur dari bibirnya, tapi hanya dijawab oleh tatapan dingin Liam yang tak tergoyahkan.
"Liam…" Tessa menarik napas panjang, dadanya naik turun seiring emosi yang coba ia kendalikan. "Kau berjanji padaku. Aku harap kau tidak akan melupakan janjimu," lanjutnya, kali ini suaranya terdengar lebih tenang. Namun, di balik ketenangan itu, matanya mengungkapkan rasa sakit yang tak bisa ia sembunyikan.
"Te-Tessa, jika kau mau, aku bisa pergi—"
"Diam!" bentak Tessa, suaranya tajam dan menggema di ruangan. Ia menatap Lilith dengan sorot mata penuh amarah. "Kau tidak usah ikut campur!"
Lilith langsung menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan diri agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
"Dion." Suara Liam terdengar dalam dan berat, matanya terpejam sejenak, seolah berusaha menahan luapan emosi.
Melihat raut wajah sang Ketua yang mulai memancarkan kemarahan, Dion segera menarik Lilith menjauh tanpa banyak bicara.
"Kalian berdua, berhenti!" seru Tessa, suaranya bergetar oleh kemarahan dan kekecewaan yang terpendam.
Dion menghentikan langkahnya sejenak, tubuhnya kaku mendengar teriakan itu. Namun, hanya butuh beberapa detik baginya untuk kembali berjalan, kali ini lebih cepat dari sebelumnya.
Ia tahu, meskipun Tessa berteriak penuh emosi, kemarahan Liam adalah sesuatu yang jauh lebih mengintimidasi—dan itu adalah sesuatu yang tak ingin ia hadapi.